16.

12.7K 1.2K 40
                                        

Naya's Pov

Sejak pelajaran Bahasa Indonesia selesei hingga bel pulang, Syahna jadi lebih banyak diam. Apa sih yang lagi dia pikirin? Apa karena tulisan gue tadi pagi? Gue juga masih wondering maksud dia apa bikin syair romansa kayak gitu? Gue tahu dan yakin kalau syair itu emang buat gue, apa gue salah kalau bilang pengen kenal dia lebih jauh?

"Bengong aja Nay, mau ikut ke warung gak?"Aris menepuk bahu gue.

"Oh engga Ris, gue ada urusan," jawab gue seraya melihat Syahna yang sedang merapikan buku ke dalam tasnya.

Gue pun menghampirinya.

"Jadi gak?" tanya gue.

"Oh iya jadi, tapi gue mau ke ruang OSIS dulu," jawabnya tanpa menatap gue.

"Oh yaudah, gue tunggu di depan mading."

"Yaa."

Kenapa deh dia?!

Gue keluar kelas menuju toilet yang letaknya tidak jauh dari mading. Ketika gue masuk ke dalam, terdengar suara isakan tangis seseorang dari salah satu bilik. Gue melihat ke sekeliling, hanya ada 2 siswi yang baru saja keluar sambil mengobrol.

Gue masuk pun ke dalam untuk buang air kecil. Ketika gue membuka pintu bilik toilet, gue melihat Kiara keluar dengan mata sembab. Dia berjalan lunglai ke arah wastafel. Gue mengikutinya dari belakang lalu berdiri di sampingnya. Dia masih menangis.

Gue mengambil tissue dari dalam tas lalu memberikan padanya.

"Nih."

Kiara menoleh dengan sedikit kaget.

"Thank you," ucapnya sambil mengambil tissue dari tangan gue.

"Umm, are u okay?" tanya gue mencoba memerhatikan wajahnya.

Dia hanya menganggukkan kepala masih dengan terisak.

"Umm, tas lo di mana?" tanya gue lagi.

"Di kelas," jawabnya dengan suara parau.

"Oh, lo belum mau pulang?"

Dia hanya terdiam seraya mengusap air matanya.

Gue menghela nafas.

"Yuk, gue temenin ke kelas lo ambil tas."

Dia menatap gue. "Emang... gak apa-apa?"

"Ya emang kenapa?"

"Lo gak mau langsung balik?" tanyanya berhati-hati.

"Nope, gue lagi gak buru-buru."

"Okay."

"Emm, tapi kayaknya lo mesti cuci muka dulu deh, mata lo masih sembab banget."

"Umm, iya," lalu Kiara mengikuti kata-kata gue.

"Udah?" tanya gue lagi melihat dia sedang mengusap wajahnya menggunakan tissue dari gue.

Dia menganggukkan kepala.

"Yuk?" ajak gue.

"Iya."

Kami berdua pun keluar dari toilet dan Kiara terlihat selalu menundukkan kepalanya. Beberapa pasang mata juga melihat ke arah kami, lebih tepatnya ke Kiara.

Kami pun sampai di depan kelasnya. Suasana di dalam sudah mulai sepi, hanya tinggal ada beberapa siswa saja yang masih mengobrol. Kiara kemudian berjalan ke bangkunya mengambil tas miliknya. Sedangkan gue menunggunya di depan kelas dekat pintu masuk.

Lalu tiba-tiba saja entah dari mana, ada seorang cowok berpakaian biasa tidak mengenakan seragam masuk ke dalam kelas. Beberapa siswa yang masih berada di dalam kaget, sama seperti gue. Cowok tersebut kemudian berjalan cepat menghampiri Kiara.

HIRAETHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang