Syahna's Pov
Sudah lebih dari 2 bulan aku tidak pernah lagi berbicara dengan Naya. Jangankan untuk sekadar menyapa, melihatku saja sepertinya dia sudah tidak mau. Kabar tentang hubungannya bersama Kiara juga sudah mereda. Aku rasa, seisi sekolah ini sudah menerima mereka, mungkin hanya aku saja yang belum dan tidak akan pernah bisa.
Seminggu lalu aku kembali ditembak sama anak kelas XI. Ya, dia sama saja dengan laki-laki lainnya yang bilang suka karena karakterku. Nasibnya pun juga sama, aku tolak mentah-mentah.
Untuk saat ini, hanya belajarlah yang jadi prioritas utama. Aku tidak ingin lagi memikirkan Naya, aku harus bisa mengembalikan rasa cuekku padanya.
"Sya, Syahna, ikut ke kantin gak?" Mala menyenggol lenganku.
"Oh engga deh La, gue mau di kelas aja," jawabku.
"Oh yaudah, mau nitip makanan gak?"
"Emmm, air mineral aja."
"Okay, gue ke kantin dulu ya."
"Iyaa."
Aku kembali membuka buku pelajaran dan membacanya. Aku pun merasa bosan lalu memutuskan pergi ke toilet untuk sedikit mencuci muka. Ketika aku masuk ke dalam secara terburu-buru, aku menabrak seseorang.
"Duh, lihat-lihat dong kalo jalan," gerutuku pada orang tersebut.
Dia pun mendongakkan kepalanya dan menatapku.
Shit, it's Naya.
Dia menatapku dengan tatapannya yang super dingin.
"Punya mata makanya dipake," ucapnya.
Aku masih menatapnya dan melihat garis panjang bekas jahitan di lengan kirinya. Sebenarnya aku masih penasaran, hal apa yang sebenarnya terjadi malam itu sehingga membuat Naya terluka parah.
"Bisa minggir? Gue mau keluar," ucapnya lagi membuyarkan lamunanku.
"Oh, iya," sahutku dan dia berlalu begitu saja.
Naya sudah sangat berubah sikap semenjak aku berbicara kelewat batas padanya. Tidak hanya padaku, di kelas pun dia lebih banyak diam dan masih sering bersitegang dengan Bu Ida.
Bahkan beberapa waktu lalu ia juga sempat dipanggil lagi ke ruang BK karena merobek kertas tugasnya yang menurut dia dinilai tidak objektif oleh Bu Ida. Hanya dia yang berani melakukan hal itu di sekolah kami.
Aku masih bisa melihat punggungnya yang berjalan menjauh dari toilet ini. Ah, aku jadi kangen berargumen dengannya. Apa aku harus meminta maaf padanya? Tapi untuk apa, toh dia juga sudah tidak peduli lagi denganku dan dia sudah punya Kiara sekarang.
Pelajaran terakhir berjalan seperti biasa hingga bel pulang berbunyi. Aku melihat ke arah luar jendela, langit mulai mendung dan sepertinya akan turun hujan.
"Sya, lo jadi kumpul sama anak OSIS dulu?" tanya Mala sambil merapikan buku.
"Jadi La, lo balik duluan aja kayaknya gue agak lama," jawabku.
"Oh yaudah, gue pulang duluan ya. Jangan terlalu sore Sya, mau hujan deres kayaknya, lo kan lagi gak bawa mobil."
"Iya, nanti kalo udah selesei rapatnya gue langsung balik."
"Okay, bye Syaaa."
Aku pun bergegas ke ruang OSIS untuk membahas kegiatan study tour yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Pihak sekolah melibatkan seluruh anggota OSIS untuk menjadi panitia bersama beberapa guru yang sudah dipilih, salah satunya ada Bu Reni.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIRAETH
RomanceHiraeth: A longing for a home you can't return to, or one that was never yours. Menceritakan sebuah perjalanan menemukan kembali titik balik yang sudah lama Naya lupakan. Proses panjang pencarian sebuah makna dari kata 'rumah' yang sudah tidak bera...
