30.

11.8K 1.1K 59
                                        

Naya's Pov

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Gue masih menatap Syahna dan Kiara yang sedang mengobrol di atas tempat tidur. Gue cukup bahagia akhirnya mereka bisa menjadi teman kembali setelah kesalahpahaman yang cukup lama. Gue juga yakin pasti di dalam hati mereka, mereka saling merindukan satu sama lain.

Tok..tok..tok

"Permisi Non Naya," terdengar suara Bi Siti dari balik pintu kamar membuat kami bertiga langsung menengok ke arah tersebut.

Gue berdiri dan membukakan pintu kamar. "Iya Bi?"

"Permisi Non, Non Naya dipanggil ke bawah sama Bapak. Bapak barusan pulang katanya minta Non turun sekarang," ucap Bi Siti.

Gue menarik nafas sejenak. "Iya, dua menit lagi saya turun."

"Iya Non, mari."

Gue kembali menutup pintu kamar, Syahna dan Kiara sudah berdiri menatap gue.

"Kita temenin ya Nay," ucap Syahna.

"Iya Nay, kita ikut turun ya," Kiara menyahuti.

"Udah gak usah, kalian tunggu aja di sini. Gue gak mau nanti nyokap gue malah usir kalian."

Sebelah tangan Syahna menggenggam tangan gue. "Kalo ada apa-apa, gue di sini Nay."

Gue tersenyum padanya. "Makasih Sya."

Gue pun turun ke bawah dan berjalan menuju ruang tengah. Sudah ada Papa dan Mama duduk di sofa panjang. Gue memilih duduk di one-seater sofa depan mereka.

Papa menghela nafasnya lalu menatap gue. "Gimana bekas luka kamu?"

"Udah baikan Pa," jawab gue.

"Kapan check lagi?"

"5 hari lagi."

Papa kembali menghela nafas. "Papa udah denger semuanya dari Mama kamu. Papa rasa ini saatnya kamu tahu semuanya."

Gue menatap Papa dan wajah datar. "Hemmm."

Papa diam sejenak, sedangkan sejak tadi Mama terlihat enggan terlibat dalam percakapan ini.

"Maafin Papa karena sudah menyembunyikan ini semua dari kamu. Papa menunggu waktu yang tepat Nak, Papa harap kamu mengerti. Papa..." ucap Papa.

Gue langsung memotong kalimat Papa.

"Udah Pa, Naya gak perlu tahu gimana Papa dulu adopt Naya. Naya juga gak mau tahu masa lalu Naya. Naya cuma pengen hidup tenang Pa, Naya cuma mau jalanin sesuatu yang Naya suka, dan Naya gak mau kalau harus tinggal satu atap sama Mama," ucap gue tegas ke Papa.

Mama terlihat emosi dan ingin menanggapi perkataan gue tapi dihalangi oleh Papa. "Sstt Ma, diem dulu..."

Mama terlihat bergumam namun tidak bisa gue dengar. Papa pun membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah gue.

"Lalu kamu mau tinggal di mana? Balik ke Norway?" tanya Papa dengan lembut.

"Naya mau di sini, tapi tidak di rumah ini," jawab gue.

Papa mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak mau di rumah ini?"

Gue tersenyum sinis. "Karena memang dari awal, this home is never belongs to me Pa."

Papa tersentak mendengar perkataan gue, lalu beliau memijit dahinya sambil menundukkan kepala. Kemudian Papa mengambil nafas dalam menenangkan dirinya.

Papa kembali menatap gue, tapi kali ini dengan tatapan yang lebih tajam dan serius. "Oke, kamu bisa tinggal di mana aja yang kamu mau, kamu masih tetap bisa pakai mobil dari Papa, biaya bulanan kamu juga gak akan Papa kurangi, tapi dengan satu syarat."

HIRAETHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang