Syahna's Pov
Aku mencoba berdiri setelah manusia nyebelin itu pergi gitu aja. Jadi orang kok gak punya hati banget. Salah siapa coba aku sampe harus ikut dipanggil ke ruang BK kalau bukan karena ulahnya dia.
"Manusia nyebelin, gak punya hati, gak punya nurani, gak punya otak, tukang bikin emosi, aaahh Naya nyebelin," gumamku.
"Aduh duh," ringisku lagi. Sepertinya kaki kananku benar-benar terkilir. Rasanya sangat ngilu, susah digerakkan bahkan untuk menopang tubuhku saja sulit.
Aku mencoba berpegangan pada tangga untuk turun perlahan. Namun ketika sudah di anak tangga terakhir, aku hampir kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba ada seseorang membantu menyanggah tubuhku.
Aku menatapnya lekat. Begitu pun dengannya.
"Ngapain dia balik lagi? Bukannya tadi dia pergi gitu aja ninggalin gue?" batinku.
"Ngapain lo liatin gue, buru bangun, berat," ucap si Naya.
Aku langsung berusaha membenarkan posisiku berdiri. Kemudian dia menarik sebelah tanganku dan dirangkulkannya di bahunya. Tanpa banyak bicara, sebelah tangan Naya sudah melingkar di pinggangku lalu dia bantu memapahku berjalan.
Aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya bisa menatap wajahnya dari samping yang begitu tenang. Dengan jarak sedekat ini, aku jadi bisa melihat jelas kalau Naya memiliki bulu mata yang lentik. Dia juga memiliki tahi lalat kecil di bagian bawah ujung mata kanannya. Duh, kenapa juga aku harus memerhatikan manusia menyebalkan ini.
"Heh, udah sampe," ucapnya membuyarkan lamunanku.
"Hah?"
"Udah sampe depan UKS bego," ucapnya lagi sembari melepaskan rangkulannya.
Aku melihat sebuah pintu dengan tanda di atasnya bertuliskan "UKS".
"Kok lo ngatain gue bego?" gerutuku akhirnya setelah tersadar.
Dia hanya memutar bola matanya.
"Buru masuk, bego," ucapnya lagi.
"Ih apa sih lo, ngata-ngatain orang bego."
"Kesel kan lo dibilang BEGO?"
Aku menatapnya penuh kebingungan. Kenapa deh nih orang tiba-tiba.
"Cepetan masuk," ucapnya lagi sambil memegang gagang pintu yang tadi ia buka.
Ah iya, pasti tadi dia kesal karena aku sempat menyahutinya dengan kata bego. Pendendam juga nih orang.
"Hemm," ucapku sambil masuk ke dalam.
Bu Ifa yang baru melihat kami masuk langsung datang menghampiriku. "Kenapa Syahna?"
"Kaki saya terkilir Bu barusan di tangga," jawabku.
"Ya ampun ada-ada saja, coba sini Ibu periksa dulu," ucap Bu Ifa yang kemudian memeriksa kaki kananku.
"Iya Bu."
"Ini kamu kenapa bisa terkilir?"
"Tadi dia jalan buru-buru Bu katanya kebelet mau BAB," sahut si Naya.
Aku langsung memukul tubuhnya yang berdiri di sampingku.
"Ngaco lo. Gak Bu, tadi saya abis dipanggil ke ruang BK tuh gara-gara dia terus pas di tangga saya mau buru-buru ke kelas terus jatuh," jelasku.
Bu Ifa terlihat tersenyum memandangi kami berdua. "Sudah-sudah. Syahna, ini kaki kamu Ibu perban ya. Nanti di rumah harus segera diurut biar tidak semakin bengkak."
KAMU SEDANG MEMBACA
HIRAETH
RomanceHiraeth: A longing for a home you can't return to, or one that was never yours. Menceritakan sebuah perjalanan menemukan kembali titik balik yang sudah lama Naya lupakan. Proses panjang pencarian sebuah makna dari kata 'rumah' yang sudah tidak bera...
