18.

10.7K 1.2K 30
                                        

Naya's Pov

Hari ini sekolah berjalan seperti biasa, hanya saja lebih membosankan entah kenapa. Mungkin karena gue merasa damai tidak ribut atau bersitegang sama si syaiton, tapi kenapa gue malah merasa sedkit...emmm... hampa?

"Nay, bengong aja lo. Balik gak?" Aris menyenggol lengan gue.

"Eh iya, nih gue masukin buku dulu."

Aris mengerutkan dahi menatap gue. "Lo lagi kenapa?"

"Emm? Kenapa apanya?"

Aris masih menatap lalu dia menghela nafasnya.

"Lo tau harus cari gue di mana Nay. Gua cabut duluan ya," ucapnya santai sembari menepuk bahu gue beberapa kali.

Gue tersenyum padanya. "Yes, thanks bro."

Setelah gue merapikan buku ke dalam tas, gue melihat Syahna berjalan bersama Mala keluar kelas. Lalu gue mengikutinya mereka dari jarak beberapa meter. Mereka sepertinya ingin pergi ke suatu tempat. Baru saja gue ingin melangkah lebih jauh, tiba-tiba Kiara datang menghampiri.

"Nay?" panggilnya.

"Eh, iya Ki," sahut gue masih dengan menatap ke arah Syahna dan Mala yang semakin jauh.

"Lihatin siapa?" tanya Kiara.

"Oh, engga. Balik sekarang?"

"Yuk."

Kami pun berjalan menuju parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil. Gue dan Kiara sama-sama menaruh tas di jok belakang. Lalu gue menancapkan gas keluar dari sekolah.

"Itu dari pagi ada tas gym di belakang, kamu nge-gym?" tanya Kiara.

"Engga."

"Lalu? Apa isinya kelihatan penuh gitu?"

"Baju gue."

"Baju? Oh mau dikasih ke orang?"

Gue menggeleng. "Nope."

"Untuk kamu pake?"

"Yes."

"Lho, kenapa kamu bawa baju? Emang kamu gak pulang ke rumah?"

Gue kembali menggeleng.

"Why? Terus mobil ini?"

"Kemaren pas balik dari rumah lo gue pulang ke rumah untuk ambil mobil dan baju. Terus tas gym ini lupa gue taro."

"Kamu gak pulang ke rumah terus tinggal di mana?"

"Gue lagi sewa apartment."

"Sewa apart? Kenapa Nay?"

"Gak apa-apa, lagi males aja di rumah."

"Papa Mama kamu gak nyariin?"

"Nope."

"Kamu lagi ada masalah di rumah?"

"Emmm, ini udah mau sampe rumah lo Ki."

Kiara langsung menatap ke arah luar mobil. Lalu gue menghentikan mobil tepat di depan gerbang rumahnya.

"Nay?"

Gue menoleh. "Ya?"

"Kamu tinggal di rumah aku aja, gak perlu sewa apart."

Gue tersenyum sedikit. "Thanks untuk tawarannya, but I need some space for my own."

Kiara tersenyum memaklumi. Kemudian sebelah tangannya menggenggam tangan gue.

"Yaudah, if you need someone to talk, I'll be your ears."

Gue menganggukkan kepala. "Thanks Ki. Masuk gih, udah mendung banget kayaknya mau hujan deras."

HIRAETHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang