"yaudah. kamu masuk ke dalam. udah malam, cepat tidur." imbuhnya.
"aku gak mau. mau nya di sini aja nemenin kamu sampai kamu pulang." jawabku.
lalu, dia marah.
"kalau kamu tetap gak mau masuk dan tidur, biar aku aja yang tidur di jalanan ini." ancamnya.
dan benar saja, dia sungguh-sungguh berbaring di depan halam rumah ku dengan santainya. dan tak ada malunya, padahal ada banyak teman-temannya malam itu di rumahku.
"hei, bangun." kataku.
tapi dia tak menghiraukan perkataanku itu.
"cepat bangun atau aku marah ya." lanjutku.
sontak dia pun segera bangkit dan duduk di atas paping blok depan halaman rumahku yang tak rata itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Langit
PoesíaDia yang begitu jauh untuk di gapai. Terlalu dingin untuk dicairkan. Dan dia yang selalu menjadi objek kerinduanku. Kerinduan yang tak terbalaskan. -ketika rinduku memiliki banyak ruang untuk mereka yang telah singgah, entah sempat atau tidak pernah...
