"sudah terbukti. kamu pencemburu." ejekku
"kamu yang cemburuan." elakmu
"ha..ha..ha.. sudahlah, mengaku saja. dan lagi aku ingatkan padamu, yang merasa dikhianati biasanya sedang mengkhianati." kataku sekalian menyindirnya.
"dih kata-kata aku itu. dan sudah jelas aku tidak sedang mengkhianati kamu." katamu pungkas.
"iya kan belajar dari kamu hi..hi..hi. dan lalu jika bukan, mengapa selalu merasa cemburu?." iseng-iseng bertanya.
"intinya aku tidak selingkuh." singkatmu.
"dan sudah jelas itu adalah gaya mereka yang tidak percaya diri dan sedang menyalahkan hatinya yang kini sedang berkhianat." jelasku.
aku hanya bercanda. sungguh, aku yakin dia tidak mungkin mengkhianatiku. meski dalam hati kecil ini masih sering bertengkar dengan logikaku yang tak terima dengan sikapku yang terlalu percaya diri.
"kita biarkan saja waktu yang menjawab. aku seperti yang kamu tuduhkan atau tidak." katanya menutup obrolan.
dia itu egois, tapi aku cinta. meski demikian, dia egois karena tak ingin hatiku berbagi pada yang lain selain padanya.
kamu menggemaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Langit
PoesíaDia yang begitu jauh untuk di gapai. Terlalu dingin untuk dicairkan. Dan dia yang selalu menjadi objek kerinduanku. Kerinduan yang tak terbalaskan. -ketika rinduku memiliki banyak ruang untuk mereka yang telah singgah, entah sempat atau tidak pernah...
