🍁🍁🍁
Biru bangun dari tidurnya dikala suara spiker masjid berbunyi. Tak lupa membaca doa bangun tidur, sekejap biru bersandar terlebih dahulu disandaran ranjang sembari memperhatikan wajah terlelap suaminya.
Entah mengapa suasana pagi ini terasa berbeda, mungkin ini efek sindiran tante Indah yang berdampak pada dirinya hari ini, yang menjadi sedikit bad mood.…..
kini Biru sedang fokus melipat mukenah dan alat sholat lainnya yang tadi ia dan suaminya pakai, sedangkan Alby, entah apa yang laki-laki itu lakukan di sofa kamar tersebut.
Kejadian tadi malam membuat dirinya tambah merasa canggung dengan sang suami.
Yuki bersiap-siap turun kebawah, tepatnya ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar suaminya itu.
“Jangan dipikirin kalau ada omongan yang engga enak didengar,” suara itu terdengar, tetapi mata hitamnya masih fokus ke layar canggihnya.
Biru hanya bisa diam saja, entah apa yang wanita itu pikirkan.
“Kita pulang saja kalau kamu masih terus diam seperti ini,” sambung Alby lagi yang melihat tidak ada reaksi apapun dari Biru.
“Aku engga apa-apa kok,” jawab Biru pelan, sepelan mungkin. “Aku mau kebawah dulu, mau bantu-bantu bibi.”
Alby hanya menatap datar sikap istrinya itu. Dalam benak laki-laki itu sangat paham dan tahu bahwa wanita itu sedang menahan sakit hatinya. Tapi untuk Alby sendiri juga bingung, apa yang harus ia perbuat, selain mengerem ucapan tantenya itu. Disisi lain, Alby akan tetap melindungi istrinya itu dari ucapan-ucapan pedas diluar sana, sebab mau bagaimanapun Biru adalah istrinya.
Prinsipnya sekarang, ia boleh melukai hati istrinya tapi tidak untuk orang lain, ia tidak mengijinkan sama sekali untuk orang lain melukai istrinya, kejam bukan prinsipnya.…..
Biru sudah berada di dapur dengan beberapa asisten rumah tangga keluarga Alby yang sudah siap dengan pekerjaannya masing-masing.
Biru juga sudah siap dengan pekerjaannya, yaitu menyiapkan beberapa menu sarapan pagi untuk keluarga besar alby.“Sayang, kamu udah disini aja,” suara lembut itu seketika menghentikan aktivitas biru.
“Assalamualaikum, pagi bunda,” sapa Biru dengan senyum menawannya.”
“Wa'alaikum salam, pagi juga sayang. Mau siapin menu sarapan apa?.”
“Aku cuma buat nasi goreng sama sandwich aja kok bun.”
“Yasudah sini kita kerjakan sama-sama.”
Lalu perempuan beda generasi itu mulai sibuk dengan peralatan masak masing-masing.
Suasana dapur cukup hening, sebab para asisten sudah melakukan pekerjaannya masing-masing, untuk keluarga Alby, entah mereka masih sibuk juga dengan tugasnya di pagi hari, sebab nanti malam di rumah besar milik keluarga Alby itu akan mengadakan pengajian.“Sayang, bunda minta maaf ya, atas ucapan tante Indah tadi malam.”
Sejujurnya Biru yang mendengarnya pun merasa tidak enak.
“Iya bunda, engga apa-apa kok, lagian yang tante Indah ucapkan itu ada benarnya juga kok, jadi engga masalah. Justru harusnya Biru yang minta maaf sama bunda dan ayah, karena belum bisa ngasih cucu buat bunda dan ayah.”
Bunda menghela nafasnya sejenak, sembari tersenyum menatap menantunya itu. “Bunda sama ayah maklumin kok, mungkin kalian juga lagi masa fase pendekatan dan saling mengenal satu sama lain, lagian namanya momongan itu sudah digaris sama Allah, pasti ada saatnya nanti hal itu akan terjadi, kamu jangan memikirkannya terlalu dalam ya sayang.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintaimu [END].
Fanfiction[Cerita ketiga yang dipublikasikan] !DON'T COPY MY STORY! Welcome pembaca baru. Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap cerita... REVISI ACAK!!! ___________ Hanya cerita rumah tangga pada umumnya. Perjodohan yang dilakukan secara paksa. Menika...