Tiga Puluh Empat

31.7K 1.5K 47
                                        

"Lo pada mau kuliah dimana?" tanya Awang serambi meminum kopi hitam yang baru saja ia pesan.

Ardi, Awang, Reza dan Rian sedang berkumpul di salah satu kafe yang biasa mereka kunjungi saat sedang tidak ada pekerjaan. Dari antara mereka berempat, yang paling terlihat kusut adalah Ardi.

"Gue sih udah keterima di Yogyakarta. Gue ngajuin kan SNMPTN." Rian mengambil nachos, lalu memakannya. "Kalau lo mau kemana Di?"

Ardi tersentak dari lamunannya, ia menoleh. "Gue di Singapura." balasnya gelagapan.

Mata Reza menyipit curiga. "Lo mau nyusulin Elle ke sana?" tuduhnya. "Astaga Di, belum nyerah juga lo?"

"Selama nisan belum tertancap, kenapa enggak?"

"Terus lo mau berangkat kapan?" Rian ikut menimpali. "Jangan kelamaan. Ini udah dua hari, Elle nanti bisa di embat orang."

"Besok gue udah gak di Indonesia."

Rian mengangguk-anggukan kepala. "Elle kemarin berangkat jam setengah dua belas kan?"

"Iya." Ardi menjawab tanpa minat.

Ardi bangkit dari kursinya, ia menaruh beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan menarik langkah meniggalkan Awang, Reza, dan Rian yang menganga ditempat.

Ponsel ketiga orang itu bergetar, menandakan ada yang mengirimkan pesan di grup yang beranggotakan empat serangkai. Rian yang terlebih dahulu membukanya.

COGANS (4)

Duar! Ardi: Besok gak ada yang mau nganterin gue?

Rian Ganteng: Ogah! Emang lo siapa?

Reza Kampang: Emang gue supir lo?

Awang Gentong Pertamina: Lo bayar 200k gue baru mau

Rian menutup ponselnya. Ia mendongak untuk memandang Awang dan Reza. "Menurut lo, Elle bakal maafin Ardi gak?"

"Gue gak bisa nyimpulin buat sekarang. Elle itu udah disakitin Ardi berkali-kali." Awang meletakkan ponselnya di atas meja. "Kayaknya buat kali ini, Ardi harus berjuang lebih keras lagi."

Reza mengangguk setuju. "Keenakan Ardi kalau Elle mau nerima dia gitu aja. Gak adil buat Elle." balasnya. "Lagian si Ardi jadi cowok plin-plan banget."

"Semoga Ardi bisa cepet sadar deh, jadi gak ngelamun mulu."

"Gue pulang dulu. Nyokap udah suruh gue pulang dari tadi." Awang mengambil jaketnya yang tersampir di kursi dan memakainya. "Ini uangnya." ucapnya sambil meletakkan dua lembar uang seratus ribuan.

"Rez, kalau lo mau balik juga, gue ikut." ucap Rian pada Reza.

"Lo yang bayar makanan gue." Reza mengambil kunci mobilnya dan melangkah meninggalkan Rian yang terkekeh. "Yeee... Kampang! Ini uang dari Ardi sama Awang udah cukup buat bayar makanan kita semua!"

***

Ardi merasakan telinganya berdengung, pasti ada yang sedang membicarakannya. Ibunya berkata jika telinga tiba-tiba berdengung berarti ada yang sedang membicarakannya. Ardi menggosok telinganya beberapa kali.

"Kamu mau bawa apa aja?" Mrs. Hana bertanya ketika melihat Ardi hanya mengusap-usap telinganya.

"Yang penting aja Ma," Ardi mengambil beberapa foto Elle untuk ia bawa. "Jangan terlalu berat. Kalau di sana bisa beli, gak usah dibawa."

"Kamu bawa baju aja." Mrs. Hana mengambil koper milik Ardi di atas lemari. "Soalnya, Papa udah persiapin semua yang kamu butuhin di Singapura nanti."

Possesive Ex [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang