Tiga Belas

44.4K 2.1K 31
                                        

Setelah tugas Elle mengobati Ardi selesai, ia segera memasuki kelas yang langsung disambut oleh Laras dan Sita. Kedua sahabatnya memandangnya tajam dengan tangan tertekuk di depan dada.

"Gimana yang ngobatin Mantan udah beres?"

"Tambah bonyok apa gimana?" tambah Laras. Untuk apa sebenarnya Elle mau repot-repot untuk mengobati luka Ardi? Membuang tenaga saja.

"Udah lumayan."

"Lo kenapa masih peduli sama dia sih El? jelas-jelas lo denger sendiri kenapa dia mau pacaran sama lo?!" sentak Sita. "Dia jadiin lo taruhan El. Kalau gue jadi lo gue biarin aja itu orang."

Elle menghiraukan Sita dan Laras, kepalanya terasa sedikit sakit hari ini. "Udah Ras, Ta, gue capek." Elle menenggelamkan kepala di tangannya yang terlipat di atas meja.

Hari ini sangat melelahkan, bukan tubuhnya saja yang merasa lelah tapi juga hatinya. Ivan dan Ardi. Dua orang yang pasti akan membuatnya pusing dan membuatnya repot.

"Ya udah lo istirahat aja." Laras memijat pelipis Elle agar gadis itu merasa lebih baik.

"Lo mau makan apa El? gue beliin di kantin Mbak Nana, mumpung masih 10 menit lagi istirahatnya." tawaran Sita dijawab oleh Elle dengan gelengan kepala.

Bel istirahat selesai telah berbunyi, murid-murid berhamburan masuk ke dalam kelas. Beberapa murid membawa makanannya masuk ke dalam kelas untuk dimakan saat pelajaran berlangsung.

"Nanti pulang naik mobil gue aja."

"Terserah lo aja Ta."

"Apa lo mau ke UKS aja? Badan lo panas El, perut lo mual gak? udah sarapan belum tadi pagi? Apa maag lo kumat?" tanya Sita kuatir.

"Udah anterin dia ke UKS aja Ta." Laras meminta ijin kepada bu Tita sang guru BK agar memperbolehkan Elle untuk beristirahat di UKS.

"Ya udah gue antar ya." Sita menuntun Elle berjalan ke UKS.

"Gue tinggal ya El, nanti istirahat gue sama Laras ke sini lagi." ucap Sita setelah membaringkan Elle di ranjang UKS. Sita pergi kembali kelas meninggalkan Elle sendirian di UKS.

Sekitar 15 menit Elle tidur di UKS, tiba-tiba Elle merasa pintu terbuka secara paksa. Di sana muncul dua orang laki-laki tampan dengan tinggi 183 cm dan 187 cm dengan wajah panik. Siapa lagi kalau bukan Ivan dan Ardi?

Elle memejamkan matanya lelah, akan ada perang dunia ke III sebentar lagi.

"El kamu kenapa?" tanya Ardi menghampiri Elle. Ivan juga ikut mendekat ke ranjang Elle membuat Ardi memandang Ivan dengan satu alis terangkat.

"Siapa lo?"

Ivan tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Gue Ivan, pacar Elleonora. Baru pindah kemarin." Ardi hanya memandangi tangan Ivan dan tanpa berniat membalas jabatan tangan dari Ivan.

"Mantan pacar." koreksi Elle.

"El, kamu belum makan? Kok bisa di UKS?" Ivan menempelkan punggung tangannya ke dahi Elle.

Ardi menepis tangan Ivan dari dahi Elle. "Heh Bakwan! Lo gak usah sok cari-cari kesempatan. Enak aja."

"Lo siapanya Elle ya? Kok ngatur-ngatur."

"Gue mantannya, kenapa?"

"Sesama mantan gak usah sok deh lo."

"Tapi gue mantan terindah gak kayak lo."

"Kalau terindah ngapain jadi mantan?" tanya Ivan, menantang.

Mata Ardi melotot. "Berani lo ya? Dasar mantan susah move on!"

Possesive Ex [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang