Ardi masuk ke dalam lift yang di khususkan untuknya, presdir. Ardi harus menghadiri meeting dengan karyawannya. Ardi sudah mengumpulkan seluruh karyawannya yang sudah ia tunjuk segera berkumpul.
Baru saja membuka pintu ruang meeting, suasana yang tadinya biasa saja berubah menjadi tegang. Ardi dengan wajah dingin, dan tatapannya setajam pedang yang bisa membuat lawannya menunduk takut.
"Apa kalian tau kesalahan kalian sehingga dikumpulkan disini?" Ardi berbicara dengan suara rendah yang terdengar menakutkan di telinga. "Saya tidak ingin mengulangi ucapan yang sudah saya ucapkan. Jadi, kenapa kalian tidak menjawab!"
Semua yang ada di ruangan langsung menggelengkan kepala sambil menunduk. Tangan mereka sudah dingin semenjak Ardi datangan dengan aura intimidasi yang sangat kental. Tidak ada yang ingin berbuat kesalahan di depan Ardi. Mereka lebih memilih untuk bertemu dengan Lucifer daripada bertemu dengan Ardi di keadaan seperti ini.
Semua tersentak karena Ardi tiba-tiba membanting satu map setebal enam centi di atas meja. "KALIAN SAYA BAYAR MAHAL BUKAN UNTUK MEREPOTKAN SAYA MENGURUS HAL KECIL SEPERTI INI!"
"T—tapi, kalau boleh saya tanya, apa kesalahan kami Pak?"
Ardi tertawa remeh. "Apa kesalahan kalian?" tanya Ardi sinis. "Kalian bodoh atau apa?! Kalian bisa kalah tender dengan Hendrawan Company!"
"B—bukan begitu Pak, tapi putri Pak Hendrawan sangat sulit dikalahkan. Dia terlalu pandai."
"Kalian melawan saya?!"
Semua yang berada di sana bungkam. Tak ada yang ingin mengeluarkan suara kembali. Ardi memang tipe atasan yang tidak mudah mentolerir kesalahan sekecil apapun.
"Keluar!" ucap Ardi datar.
Para karyawan yang berada di sana segera keluar. Tidak perlu mendengar perintah Ardi untuk diulang. Sebelum Ardi memutuskan untuk memecat mereka semua, lebih baik mereka menghindar.
Ardi merogoh ponselnya yang terdapat di dalam jas yang ia kenakan. Ardi menghubungi sekretarisnya yang berada di lantai 78.
"Apa Di?"
"Ivan, siapa nama anak perempuan Pak Hendrawan?"
"Buat apa?"
Ardi mendengus membalas pertanyaan Ivan.
Ivan terkekeh. "Namanya Rischa. Elleanor Marischa Hendrawan. Umurnya baru 28 tahun."
Ardi tergegau, sejenak. Nama itu mengingatkan ia dengan seseorang. Tapi, secepatnya Ardi menggeleng , nama hampir sama bukan berarti itu juga adalah orang yang sama juga.
Ardi memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan mengirimkan Ivan pesan. Jika ia ingin Ivan segera mengatur pertemuannya dengan Rischa. Ardi ingin menilai, seberapa pintarnya wanita itu, hingga perusahaannya kalah dengan wanita itu.
Karyawannya pasti terlalu melebihkan Rischa-Rischa itu. Paling Rischa adalah satu dari jutaan manusia yang hanya mengandalkan harta dari Ayahnya, Hendrawan.
Hendrawan Company memang selalu dibawah Wijaya Corp, enam tahun belakangan ini. Semenjak Ardi yang memimpin perusahaan ini, yang sebelumnya dipimpin oleh Ayahnya. Tapi, baru kali ini perusahaan Ardi kalah dengan dengan putri dari Mr. Hendrawan. Walau hanya satu proyek tapi Ardi merasa harga dirinya sedikit tergores.
Ponsel Ardi bergetar. Ivan sudah menjawab pesannya. Tapi balasan yang Ivan kirimkan membuat Ardi menjadi geram.
Ivan: Rischa sibuk, jadi kalau mau buat jadwal ketemuan sama dia harus seminggu sebelumnya yang ngomong. So, maunya sekarang gimana?
KAMU SEDANG MEMBACA
Possesive Ex [END]
Novela Juvenil[Sebelum membaca follow akun ini dulu] Elleonora Marischa Putri Elle. Seorang gadis kutu buku, cuek, culun, yang sayangnya pintar dan tajir. Kisah tentang dia yang berpacaran dengan seorang most wanted. Ardi Chandra Wijaya Ardi. Most wanted di SMA...
![Possesive Ex [END]](https://img.wattpad.com/cover/183096012-64-k866315.jpg)