Tiga Puluh Delapan

33K 1.8K 65
                                        

"Mau sate kere Ris?" tanya Derren pada gadis di depannya, Elle.

Seperti yang sudah direncanakan tadi siang, malam ini Elle dan Derren sedang berjalan-jalan mengelilingi Malioboro. Sekali-kali juga Derren menawarkan Elle untuk membeli barang namun selalu ditolak oleh Elle.

"Boleh deh."

Derren mengangguk lalu memesan dua porsi kere untuk dirinya dan Elle. Sembari menunggu, Derren duduk bersebelahan dengan Elle. "Ris?"

"Apa?"

Derren menyorongkan tubuhnya agar dapat melihat Elle dari samping. "Sebenarnya kamu ini anggap aku apa sih Ris?" pertanyaan Derren membuat Elle menoleh pada pria itu. "Sahabat."

"Cuma itu?"

"Ya."

Derren mengambil jemari Elle dan menggenggamnya. "Ris, kamu tau apa yang aku rasain ke kamu selama ini?"

"Aku tau." Elle melepaskan tautan tangan dirinya dan Derren. "Sekali lagi maaf Derren. Aku gak bisa."

Derren mengangguk paham. "Apa ini semua karena mantan kamu?" gumam Derren yang hanya didengar samar oleh Elle.

"Kamu bilang apa?"

"Enggak." Balas Derren lalu ia kembali memutar tubuhnya ke Ibu penjual sate kere. "Sampun Buk?"

"Sudah."

"Pinten?"

Ibu itu menyebutkan harga yang harus Derren bayar. Setelah membayar, Derren kembali mengajak Elle untuk berpindah ke tempat duduk yang lebih luas. Lumayan banyak orang yang sedang berpacaran disini.

"Kamu kedinginan?" Derren menyampirkan jaketnya ke tubuh Elle. "Kenapa tadi gak bawa jaket?"

Elle nyengir lebar. "Lupa tadi."

"Kebiasaan." ucap Derren sambil mengacak-acak rambut Elle lalu merangkul pundak Elle.

"Ayo duduk. Dari tadi berdiri mulu perasaan."

Derren terkekeh dan menarik tangan Elle untuk duduk di bangku yang tersedia. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih pada umumnya. Elle juga selalu tertawa karena lelucon yang Derren lontarkan.

"Jagung bakar mau?"

"Enggak deh. Kenyang."

"Pulang?"

Elle mengangguk dan menutup mulutnya yang mulai menguap. Padahal baru jam delapan malam tapi matanya sudah minta dipejamkan saja. Menjadi CEO ternyata bukan pekerjaan yang mudah untuknya. Waktu istirahat Elle selalu terganggu dengan setumpuk pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Mr. Aland juga sudah menyuruhnya istirahat sejenak. Tentu saja Elle menolak, ia masih ingin memenangkan satu proyek melawan Wijaya Corp. Ia ingin mengalahkan pemimpinnya. Elle memiliki dendam tersendiri pada pemimpin Wijaya Corp, pria yang sombong itu telah merebut kliennya.

Sesama pengusaha di bidang properti dan teknologi, Elle harus berusaha lebih keras lagi jikalau ingin membuat Wijaya Corp berada di bawah Hendrawan Company lagi.

Elle tersadar dari lamunannya ketika Derren menepuk pundaknya. "Ris?" panggilnya. "Kamu lagi mikirin sesuatu?"

Elle menggeleng. "Biasa, tentang pekerjaan."

"Aku kirain." Darren turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Elle. "Silahkan Tuan Putri."

"Besok kamu jemput aku kan?"

"Pasti."

Elle dan Derren berjalan memasuki lift yang berada di dalam parkiran. Derren menekan tombol angka 23, lantai unit Elle.

Possesive Ex [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang