ENAM

12.3K 1.3K 21
                                        

Meeting room RS Medika Raya.

Sudah satu jam dokter Fawaz sebagai Kepala Instalasi Gawat Darurat memberinya ceramah panjang lebar. Mengenai etika dan profesionalisme.

Dan Fara tidak suka itu. Dia sudah menjalankan tugas jaganya sesuai Standar Operasional Prosedur di rumah sakitnya beberapa hari yang lalu.

Akibat sebuah surat complain dari pasien yang dijahitnya di UGD,
dia harus merelakan waktunya mendapat tatapan tajam lelaki yang dikaguminya.

"Kenapa kamu jadi membuat posisi saya jadi serba sulit seperti ini Far?"

Dokter Fawaz duduk di depannya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.

"Tapi saya merasa tidak ada yang salah Dok." Fara membela diri.

"Untuk tindakan jahit, saya melakukannya untuk life saving karena pasien datang dengan perdarahan dan membutuhkan pertolongan segera."

"Tapi setelah itu kan kamu harusnya bisa meminta tanda tangan persetujuan tindakan setelah itu."

Baru kali ini nada suara lelaki ini, meninggi di depannya.

"Pasien saat itu tidak tanda tangan. Tapi ada temannya yang menandatangani persetujuan tindakan."

Fara berujar lemah.

"Dan itu adalah poin kelemahan kita. Tuntutan lainnya adalah dokter bersikap kasar saat sedang menjahit luka pasien.

Far... Kamu benar-benar tidak tahu dengan siapa kamu berurusan? Lelaki ini adalah Zaviyar Zain.

Dia pengusaha muda yang memiliki bisnis properti terbesar di Indonesia dan dengan mudah ia bisa menuntut rumahsakit kita, sampai masuk ke meja hijau."

Rasa kesal di hati Fara mulai memuncak melihat dokter Fawaz memarahinya sampai seperti ini. Dia sudah seperti disidang empat mata.

"Bagi saya, dia hanya pasien biasa yang sama seperti pasien lainnya. Kalau memang dia menuntut macam-macam, saya akan menghadapinya Dok." Fara berujar santai.

Dokter Fawaz meremas rambutnya sambil masih menatap Fara dengan pandangan kecewa.

"Itulah yang sering saya nasihati dari kamu Far. Coba kendalikan emosimu saat menghadapi pasien. Perlakukan mereka dengan shabar..."

Pembicaraan mereka terhenti saat pintu diketuk. Pak Ali Barnowo, Ketua bidang humas dan advokasi rumah sakit, masuk ke dalan ruangan.

"Bapak Wisman, pengacara dari pihak Pak Zaviyar sudah datang Pak. Mereka sudah menyiapkan surat tuntutan ke rumah sakit."

Dokter Fawaz memberi kode agar tamunya diminta untuk menunggu sebentar.

Baru kali ini Fara benci melihat sosok lelaki yang pernah dikaguminya dulu. Dokter Fawaz bahkan tidak membelanya sedikit pun.

                              ❤❤❤

Sepekan setelah hukuman skorsing libur jaga yang diberikan oleh rumahsakit, Fara kembali dipanggil oleh Dokter Faris.

Fara masih menikmati hari liburnya di rumah meskipun kedua orangtuanya sempat keheranan mengapa Fara yang biasanya sering jaga di Rumahsakit, tiba-tiba menjadi orang rumahan.

Terpaksa dia mengatakan mendadak mengambil cuti, karena tidak ingin Ayah dan Bundanya kepikiran mengenai fakta yang sebenarnya.

Gadis itu masih mencuci baju dan menjemurnya di halaman belakang, saat telepon dari sekertaris Direktur, berdering.

Kini Fara sudah duduk manis, menunggu di depan pintu. Feelingnya, kemungkinan dia akan  dikeluarkan dari rumahsakit, terkait tuntutan dari Pak Zaviyar yang terhormat.

Dia sudah pasrah, bahkan kini gadis itu sudah mulai browsing untuk mencari pekerjaan yang baru, bersiap untuk kemungkinan paling pahit.

Fara adalah segelintir dari populasi siswi yang beruntung bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang S1 fakultas kedokteran. Hanya Namira mungkin yang tahu pahit getirnya gadis ini menjalani kuliah sambil bekerja.

Hingga tingkat tiga, Farah masih menjadi guru privat matematika dan IPA untuk dua muridnya yang masih SMP dan SMA. Itu pun dengan susah payah mengatur jadwal antara kuliah, praktikum dan bekerja.

Namira yang membantunya mencarikan beasiswa melalui program CSR perusahaan tempat Ayahnya bekerja. Supaya Fara terbantu dari segi finansial.

Ajaibnya, sejak kuliah, Fara sudah tidak minta uang lagi dari kedua orangtuanya. Uang beasiswa bisa dipakai untuk SPPnya per semester. Sementara uang dari hasil kerja part timernya bisa untuk keperluan buku kuliah dan kehidupan sehari-hari.

Dia sudah ditempa sejak kecil menjadi mandiri dengan Ibunya yang sakit-sakitan. Satu tahun terakhir ini, Ibunya terbaring lemah di tempat tidur karena riwayat jatuh dan didiagnosa pengeroposan tulang derajat berat.
Ayahnya adalah pensiunan kepala sekolah SD.

Inilah yang membuat Namira begitu menyayangi Fara. Mereka sudah berteman sejak kecil. Sudah seperti anak kembar siam. SD, SMP sampai kuliah pun, di tempat yang sama.

Meskipun dari luar, Fara terlihat seperti gadis tomboy dan cuek. Tapi sebenarnya hati Fara bagaikan terbuat dari emas. Gadis ini ringan tangan, baik hati dan kadang tidak tegaan melihat orang lain kesusahan.

Sudah bertahun-tahun, Fara menjadi tempat bergantung kedua orangtuanya dan gadis itu melakukannya dengan ikhlas dan hampir tidak pernah mengeluh.

Mbak Nayla, sekertaris Direktur keluar dari pintu dan mempersilahkan Fara masuk.

"Assalaamu'alaikum. Selamat siang Dokter..."

Dokter Faris menjawab salam dan mempersilahkannya untuk duduk.

"Far, seperti yang kamu tahu, saya sudah mengganggap kamu seperti anak saya sendiri.

Karena kamu beberapa tahun lebih tua dari Fiona. Saya harap kamu ke depannya lebih dewasa dalam bersikap. Lebih bisa menjaga emosi dan menjunjung profesionalisme dalam bekerja.

Entah kenapa pagi ini, datang surat dari Zaviyar company yang menarik surat tuntutannya untuk rumahsakit kita. Itu sangat melegakan saya. Karena saya pun berkawan baik dengan Pak Zulfikar, ayah dari  Zaviyar.

Untuk itu, saya minta kamu mengantarkan undangan pernikahan Fiona ke kantor Pak Zaviyar sekaligus kamu meminta maaf ke beliau dan berterimakasih atas kemurahan hatinya memaafkan kelakuan kamu."

Fara terdiam. Dia tidak pandai menyembunyikan rasa kecewa dan kesalnya karena harus mengalah untuk hal yang menurunkan harga dirinya.

"Baik Dokter, terimakasih."

Tidak lama setelah mendapatkan wejangan lainnya, Fara pergi meninggalkan ruangan sambil sedikit menggerutu.

Namira yang menyusulnya, sudah duduk manis di luar.

"Gimana Far? Kamu nggak jadi diperpanjang skorsing, kan?"

"Lebih parah dari itu. Gue diminta ketemu sama Pak Zaviyar dan minta maaf. Dokter Faris juga titip undangan Fiona buat dikasih ke... Duh malas banget gue nyebut namanya berkali-kali."

Nami memandang prihatin.

"Sekarang aja yuk. Gue antar. Sekalian kita makan siang."

Nami menepuk lembut punggung Fara, menenangkan. Fara hanya bisa menurut. Suasana hatinya mendadak kacau seketika.

                              ❤❤❤

LOVE NEEDS NO REASONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang