TIGAPULUH SEMBILAN

11.2K 1K 42
                                        

*Zaviyar Pov*

Berdua kami menyusuri tanah berpasir putih dan menunggu kapal yang akan membawa menuju pulau Untung Jawa.

Aku merengkuh bahu Fara dan mencium puncak kepalanya yang hanya sebatas daguku. Aroma wangi lavender yang kurindukan, menghadirkan suasana yang membuatku lebih rileks dan ingin selalu berada di dekatnya.

Kapal yang kami tunggu, akhirnya datang. Aku menggenggam jemari Fara erat, membantunya naik ke dalam kapal. Kami memakai pelampung dan memilih duduk di bangku depan yang sedikit basah terkena ombak air laut.

"Smile Honey... "

Aku mengarahkan kamera ponsel untuk mengabadikan momen bersama istriku. Fara tertawa senang. Dia sama sekali tidak terlihat mabuk laut. Aku bahkan baru tahu dari Namira, kalau Fara menyukai pantai.

Beruntunglah, aku tidak keduluan Bobby, kakak Namira. Lelaki itu sempat berkeinginan untuk mengajak Fara jalan-jalan ke Anyer. Namun istriku menolaknya, karena kata Namira, Fara hanya mau pergi berdua denganku.

Tanpa sepengetahuan Fara, aku diam-diam sudah menemui satu per satu laki-laki yang selama ini berusaha mendekatinya. Tentu saja awalnya aku hanya mengundang makan siang untuk memulai pertemanan dengan mereka.

Selanjutnya dengan kepiawaianku berbicara dan kemampuan soft skill yang kumiliki, aku meminta dengan halus, agar mereka menjauh dari istriku.

Di luar dugaan, Bobby kakak Namira, ternyata dengan jujur mengatakan kepadaku bahwa dia menyukai Fara, sejak Fara masih SMA.

Ia bahkan sempat bercanda, kalau suatu saat aku memutuskan berpisah dengan Fara. Dia akan dengan senang hati menerima Fara dan mengajaknya tinggal di Belanda. Apa-apaan itu. Beruntung aku sudah bisa lebih menahan diri untuk tidak terpancing emosi.

Lelaki ini rupanya sengaja mengetes kadar keposesifanku terhadap Fara. Ia hanya tertawa melihat aku berusaha menahan kesal. Dan aku bisa memastikan, perpisahanku dengan Fara, tidak akan pernah terjadi.

Ah ada satu lagi, dokter Fawaz. Lelaki ini juga rival terberatku. Saat Fara masih terbaring sakit, lelaki ini beberapa kali menengok di rumahsakit. Aku pernah menjumpai dia berdiri di depan kaca ruang intensif sambil memandang ke arah istriku.

Ia juga mengatakan pernah menyukai istriku. Namun setelah Fara menikah, ia sudah memutuskan akan mundur dan memilih sendiri kebahagiaan dalam hidupnya.

Yang membuatku tercengang adalah saat dokter Fawaz menyampaikan bahwa ia tidak jadi menikah dengan Fiona, putri dari direktur Rumahsakit tempat ia bekerja.

Ia memilih untuk pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan gadis yang dikenalkan oleh kedua orangtuanya. Aku sendiri tidak terlalu ingin tahu apa penyebab ia tidak melanjutkan rencana pernikahannya dengan Fiona.

Bagiku, jodoh adalah rahasia Allah. Seperti aku dan Fara. Sampai kini pun, aku masih takjub pada takdir yang digariskan oleh-Nya.

Betapa aku sangat mencintai semua yang ada pada dirinya. Senyumnya, tawanya, apa yang menjadi lintasan pikirannya, bahkan ekspresinya saat ngambek pun, menjadi magnet kebahagiaan untukku.

Sesampainya kami di daratan, sebuah spanduk besar bertuliskan "Family Gathering Samara Group" menyambut kami. Dokter Ilman dan istrinya dengan antusias sudah menunggu.

"Mbak Dara ya?"

Fara memeluk istri dr Ilman, yang ternyata adalah pemilik Biro Pernikahan Samara. Aku jadi iri melihatnya. Ingin rasanya menggantikan posisi mbak Dara.

Sudah dua bulan aku tidak merasakan tangan Fara yang memelukku erat seperti anak kucing yang membutuhkan perlindungan dan bersembunyi di dadaku yang bidang.

LOVE NEEDS NO REASONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang