*Zaviyar Pov*
Menghabiskan malam kedua bersama Fara di rumah, ternyata bisa menyenangkan sekaligus menegangkan.
Pasalnya menjelang sholat Maghrib dan Isya, Fara memberi isyarat agar aku memimpin sholat berjama'ah. Aku langsung panas dingin seketika.
Beruntung otak pintarku tidak kehabisan ide untuk pamit kepadanya pergi sholat berjama'ah ke Masjid.
Aku yang biasanya sangat percaya diri, kalau harus diuji bacaan Qur'an dalam roka'at Sholat, mendadak hilang nyali. Karena bagaimana pun, aku harus menjaga image sebagai Imam yang baik untuk Fara.
Terbit rasa menyesal dari diriku, kenapa baru sekarang sadar kalau bacaan Qur'anku jauh dari sempurna. Selepas sholat Isya, aku akhirnya menanyakan ke Bapak-Bapak yang sedang duduk mendengarkan kultum.
Dari mereka, aku mendapat info ada guru mengaji yang datang sepekan sekali, mengisi kajian malam jum'at di Masjid Al-Huda.
Hadeeeuh... Kenapa harus malam jum'at sih pengajiannya. Itu akan mengurangi quality timeku bersama Fara.
"Assalaamu'alaikum Pak Zaviyar. Alhamdulillah ketemu disini."
Seseorang menepuk bahuku. Pak Gunawan rupanya, Pak RTku.
"Wa'alaikumsalam. Gimana kabarnya Pak Gun?"
Aku menjabat tangannya, hangat.
"Alhamdulillah, seperti yang Pak Zavi lihat. Oya Pak, kartu keluarga Bapak sudah jadi. Kapan kalau ada waktu, Pak Maman yang bekerja di rumah Bapak, mampir ke rumah."
Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
"Pak Zaviyar, maaf saya sampai lupa mengucapkan selamat atas pernikahan Bapak. Kapan kalau Bu dokter Fara ada waktu, diajak ikut arisan RT ya Pak. Biar kenal sama Ibu-Ibu yang lain."
Aku meringis. Kasihan sekali istriku. Dia sudah sibuk di rumah sakit, apa masih ada waktu untuk ikut arisan Ibu-Ibu.
Pulang dari masjid, aku menyusuri jalan setapak menuju rumah. Ponsel di saku bajuku bergetar.
Tristan. Ngapain nih anak telepon.
"Halo Bro. Lagi dimana? Gue cariin dua hari lu nggak ngantor."
"Gue lagi honeymoon di rumah."
Suara di seberang terdengar tertawa puas, seolah mengejekku.
"Akhirnya.... Seorang Zaviyar bisa menaklukkan Fara. True story abad ini." songong banget nih bocah.
"Istri gue ternyata cantik banget. Gue nyesel baru tahu setelah sebulan married."
Tawa Tristan pecah lagi, nyaris memekakkan telingaku.
"Wah, lu baru tahu? Pas Fara ospek, teman-teman gue yang jadi panitia sempat ada juga yang naksir dia. Cuma karena nggak ditanggepin, pada mundur teratur.
Lu memang suami beruntung, bisa dapat berlian kayak Fara. By the way, Lu sampai kapan libur, Zav?"
"Lusa Insya Allah gue ke kantor. Padahal gue masih pengen berduaan aja sama dia."
"Pantesan susah dihubungi. Tadinya gue mau ajak investasi di bisnis gue yang baru. Nanti aja deh kalau mampir kantor Lu, gue cerita. Oya Zav, jangan lupa minum STMJ buat ningkatin stamina."
Tristan ngakak lagi.
Aku pernah denger sih minuman kayak gitu, kabarnya bisa meningkatkan kemesraan suami istri.
Masalahnya aku suka enek kalau nyium bau telur. Apalagi telur bebek. Bisa muntah-muntah. Dari kecil aku memang nggak doyan makan telur. Nah ini malah buat minuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE NEEDS NO REASON
Roman d'amour(BELUM REVISI) Di kala takdir hampir berkali-kali mempertemukan mereka, di kala itu pula mereka akhirnya dipertemukan oleh Pemilik semesta. Zavi vs Fara. "Mau tahu alasan gue mau nikahi Lu?" Zavi bertanya dan Fara menanggapi dengan malas. "Kenapa...
