*Zaviyar Pov*
Sebuah foto yang dikirimkan Galang, muncul di layar ponselku.
"Zav, ini istri lu ya? lagi nonton sama teman-temannya."
Kenapa juga Galang dan Kinara adiknya, bisa-bisanya ikutan nonton konser dan posisi duduknya tidak jauh dari Fara.
Fara tampak tertawa bahagia bersama sahabatnya, Namira. Tapi siapa itu laki-laki yang juga duduk di sebelah istriku? Hatiku terbakar melihat istriku berbagi tawa dengan seorang laki-laki lain yang aku tidak tahu namanya.
Tanpa seijinku, lelaki itu seolah memandang ke arah istriku dengan pandangan penuh cinta. Cinta? Pernahkah aku memandang istriku dengan cinta? Aku mengakui, aku memang belum mengenal definisi cinta yang akan kuberikan untuk istriku.
Di dalam kamar, aku berjalan mondar-mandir di depan kaca. Apa yang akan aku tanyakan saat Fara pulang. Apa mungkin aku perlu latihan dulu, supaya emosiku tidak tersulut.
"Fara, kamu dari mana saja?"
Ah tidak, pertanyaan itu akan membuat dia balas marah padaku.
"Gimana Far, nontonnya? Do you have a great time?"
Arrgh... yang ini sudah pasti ketahuan kalau aku kepoin dia pergi kemana.
Terlambat setting pertanyaan. Suara deru mobil terdengar berhenti di depan gerbang rumahku. Aku mengintip dari balik kaca jendela kamar yang sengaja kumatikan lampunya.
Aku penasaran dengan ekspresi Fara saat melihat aku ada di rumah. Istriku masih melambai dengan wajah sumringah ke arah Namira sahabatnya dan kemudian masuk ke dalam.
Dia pasti bingung kenapa rumahku tampak gelap dan sepi. Pak Tono kuminta membawa mobil ke rumahnya dan hanya mengantarku sampai depan gerbang. Bik Yus dan suaminya sengaja aku minta pulang lebih awal. Aku tidak ingin ada yang tahu kalau-kalau malam ini kami bertengkar lagi.
Jam 10 malam. Ini sudah terlalu malam seorang istri pulang ke rumahnya, setelah puas nonton konser musik. Aku mendengar langkah seseorang menaiki tangga dan sempat berhenti sejenak di depan pintu kamarku.
Aku menahan napas ketika bayangan langkah kaki itu mendekati pintu dan mengetuknya pelan.
"Assalaamu'alaikum Mas Zavi.
Selamat istirahat. Semoga besok Mas ingat pulang ke rumah ya."
Kata-kata Fara terdengar lirih. Hatiku terenyuh mendengar suaranya yang menyiratkan kepedihan sekaligus kerinduan saat menyebut namaku.
Apakah aku sudah sebegitu keterlaluan menjadi seorang suami. Tuhan tolong bantu aku menumbuhkan rasa sayangku padanya. Hingga detik ini aku masih belum bisa memiliki perasaan khusus padanya.
Aku masih berbaring di tempat tidur, sejenak memejamkan mata. Dinginnya udara yang mengalir dari air conditioner di dalam kamar, tetap tidak membangkitkan rasa kantukku. Sayup aku mendengar suara gemericik air dari kamar sebelah.
Kami berdua hanya dipisahkan oleh partisi dinding namun jarak kami terasa jauh.
Aku sudah hampir larut di alam mimpi, saat suara pintu kamar istriku terbuka. Terdengar suara seseorang menelepon dan diloudspeaker.
Jam 23.30. Istriku belum tidur. Langkah kakinya terdengar menuruni tangga.
Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati. Entah kenapa hatiku sedikit berdebar karena ingin memulai percakapan dengannya.
Terdengar suara gelak tawa dari arah ruang tamu. Sepasang kaki jenjang menyilang di atas sofa.
"Gimana kabar baby Aufal hari ini?"
"Panggilnya Naufal. Bukan Aufal, Far."
"Lucu kali panggil Aufal. Sehat terus ya Dek."
Terdengar bunyi kecupan lembut di layar ponsel yang sedang dipegang Fara. Aku mengintip dari balik dinding yang sedikit menghalangi tangga dengan ruang tamu.
Begitu Fara berganti posisi dari tidur dan kemudian duduk di sofa, darahku seperti berpindah dari ujung kepala menuju ujung telapak kaki.
Dia kemudian berdiri membelakangiku dengan mengenakan handuk di kepala dan baju tidur terusan berlengan pendek.
Tiba-tiba kepalaku pusing. Detak jantungku bertambah cepat. Benarkah itu Fara, istriku. Aku bahkan baru pertama kali melihatnya tanpa hijab. Pemandangan malam ini berhasil membuatku terpana.
Terdengar Fara masih tertawa sambil bercanda dengan sahabatnya.
"Far..."
"Hmmm... Kenapa Nam?"
"Maafin aku ya. Aku kayaknya yang salah, ajak kamu nonton malam ini."
"Kenapa gitu?"
"Hmmm... Kakakku, tolong kalau dia wa atau sms kamu, nggak usah dibalas. Kayaknya otaknya mulai nggak waras kalau dekat-dekat sama kamu."
"Hah, memangnya Kak Bobby kenapa Nam?"
Jadi, lelaki itu namanya Bobby dan dia kakak dari sahabat istriku. Seketika itu muncul rasa posesif dalam diriku dan aku tidak rela berbagi pemandangan ini dengan laki-laki lain.
"Iya, aku takut Kakakku khilaf dan berbuat aneh-aneh sama kamu. Dia kayaknya... suka sama kamu, Far."
"Ya ampun, nggak mungkinlah Nam. Secara kakak kamu pilot ganteng yang dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Ngapain juga suka sama aku, yang sudah bersuami kayak begini."
"Dia waktu itu pernah beliin kamu bunga ya Far? Aku dikasihtahu sama satpam UGD waktu Kak Bobby anterin hpku yang ketinggalan.
Dia itu terakhir beliin bunga mawar buat mantan pacarnya yang orang Belanda. Far, anggap aja malam ini farewell party sama Kakakku. Nggak usah diladeni ya, kalau dia kirim hadiah lagi."
Fara mengiyakan. Istriku membalikkan badan dan begitu kami saling menatap, ponsel di tangannya terjatuh.
"Mas Zavi???"
Aku melangkah cepat ke arahnya. Antara sadar dan tidak aku merengkuh bahu istriku dan memeluknya erat.
Wangi dari shampoo beraroma buah-buahan, seketika melumpuhkan saraf otakku. Jemariku tanpa sadar meraih handuk yang membungkus mahkota indah milik Fara, dan meletakannya di atas sofa.
Detak jantung kami berdua seolah sama-sama menggila dan untuk pertama kalinya aku membelai lembut pipi milik Fara.
"Mas, pulang dari jam berapa?" suaranya berubah pelan dan wajahnya masih terkejut menatapku.
"Ssst...."
Aku menyentuh bibirnya yang berwarna merah muda, dengan telunjuk tanganku.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba aku mengecup lembut kening Fara dan seluruh bagian wajahnya yang mulai malam ini, menjadi favoritku.
Wajah istriku berubah kemerahan entah karena malu atau karena senang.
"welcome home, love."
Aku berbisik lembut sambil tetap memeluknya erat. Tidak pernah aku merasa sangat nyaman seperti saat ini. Fara hendak melepaskan pelukanku, tapi aku tidak sedikit pun menurutinya.
Aku tidak mau melepaskannya lagi, tidak kepada siapa pun juga. Hanya aku yang berhak menikmati senyum dan kecantikannya yang baru kujumpai malam ini.
❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE NEEDS NO REASON
Romance(BELUM REVISI) Di kala takdir hampir berkali-kali mempertemukan mereka, di kala itu pula mereka akhirnya dipertemukan oleh Pemilik semesta. Zavi vs Fara. "Mau tahu alasan gue mau nikahi Lu?" Zavi bertanya dan Fara menanggapi dengan malas. "Kenapa...
