RS Medika Raya.
Namira baru selesai operan jaga dengan Kamila, dokter jaga shif sore. Dari kejauhan dia melihat Fara tergesa menuju lift.
Dia kangen dengan sahabatnya itu. Mereka sebenarnya sudah berdamai beberapa hari lalu, tapi entah mengapa Fara seperti sedang menciptakan 'bunker' dalam dirinya.
Semuanya terjadi setelah pertemuan terakhir Fara mengikuti sesi ta'aruf dari biro Samara. Bahkan Dara, teman baik Namira juga ikut merahasiakan kelanjutan dari pertemuan itu.
Namira sebenarnya sudah tidak shabar ingin berbagi berita bahagia bersama Fara.
Tadi pagi dia mendapati garis dua di test pack yang baru dibelinya. Dia baru sadar kalau sudah telat menstruasi dua minggu.
Cepat Namira menyusul masuk ke dalam lift begitu melihat lift yang dimasuki Fara berhenti di angka 9.
Rooftop? Ngapain Fara ke rooftop.
Oh tidak, jangan-jangan sahabatnya itu putus asa akan rencana perjodohannya dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan...
Pelan Namira beristighfar dan menghapus pikiran buruknya. Dia mengelus perutnya dengan penuh sayang.
"Dek, do'ain Tante Fara, sahabat Mama. Semoga Tante Fara baik-baik saja."
Begitu keluar dari pintu lift, Namira melangkah mencari wajah Fara. Kakinya terhenti saat mendapati sahabatnya itu ternyata tidak sendirian.
Suara di bibirnya seakan tercekat saat mendengar dua orang yang berdiri tidak jauh darinya, saling berbicara. Namira memutuskan untuk bersembunyi di balik tembok.
❤❤❤
"Ini..."
Dokter Fawaz meminta Fara mendekat padanya.
"Apa ini?"
Lelaki itu meletakkan sebuah kotak beludru berwarna merah hati di atas telapak tangan Fara yang semula menggenggam.
"Untuk kamu, yang selamanya akan ada di dalam hatiku."
Fara terperanjat. Wajahnya berubah pucat.
"Terimakasih Bang. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya."
Fara hendak pergi tapi lelaki itu menahan bahunya. Sekejap Fara melepas lengan kekar itu. Dirinya sebentar lagi akan menikah demikian juga dengan lelaki di hadapannya.
"Far, kenapa harus kamu yang terus-menerus datang di mimpiku. Justru di saat seperti ini, wajah kamu yang selalu hadir."
"Ta'awudz Bang. Mungkin itu mimpi dari bisikan setan."
Fara menatap tegas lelaki di depannya.
"Far, aku baru menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Hatiku sebenarnya menginginkan kamu, untuk jadi istriku."
Lelaki itu dengan gamblang mengatakan sesuatu yang sedetik kemudian membuat air mata Fara menitik.
"Bang, sadarlah. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Sebentar lagi Abang akan menikah. Semoga saat itu tiba, Abang akan mencintai Fiona. Terimakasih telah menyukai aku."
Lelaki itu bergetar. Ia menghapus air mata di pipi Fara dengan sapu tangan di saku jas putihnya.
"Fara, kamu... Kamu menyukai Abang kan? Perasaan Abang tidak bertepuk sebelah tangan kan? Tapi Abang bodoh sekali memutuskan sebaliknya."
"Dulu... Fara menyukai Abang. Tapi setelah Abang memutuskan akan menikah, perasaan itu sudah Fara simpan rapat. Fara juga akan menyusul Abang."
Namira yang masih bersembunyi, tidak kuasa menahan isaknya. Dia tahu sejak lama Fara menyukai sosok dokter Fawaz yang ternyata juga menyukainya.
"Maksud kamu Far?"
"Fara Insya Allah akan menikah Bang. "
Rahang lelaki itu mengeras.
"Kalau Abang memutuskan tidak jadi menikah dan melamar kamu, apa kamu mau jadi istri Abang?"
Itu adalah hal tergila yang pernah Fara dengar dalam hidupnya.
"Istighfar Bang. Jangan pernah lakukan itu, kalau tidak, Fara tidak mau lagi berteman dengan Abang."
"Teman?"
Lelaki itu menegaskan kembali benteng tinggi yang telah dibangun oleh gadis itu.
"Kita masih menjadi teman kan?" Fara menawarkan sesuatu yang akan ditolaknya.
Lelaki itu menggeleng.
"Tidak akan pernah ada friendzone diantara dua orang laki-laki dan perempuan yang saling menyukai Far. Sampai kapan pun kamu akan mengingat hari ini, bahwa Abang selalu mencintai kamu."
Fara terduduk lemas mendengarnya.
Seseorang meneleponnya.
Zaviyar.
"Deadline jawaban kamu adalah malam ini. Lotus Resto, Hotel Andalusia."
Fara bergetar membaca pesan dari lelaki itu.
"Siapa itu Far?"
"Dari calon suamiku."
Fara mengembalikan kotak berisi cincin berlian bermata biru, yang terlihat cantik sesaat setelah pria yang pernah disukainya itu memberikan untuknya.
Namun lelaki itu malah mengambil paksa ponsel di genggamannya.
"Bapak Zaviyar Zain?"
Lelaki itu membaca nama pengirim pesan untuk Fara.
"Stop, kembalikan ponsel aku Bang."
"Ini calon suami kamu?"
Fara menghapus air matanya.
"Far, sejak kapan kamu berhubungan dengan orang ini? Kamu tidak akan bahagia sama dia. Dia hanya akan memandang sebelah mata sama kamu.
Dia itu biasa hidup mewah, dikelilingi wanita-wanita cantik. Sementara kamu yang tampil sederhana seperti ini terlalu berharga untuk menjadi bulan-bulanan dalam hidupnya. Kamu akan menciptakan neraka dengan menikah sama dia Far."
"Please stop... "
Fara merasa lututnya semakin lemah.
"Far... Kalau aku membatalkan pernikahan, kamu mau ya jadi istri aku."
Namira keluar dari persembunyiannya dan menghampiri keduanya.
Dia tadinya sudah berniat memukul lelaki itu yang seenaknya mendekati sahabatnya, setelah membuang jauh perasaan gadis itu dengan mendekati Fiona.
"Fara... Kamu disini rupanya. Aku cari-cariin dari tadi. Selamat siang Dok. Saya ijin mengajak Fara pergi dulu."
Lelaki itu terlihat kaget dan menjadi salah tingkah. Ia tidak menyangka ada seseorang yang melihat mereka berdua. Tidak hanya melihat, bahkan Namira mendengar setiap detail percakapan mereka.
❤❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE NEEDS NO REASON
Romance(BELUM REVISI) Di kala takdir hampir berkali-kali mempertemukan mereka, di kala itu pula mereka akhirnya dipertemukan oleh Pemilik semesta. Zavi vs Fara. "Mau tahu alasan gue mau nikahi Lu?" Zavi bertanya dan Fara menanggapi dengan malas. "Kenapa...
