ENAM BELAS

10.5K 1.2K 10
                                        

Sudah tiga hari ini Fara menghindari Namira. Begitu juga dengan Kak Bobby yang tiba-tiba mengiriminya pesan, meminta maaf. Fara tidak pernah menggubrisnya.

Dia hanya ingin melupakan peristiwa memalukan itu. Memang sebenarnya salahnya juga, seharusnya kalau tidak di dalam kamar Nami, dia tidak melepas hijabnya.

Pagi itu cuacanya sudah ekstrem panas sehingga Fara tergoda menaruh hijabnya di atas sofa.

Saat peristiwa itu terjadi, dia panik dan jadi lupa dimana dia menaruh hijab karena tertumpuk oleh bantal-bantal rajut.

Sampai sekarang Fara masih malu. Dia juga hampir membatalkan rencananya untuk ta'aruf. Mbak Dara sempat menegurnya karena dikiranya Fara hanya main-main saja.

"Jadi sore ini jam 4 ya, di kafe lembayung senja."

Mbak Dara mengingatkannya lagi lewat telepon. Gadis itu sudah hopeless. Dia bahkan tidak menyentuh sedikit pun biodata dari lelaki yang akan bertemu dengannya sore ini.

Siapa pun itu, semoga bisa membawanya ke arah yang lebih baik, jika memang mereka cocok dan berjodoh.

Fara berulangkali mematutkan diri di depan kaca toilet wanita di dalam kafe. Penampilannya cukup rapi. Gamis berwarna soft pink dengan kerudung senada. Dia hanya mengenakan bedak ala kadarnya dan lip gloss agar bibirnya tidak terlihat pucat.

Gadis itu memejamkan mata. Semoga ini yang terakhir dan dia dipertemukan dengan seseorang yang baik.

                               ❤❤❤

Fara melangkah keluar menghampiri pelayan kafe. Menanyakan seseorang yang akan berjanji bertemu dengannya.

"Dengan Mbak Fajar Ramadan? Baik, akan kami antar ke meeting room nomer lima."

Meeting room? Bukankah dia terakhir bertemu Mas Kevin di ruangan terbuka biasa. Mengapa kali ini berbeda.

Entah kenapa gadis itu terlihat ragu dan hampir saja membalikkan badan kalau saja dia tidak melihat pesan yang masuk dari Mbak Dara.

Oh God, ini mbak Dara membuat rasa bersalahnya semakin memuncak jika dia memutuskan untuk mengakhiri saja pertemuan ini.

"Mr Zain sudah datang. Mbak Fara sudah di tempat kan?"

Zain? Duh, nama di biodatanya saja Fara belum melihat. Begitu pelayan bernama Lusi mengetuk pintu, degup jantungnya memompa lebih cepat.

Bagaimana kalau lelaki yang akan ditemuinya kali ini, jauh dari ekspektasinya? Seorang Bapak yang sudah tua atau mungkin malah seorang laki-laki muda yang kutu buku.

Fara membuka pintu dan mengucapkan salam lirih. Sesekali dia memejamkan mata melihat beberapa meter di depannya sudah duduk seorang laki-laki memunggunginya.

Lelaki itu menjawab salam pelan dan mempersilahkannya duduk.

Begitu lelaki itu membalikkan badan, Fara seperti tersengat jutaan listrik dari ekor ikan pari.

"Pak Zaviyar, ngapain Bapak kesini?"

Tanpa sadar gadis itu duduk sambil menatap sadis ke arah lelaki itu.

"Saya mengikuti permainan kamu."

Lelaki muda itu duduk menyilangkan kaki, seperti biasa terlihat angkuh.

"Permainan? Saya nggak pernah main-main. Saya memang kesini untuk satu tujuan. Apa mungkin saya salah ruangan ya?"

Fara hendak berdiri namun lelaki itu mencegahnya.

Seseorang masuk ke dalam ruangan.

"Assalaamu'alaikum. Mbak Fara, maaf terlambat. Saya Aida dan ini suami saya Haidar. Mohon maaf beberapa pekan lalu, seharusnya kami yang mendampingi. Namun waktu itu kami berhalangan."

Suasana canggung langsung tercipta di antara keduanya.

Pak Haidar memimpin pertemuan itu dengan membaca do'a.

Fara ingin menghilang saja rasanya. Dia hilang konsentrasi saat masing-masing harus membaca kembali biodata di depannya.

"Zaviyar Zain,
Tempat tanggal lahir: Jakarta 20 Februari ...."

Lelaki ini bahkan lebih muda tiga tahun darinya. Tapi berani-beraninya bertingkah di depan perempuan yang lebih tua.

Zaviyar berulangkali berkerut membaca biodata Fara. Lelaki itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan baru sempat membaca saat itu juga.

"Hobi: makan, nonton, nyanyi, baca novel.

Hal yang tidak disukai: travelling, makanan pete dan jengkol, asap rokok.

Kekurangan:
Tidak bisa masak, moody, susah bangun pagi, pelupa.

Tipe calon suami yang diharapkan:
Muslim, bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar, sholat lima waktu, setia, penyayang terhadap Orangtua dan keluarga, tidak berperilaku kasar, berkeinginan menikah dan membentuk keluarga Samara di tahun 2019."

Lelaki itu mencocokkan data yang ditulis gadis itu dengan kenyataan yang terpampang di depannya.

Ck.. Ck... Ck... Masih beruntung ada lelaki seperti dirinya yang bersedia terjebak bersama di biro jodoh ini.

Kalau bukan karena ia ingin memenuhi permintaan Papa dan mendiang Mama, ia tidak akan mengikuti proses perkenalan ini.

"Oke, Bu Aida dan Pak Haidar. Sebenarnya saya dan mbak Fara sudah saling mengenal satu sama lain. Kami tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk hal ini. Saya sudah memutuskan akan melanjutkan ke pertemuan keluarga untuk membicarakan tanggal pernikahan."

Zaviyar tersenyum penuh kemenangan.

"Tunggu dulu... Saya punya hak untuk menerima atau menolak kan?

Maksud saya, beri waktu untuk saya Istikhoroh terlebih dulu. Mengingat saya jauh sekali dari kriteria calon istri yang Pak Zaviyar idamkan."

Fara balas tersenyum palsu.

Jemari halusnya masih menggenggam beberapa lembar biodata lelaki itu, dengan kriteria calon istri yang diharapkan oleh pria berwajah putih bersih dengan sedikit cambang halus di rahangnya.

"Kriteria calon istri yang diharapkan:
Muslimah, menarik dari segi fisik dan penampilan, baik dalam segi agama, bisa menyenangkan hati dan menuruti kata-kata suami...."

Dan masih ada sederet kriteria lainnya yang Fara rasa dia tidak mampu memenuhinya.

Fara masih merasa biodata lelaki di tangannya, tidak mencerminkan pribadi laki-laki ini yang sebenarnya.

Gadis itu jadi sedikit menyesal mengapa dia menuliskan dengan jujur semua tentang dirinya termasuk mimpinya berkeluarga, dalam biodata untuk acara ta'aruf.

Seorang pelayan laki-laki masuk dengan sopan dan membawakan mereka minum.

Bahkan teh manis hangat yang sedang diteguknya pelan, bisa berubah menjadi pahit di tenggorokan Fara.

"Oke, saya memberi waktu dua minggu, untuk mbak Fara memutuskan. Bagaimana?"

Zaviyar menatap lurus ke arah Fara yang enggan balas melihat ke arahnya. Dalam hati kecil, lelaki itu juga menyesali keputusannya menempuh langkah seperti ini.

Yang pria itu inginkan hanyalah Papa kembali sehat setelah ia menikah. Papa bisa bahagia. Tidak mengapa mereka menikah tanpa dasar rasa cinta. Toh orang jaman dulu juga banyak yang menikah tanpa cinta, tapi bisa punya banyak anak.

Akhirnya sesi pertemuan mereka berakhir setelah Pak Haidar mengucapkan hamdallah.

Fara bergegas pamit pergi tapi langkah kakinya keduluan Zaviyar. Lelaki itu dengan santai pamit dan meninggalkannya dalam suasana hati yang tak menentu.

                              ❤❤❤





LOVE NEEDS NO REASONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang