•2

267K 18.4K 511
                                        

"Kamu nggak kenal siapa saya?" Jeka bertanya sambil tersenyum sinis menatap Una.

"Oh, iya. Saya belum tau nama dokter..." ucapan Una barusan membuat Jeka tertawa di dalam hati karena ternyata gadis itu memang belum mengetahui dirinya. "Saya Aleyuna, dokter bisa panggil saya Una," cewek itu mengulurkan tangannya, hendak bersalaman.

Jeka ikut mengulurkan tangannya, menyalami Una, "Jeka."

"Di snelli yang dokter pakai tadi nggak ada namanya, jadi saya nggak tau. Maaf," ujar Una sambil tersenyum ramah, "Dok, silahkan ambil surat izin dari atasan. Dokter tau jalannya kan?"

"Saya nggak butuh surat izin."

Una menghela napas untuk kesekian kalinya, mencoba bersabar dengan lelaki di depannya ini, "Dokter perlu surat itu. Kalau nggak, saya bisa kena masalah karena mengizinkan dokter memakai ruang operasi kami!"

"Hm... Gitu ya?"

"Iya."

"Ya udah, anterin saya!"

"Loh?"

"Kenapa? Nggak mau? Kalau gitu, saya nggak akan minta surat izin," Jeka berucap tak peduli sembari memakai kembali jubah putihnya.

Una menghela napas panjang, "Ya udah, ayo saya anter," balas Una lalu melangkah pergi dan diikuti oleh Jeka.

Keduanya berjalan bersamaan menuju lift. Selama mereka melangkahkan kaki, kedua orang itu menjadi perhatian seluruh dokter dan juga perawat yang ada di sana. Bukan hanya itu, bahkan orang yang hanya berkunjung untuk menjenguk pun ikut memerhatikan mereka, lebih tepatnya hanya memerhatikan Jeka. Bagaimana tidak? Pesona dan karisma Jeka ditambah jubah putih dokter yang membuatnya semakin tampan itu membuat setiap orang yang melihatnya jatuh hati.

Beberapa menit kemudian, Una dan Jeka menghentikan langkah mereka di depan sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas dan cukup privasi, sehingga tidak ada yang boleh berada di lantai ini kecuali para dokter dan perawat.

"Di sini..." ujar Una.

"Atasan kamu?"

"Iya, silahkan masuk."

Una memilih untuk mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum memasukinya.

"Masuk..." suara seorang pria terdengar dari balik pintu.

Setelah mendapatkan jawaban, Una langsung melangkah masuk ke dalam sana, masih bersama Jeka yang mengekor di belakang.

"Selamat siang, dok," sapa Una ramah, kemudian mengangguk memberi salam.

"Siang, Dokter Una. Ada perlu apa?" sahut pria bernama Arifan itu sambil menatap bingung pada pria yang berdiri tepat di samping Una.

"Gini... Hm-" Una mulai menjelaskan, tetapi cewek itu terlihat begitu gugup sampai-sampai tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Sebenarnya, dia juga takut kena marah karena sudah mengizinkan Jeka memakai ruang operasi.

"Kita mau minta surat izin, pa..." kata Jeka pada pria itu.

"Hah?!" Una melotot setelah mendengar kata 'Pa' yang keluar dari mulut Jeka.

"Surat izin buat apa? Memangnya kalian mau ngapain?" Arifan mengernyit bingung.

Jeka melirik ke arah Una, "Apa saya masih harus minta surat izin di rumah sakit saya sendiri?" bisik Jeka sambil tersenyum miring.

* * *

Jam istirahat kali ini Una dan teman-temannya memilih untuk langsung pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Dari tadi Syifa dan Deyra tak berhenti menatap Una dengan kening berkerut. Mereka bingung karena dari tadi Una hanya mengaduk makanannya tanpa dimakan sedikitpun.

Doctors In Love ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang