Malam ini, Yeira masih terpaku di atas ranjang. Air matanya tak bisa berhenti keluar setelah kejadian yang baru saja ia saksikan. Orang yang melihat tangisan gadis itu pasti bertanya-tanya tentang apa yang terjadi padanya. Memang, dia dan Jeka tidak terlihat dekat. Tapi selama ini, sepertinya cewek itu mengagumi seorang Jeynando Kastara dalam diam.
Dia begitu mengaggumi ketampanan dan kebaikan Jeka. Selama ini Jeka selalu menyapanya saat berpas-pasan di rumah sakit. Lelaki itu juga selalu mengingatkannya untuk makan teratur dan meminum obat. Yeira bahkan mengetahui siapa yang sedang dekat dengan dokter tampan itu saat ini. Dia juga sering melihat Jeka dan Una yang terlihat akrab di kawasan rumah sakit. Hal itu membuatnya semakin tidak menyukai Una.
"Dasar cewek nggak tau diri! Lo tuh jauh dari kata sempurna, Una!!" teriakan Yeira memenuhi seantero kamar rawatnya.
"Permisi, Dokter Andy nyuruh saya buat nganterin beberapa barang-barang kamu. Katanya ketinggalan di rumah," dokter bernama Victor itu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu.
"KELUAR!" Yeira berteriak lagi.
"Yeira! Saya cuma mau nganter barang-barang kamu!"
"Aku nggak butuh! Buang aja!"
"Terserah! Saya bakalan tetep masuk!" cowok itu berjalan mendekati Yeira.
"AKU BILANG, KELUAR!!!"
"Kamu kenapa sih?! Cuma karena kejadian tadi? Emangnya kamu siapa? Kamu nggak berhak bersikap kayak gini..." ucap Victor.
"Apa?! Aku nggak berhak? Kata siapa?!"
"Kamu nggak punya hubungan apa-apa sama Jeka. Bahkan kamu cuma seorang pasien, terus apa kamu punya hak untuk marah-marah nggak jelas kayak gini?!"
"Kenapa dokter harus ikut campur urusan aku sih?! Emangnya itu penting buat dokter?!"
"Iya! Itu penting. Saya tau selama ini kamu berusaha nyari tau banyak informasi tentang Una kan?!" pertanyaan Victor membuat Yeira seketika terdiam tak percaya.
"A-apaan sih? Ngapain juga aku nyari tau tentang dia? Nggak penting banget!"
"Kamu suka sama Jeka dan benci sama Una. Bener kan?"
"Dokter nggak usah kepo bisa nggak?! Itu nggak penting buat dokter!"
"Penting! Karena, kamu berurusan sama temen-temen saya!"
"Dokter Victor, lebih baik dokter keluar deh! Aku nggak ada waktu buat ngeladenin orang kayak dokter."
* * *
Pagi-pagi buta begini, Una tampak sudah sibuk dengan para pasiennya. Hal rutin yang ia lakukan setiap hari adalah mengunjungi pasien-pasiennya untuk memeriksa keadaan mereka.
"Okay, bu. Minggu depan kalau kondisi ibu sudah membaik, ibu boleh pulang," ucap Una pada seorang wanita tua yang berbaring di atas ranjang rawatnya.
"Iya... Terima kasih, dok!"
"Sama-sama, saya permisi ya bu..." kata Una begitu ramah.
Una melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat pasiennya itu. Dia melihat sekilas jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tapi Una belum juga menemui Jeka, orang yang selalu mengisi pikirannya selama ini.
"Dia belum datang ya? Tumben telat," gumam Una.
"Una!" panggilan itu lantas membuat Una menoleh ke sumber suara.
"Eh, Dokter Victor? Kenapa, dok?"
"Saya mau ngomong!" ujar Victor, terdengar sedikit panik.
"Ngomongin apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Doctors In Love ✔
RomanceSemua perempuan baik dokter, perawat bahkan pasien juga memuja ketampanan seorang Jeynando Kastara, ia merupakan seorang dokter sekaligus putra dari pemilik rumah sakit tempat Una bekerja. Aleyuna Delunica, seorang dokter spesialis bedah yang beker...
