•9

174K 12K 211
                                        

"Hah? Main hujan?!" alis Una tersentak bersama-sama.

"Kenapa? Kamu nggak suka hujan?"

"Bukan gitu, tapi ngapain juga main hujan malem-malem?"

"Sesekali nggak papa kan? Saya udah lama nggak hujan-hujanan."

"Tapi kata mama saya, pamali kalau main hujan malem-malem." Ucapan Una barusan lantas membuat Jeka tertawa geli.

"Dan kamu percaya?"

Una mengangguk sembari tersenyum kikuk, "Iya, he... he..."

"Itu cuma mitos, jangan percaya yang kayak begituan!"

Una beralih menggigit bibir bagian bawahnya, "Dokter beneran mau main hujan?"

"Sebenernya nggak juga. Maksud saya, sekalian pulang dapet bonus bisa main hujan."

Una terkekeh, "Ya udah, boleh deh!"

Jeka tersenyum manis kemudian beranjak dari tempat duduknya. Mereka meninggalkan gudang tua itu setelah sebelumnya mengunci pintu. Derasnya air hujan langsung mengguyur kedua orang itu. Sesekali Una menengadah menatap langit gelap yang sekarang meluncurkan airnya. Senyuman lebar terukir di bibir Una. Seumur hidupnya, baru kali ini Una bisa merasakan guyuran air hujan membasahi seluruh tubuhnya secara langsung. Sebelumnya dia tidak pernah berniat untuk hujan-hujanan, bahkan jika memungkinkan, cewek itu selalu menjadikan barang apapun di sekitarnya untuk menjadi payung jika hujan turun secara tiba-tiba atau mungkin memilih untuk tidak berurusan dengan hujan sama sekali.

Dan ternyata, bermain hujan cukup menyenangkan.

"Dokter, pelan-pelan. Jalanannya licin!" Una mengeraskan suaranya karena derasnya hujan membuat suara cewek itu hampir tidak terdengar.

Jeka menoleh ke belakang lalu mengulurkan tangannya pada Una, "Kalau gitu, pegang tangan saya."

"Hah?"

"Kamu bilang, jalanannya licin kan?"

"Tapi—" omongan Una terpotong ketika Jeka langsung menggenggam tangannya dengan erat. Dia menarik Una untuk ikut berjalan bersamanya. Cewek itu bungkam, tak bisa berkata-kata lagi. Genggaman erat Jeka membuat dirinya bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Setelah terjebak dalam suasana yang menegangkan selama beberapa menit, akhirnya Una bisa bernapas lega saat Jeka melepaskan genggamannya dari tangan Una. Mereka berjalan memasuki teras rumah sederhana tersebut dalam keadaan basah kuyub.

"Dok, tunggu di luar sebentar. Saya ambilin handuk dulu," seusai berujar begitu, Una langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.

Beberapa saat kemudian, Una keluar dengan membawa dua lembar handuk berwarna putih, dia memberikan salah satunya kepada dokter tampan itu.

Setelah Jeka menyambut handuk yang diberikan Una, dia tersenyum seraya memandang cewek itu, "Thanks..."

Una mengangguk dan tentu saja membalas senyuman Jeka, "Kamar tamu ada di paling depan. Dokter bisa tidur di sana."

"Okay... Sampai ketemu besok!"

Una lagi-lagi tersenyum, "Saya duluan, ya. Good night, dok!"

"Night."

Secepatnya, Una berlari masuk ke dalam rumahnya. Pipinya bersemu merah, jantungnya berdebar kencang. Genggaman Jeka tadi membuatnya menjadi tidak karuan. Entah perasaan apa ini, dia juga tidak mengerti.

* * *

Pagi ini, Una, Jeka, dan Karin terlihat tengah sibuk menikmati sarapan pagi mereka di dalam ruangan makan berdesain sederhana. Meski begitu, bagi Una ruang makan ini adalah tempat yang nyaman untuk duduk-duduk atau sekadar menikmati cokelat panas dikala hujan. Dulu, sebelum dirinya tinggal di Jakarta, Una sering sekali menghabiskan waktu di ruang makan ini. Bahkan terkadang, dia hanya duduk manis tanpa melakukan apa-apa hingga larut malam.

Doctors In Love ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang