Mata dengan netra cokelat itu kembali terbuka. Kini Una tergeletak lemas di atas lantai, tidak tahu sudah berapa kali dia pingsan di dalam ruangan ini. Kepala Una terasa berat, tubuhnya juga lemas. Rasa takut kembali menyelimuti Una saat seorang cowok dengan setelan pakaian hitam memasuki ruangan itu. Dia tersenyum nakal seraya memandangi Una. Sungguh menjijikan!
Zaxion duduk di samping Una yang masih terbaring lemas di atas lantai. "Hello, cantik!" sapa Zaxion kemudian tangannya mengusap lembut pipi Una. Dengan cepat Una mengalihkan wajahnya ke arah lain berusaha menghindari sentuhan menjijikan dari pria gila ini.
"Sayang..."
Una semakin panik ketika wajah itu mendekat pada wajahnya. Sangat dekat. Gadis itu segera mendorong tubuh Zaxion dengan sisa tenaganya yang ada menggunakan kedua tangannya yang masih terikat kuat. "Pergi!"
"Ternyata sahabat gue yang satu ini masih bisa ngelawan ya..." ujar Yeira yang dari tadi memperhatikan sambil bersandar pada pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.
"Lo lanjut deh, Ra!" seru Zaxion bertujuan untuk menghemat waktu.
Yeira mengunci pintu lalu berjalan mendekati Una dan Zaxion. Dia memberikan senyuman manis pada Una lalu menarik kerah baju Una, mencoba mengubah posisi gadis itu menjadi duduk.
"Langsung kita mulai aja ya?" kalimat yang keluar dari mulut Yeira membuat tubuh Una bergetar di tempat. Ia sudah terlalu lemas dan tidak bisa berbuat apapun. Kepalanya terasa sakit, bahkan semua tubuhnya terasa sangat lemas. Una sudah pasrah dengan apapun kemungkinan buruk yang akan menimpa dirinya.
Yeira membuka tali yang mengikat pergelangan tangan Una lalu ia membentangkan kedua tangan gadis itu ke samping kiri dan kanannya. Zaxion ikut menahan pergelangan tangan Una, membuat Una bingung dengan apa yang akan dilakukan mereka. Yeira mengambil palu yang sempat ia bawa tadi kemudian memukulkannya pada pergelangan tangan kiri Una.
"AKH!" Una berteriak kesakitan. "YEIRA, STOP!"
"Lo nggak pantes jadi dokter! Lo nggak bisa nyelamatin pasien lo!" Yeira memukuli pergelangan tangan Una tanpa ampun.
"Ra, udah!" Zaxion menahan tangan Yeira yang hendak memukul pergelangan tangan Una lagi. "Gue nggak tega..."
"Kenapa lo jadi belain Una?!"
"Gue nggak belain dia! Tapi, gue rasa lo nggak perlu sampe mukulin tangan dia. Dia dokter, Ra..."
"Dia nggak pantas jadi dokter! Pembunuh kayak dia nggak pantas kerja di sini!" Yeira kembali meraih palu tersebut tetapi tidak jadi karena Zaxion lebih dulu mengambilnya.
"Lanjutin aja! Tanpa palu," ucap Zaxion kemudian melengos pergi sembari membawa palu tadi.
Yeira menatap Una lagi, dia langsung menjambak rambut Una dengan sangat kencang. Sungguh menyakitkan. Kepala Una benar-benar terasa sakit bercampur perih karena jambakan kuat Yeira.
"Ini buat nyokap gue!" Yeira membenturkan kepala Una pada dinding untuk yang kesekian kalinya. "Dan ini buat Jeka yang udah lo rebut dari gue!"
PLAK
Sebuah tamparan telak berhasil melayang di pipi Una. Una benar-benar tersiksa di dalam sana. Apa dia pantas disalahkan atas semua ini?
"Dan ini untuk semua kebahagiaan gue yang udah lo rebut!" Yeira menghempaskan tubuh Una dengan kencang hingga kepala Una kembali membentur dinding. Kali ini setetes darah segar berhasil mengalir keluar dari hidung Una.
"Sakit, Ra..."
* * *
Jeka, Syifa, Deyra, dan juga Victor berlari cepat menuju pintu besar yang akan langsung menghubungkan mereka pada rooftop rumah sakit. Jeka mencoba membuka pintu tersebut, dan benar saja. Pintunya dikunci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Doctors In Love ✔
RomantizmSemua perempuan baik dokter, perawat bahkan pasien juga memuja ketampanan seorang Jeynando Kastara, ia merupakan seorang dokter sekaligus putra dari pemilik rumah sakit tempat Una bekerja. Aleyuna Delunica, seorang dokter spesialis bedah yang beker...
