Una POV
Lagi-lagi malam ini aku tidak bisa tidur. Pikiranku kembali kacau karena apa yang sudah kulakukan pada Dokter Jeka. Aku memang bodoh. Kenapa kebodohan yang sama terulang lagi? Seolah menjadi manusia tanpa dosa, aku memeluknya dengan begitu erat ketika berada di dalam rumah hantu. Sungguh, aku akan menggila sebentar lagi!
Setelah dari wahana bermain, kami memang memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kali ini aku tidak diantar Dokter Jeka, aku memutuskan untuk menaiki taksi. Daripada harus terlibat dalam kondisi canggung, lebih baik aku pulang sendiri. Karena kebodohku tadi, pasti akan terasa sangat canggung jika aku pulang bersamanya.
Rasanya, besok aku tidak siap bertemu dengan Dokter Jeka di rumah sakit. Aku bisa saja meninggal mendadak saat bertemunya. Kalau dipikir-pikir lagi, yang tadi itu memang menyenangkan, tapi semuanya hancur saat aku melakukan hal gila padanya. Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pergi bersamanya.
* * *
Author POV
Seharian ini Una sama sekali tidak bertemu dengan si pangeran rumah sakit itu. Setelah pertemuan mereka tadi malam, Jeka tidak memunculkan diri di hadapan Una lagi. Entah apakah dia memang menghindar, atau memang ada keperluan lain. Dan itu semua membuat Una bingung. Walaupun hari ini tidak ada jadwal operasi, tapi tetap saja rasanya aneh jika tidak bertemu Jeka yang biasanya selalu bersamanya.
"Syif!" Una memanggil Syifa yang sedang menikmati sate padang sebagai pengisi perut malam ini.
"Apaan?" balasnya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Hari ini lo ada ngeliat Dokter Jeka?" pertanyaan Una barusan membuat Syifa hampir saja memuntahkan makanannya.
"Hah?! Nggak salah? Lo nyariin dia?!" sentak Deyra yang juga syok mendengarnya.
Syifa menelan sate padangnya dengan susah payah lalu menenggak minumannya sampai habis. "Lo suka sama dia?!" Syifa heboh.
Una mendengus pelan, "Percuma aja nanya sama kalian. Apa-apa dihubungin sama suka. Nyebelin!"
"Una..." panggilan itu berasal dari sang pangeran rumah sakit kedua yang sekarang berjalan menghampiri mereka. Siapa lagi kalau bukan Victor, si tampan berparas dewa, segagah pangeran kerajaan, kata Deyra begitu.
"Malam, Dokter Victor!" sapa Una.
"Malam," sahutnya. "Btw, kamu ada liat Jeka, nggak?"
"Lah? Dokter juga nggak tau dia di mana?" Una malah bertanya balik.
"Iya, saya belum ketemu sama dia hari ini. Udah saya cariin, tapi nggak ketemu."
"Udah coba ditelepon, dok?" Syifa ikutan nimbrung.
Victor mengangguk, "Udah, tapi nggak dijawab. Padahal saya mau bahas tentang pasien VIP. Lah dia malah ngilang..."
"Nanti saya bakal nyoba nelepon Dokter Jeka juga. Kalo udah dapet kabar dari dia, saya langsung kasih tau dokter," ujar Una.
"Okay. Makasih ya... Kalo gitu, saya permisi dulu." Victor tersenyum manis, kemudian melesat pergi meninggalkan tempat yang semula dipijak.
"Jadi?!" tanya Deyra dan Syifa bersamaan.
"Apa?" Una mengernyit bingung.
"Lo bakalan nelepon Dokter Jeka?" Syifa memberikan tatapan tajam. Una yakin jika kedua temannya ini akan melakukan aksi rutin mereka yaitu, menginterogasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Doctors In Love ✔
RomanceSemua perempuan baik dokter, perawat bahkan pasien juga memuja ketampanan seorang Jeynando Kastara, ia merupakan seorang dokter sekaligus putra dari pemilik rumah sakit tempat Una bekerja. Aleyuna Delunica, seorang dokter spesialis bedah yang beker...
