•39

98.9K 6.5K 65
                                        

Betapa berdebarnya jantung Una saat mendengar semua cerita Karin lewat sambungan telepon. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya terasa panas-dingin ketika baru saja mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan. Sebenarnya Una menghubungi ibunya hanya untuk memastikan jika apa yang dikatakan Yeira salah, tetapi ternyata... Semua itu benar! Karin menceritakan semuanya dari awal hingga membuat Una tidak mampu menerima semua kenyataan pahit ini.

"Jadi aku memang...—" Una menghentikan perkataannya dan mencoba mengatur napasnya. "Memang anak haram?"

"Sayang... Mama—"

"Kenapa mama nggak pernah cerita?" Una menyelak omongan ibunya.

"Mama mau kasih tau kamu diwaktu yang tepat, sayang..."

"Aku udah gede, ma. Semakin umur aku bertambah, semakin susah buat aku untuk menerima kenyataan ini! Seharusnya mama ceritain semuanya dari aku masih kecil!" Sebulir air mengalir keluar dari mata cantik Una.

"Maafin mama..." lirih Karin di seberang sana.

"Jadi... Itu alasan papa ninggalin kita dulu? Dia nggak pernah berniat buat ngerawat aku karena aku cuma sampah yang dia buat kan, ma?" tanya Una.

"Kamu bukan sampah, Una... Cuma mama yang pantes dibilang kayak gitu. Kamu anak mama yang paling berharga!"

"Aku bukan anak yang berharga. Karena aku, mama harus pisah sama Dokter Andy dan karena aku, mama tersiksa."

"Nggak gitu sayang... Mama bahagia punya kamu dan semua yang terjadi nggak ada yang mama sesali."

Sebuah ketukan membuat Una dengan cepat mengusap air matanya yang sempat membasahi pipi. "Ma, udah dulu ya... Aku sibuk," kata Una dan langsung memutus sambungan telepon. 

"Una..." Jeka membuka pintu. "Aku boleh masuk, nggak?"

"Boleh..." ujar Una sambil terus berusaha memberikan senyuman manis meski sebenarnya bibirnya tidak sanggup lagi untuk terus membentuk senyuman. Tapi, begitulah Una. Dia memang paling ahli dalam menyembunyikan segala kesedihan dan kehancuran dalam dirinya. Bagi Una, hanya karena senyuman, tidak akan ada yang mengkhawatirkan dirinya. Dan Una tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya yang malang ini.

* * *

Demi apapun, dia benar-benar lelah dengan semua ini! Deyra menghempaskan lembaran kertas yang ia pegang ke atas ranjang rawat milik Yeira. Raut wajahnya menandakan jika dia sudah tidak mampu menahan emosinya.

"Cukup!" Deyra berteriak.

"Jadi lo nggak mau ngelakuin itu lagi?"

"Gue sadar, gue salah. Gue udah ngekhianatin temen gue sendiri demi cewek nggak berguna kayak lo!"

"Kenapa lo mendadak ngundurin diri dari pekerjaan tambahan lo ini? Padahal, kerjaan lo lumayan bagus. Mata-matain Jeka dan Una waktu di ruang operasi dan ngelaporin mereka ke pemilik rumah sakit ini. Baru satu kerjaan udah capek?"

"Yeira, stop! Gue nggak mau ngelakuin hal gila kayak gini lagi. Udah cukup yang kemarin! Gue nggak pernah mau ngebunuh Una kayak apa yang lo minta barusan!"

"Kenapa? Bukannya habis itu lo bakalan dapet bayaran? Lo nggak akan rugi kok, Ra."

"Dibayar buat ngebunuh temen gue sendiri?! Lo gila?!"

"Temen? Emangnya lo masih pantes dianggap temen kalo udah nusuk Una dari belakang?"

"Itu karena lo! Lo yang bikin gue jadi temen yang buruk kayak gini, Yeira! Udah cukup dan gue nggak mau ngelakuin hal kayak gitu lagi!"

Doctors In Love ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang