Una membuka mata dan langsung menemukan Jeka yang kini memeluknya erat. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang berniat beranjak lebih dulu dari posisi berpelukan ini. Keduanya semakin larut dalam balutan selimut nan hangat, ditambah sinar matahari yang masuk lewat celah jendela.
"Jeka..." panggil Una sedikit mendongak menatap Jeka yang masih mendekapnya dengan hangat.
"Hm?"
"Kayaknya kita udah telat deh," Una melirik jam yang menggantung di dinding kamar Jeka.
"Sebentar lagi," Jeka kembali memejamkan mata dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Una, sesekali dia mengecup kepala Una yang bersandar pada dada bidangnya.
"Hari ini—"
"Sshhtt..." Jeka menyelak. "Pagi ini nggak ada jadwal operasi, nggak papa kalo kita lebih telat sedikit."
Una mengangguk menurut. Toh, dia bekerja di rumah sakit milik Jeka. Walaupun seharusnya peraturan ya tetap peraturan dan tidak boleh dilanggar, tetapi Una tahu betul seberapa keras kepalanya lelaki ini. Percuma juga dia memaksa, yang ada Jeka akan semakin keras kepala dan mungkin saja akan membuat peraturan baru.
* * *
Audi hitam Jeka berhenti di parkiran luas rumah sakit, bertepatan dengan kedatangan ambulan dengan sirine yang berbunyi nyaring. Una turun dari mobil dan langsung menoleh ke arah datangnya ambulan. Una memerhatikan seorang pasien yang keluar dari ambulan dengan darah segar yang melumuri tubuhnya. Una hendak berlari menghampiri, tetapi tidak jadi ketika beberapa perawat dan dua orang dokter sudah lebih dulu menghampiri pasien tersebut.
"Una?" Jeka mendekat.
"Iya?" Una melirik Jeka lalu tersenyum manis.
"Langsung masuk aja yuk!"
Cewek itu mengangguk cepat dan semakin melebarkan senyuman ketika Jeka menggenggam tangannya untuk masuk ke dalam lobby rumah sakit.
Jeka dan Una melepaskan genggaman tangan mereka sebelum benar-benar memasuki lobby, keduanya langsung bertemu dengan segerombolan dokter yang kini sedang berkumpul tepat di tengah lobby. Seluruh pria berjubah putih itu seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah Jeka dan Una. Mereka bingung karena kedua orang itu baru datang ke rumah sakit saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tentu saja hal itu membuat beberapa di antara gerombolan itu langsung berbisikan. Padahal, selama ini Jeka paling tidak suka dengan seseorang yang tidak disiplin. Tapi sekarang, Jeka merupakan salah satu dari banyaknya orang yang tidak disiplin itu.
"Jeka, Una!" seseorang dari gerombolan para dokter itu memanggil seraya berjalan mendekati Una dan Jeka.
"Eh, Dokter Victor. Pagi, dok!" Una menyapa dengan senyuman hangat.
"Pagi," Victor ikut tersenyum. "Kenapa kalian berdua terlambat?"
"Ada urusan!" kata Jeka beralasan.
Una yang mendengarnya hanya bisa tertawa di dalam hati. Urusan apa? Urusan cinta?
Victor seketika geleng-geleng kepala, heran dengan Jeka yang biasanya selalu marah-marah jika ada yang terlambat. Sekarang, malah dirinya yang terlambat. "Untung bokap lo nggak ada di sini, Jek. Kalau nggak, kalian berdua udah abis diomelin!"
Una nyengir, "Tadi urusannya penting banget, dok. Jadi nggak bisa ditinggal."
"Urusan apa sih? Kok bisa samaan gitu urusannya?" Victor menatap kedua temannya ini dengan alis bertautan, tanda bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Doctors In Love ✔
RomanceSemua perempuan baik dokter, perawat bahkan pasien juga memuja ketampanan seorang Jeynando Kastara, ia merupakan seorang dokter sekaligus putra dari pemilik rumah sakit tempat Una bekerja. Aleyuna Delunica, seorang dokter spesialis bedah yang beker...
