Pukul enam pagi, Una duduk manis di dalam mobil Siny untuk pergi ke bandara. Sebenarnya, Jeka sempat menawarkan jemputan pada dokter cantik itu, tetapi Una langsung menolaknya. Dia tidak ingin Siny sampai tahu dan malah heboh sampai membuat telinga Una panas. Apalagi selama ini, Siny adalah orang yang selalu nyomblangin Una dengan cowok-cowok. Bisa dibayangkan seberapa hebohnya Siny jika tahu Una akan pergi bersama seorang cowok.
Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Siny berhenti tepat di parkiran bandara yang sudah terlihat ramai meski masih pagi.
Una melirik Siny yang duduk di kursi pengemudi, "Sin... Selama gue nggak di sini, jangan minum alkohol. Ngerti?"
"Iye, ibu negara... Besok kalo pesawat lo udah nyampe di sini, kabarin gue! Besok gue jemput!" ujar Siny.
"Oke. Ya udah, gue masuk dulu. Bye."
Una segera turun dan berjalan ke belakang mobil untuk membuka bagasi. Setelah mengangkut koper di bagasi mobil, gadis itu langsung beranjak dari tempat untuk masuk ke dalam bandara. Una memasuki gedung dengan senyuman ceria, dia tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya setelah lima bulan berpisah.
"Pagi, Una." Jeka tiba-tiba saja berada di samping Una dan ikut berjalan bersamanya.
"Eh, dokter... Pagi," Una tersenyum ramah.
"Kamu telat," desis Jeka.
"Maaf, dok. Tadi pagi saya telat bangun."
"It's okay," sahutnya.
"Kenapa nggak duluan aja, dok?"
"Sebagai partner yang baik, saya harus nungguin kamu."
Una terkekeh, "Gitu ya?"
"Iya."
"Makasih udah ditungguin," cewek itu tersenyum manis.
"Sama-sama."
Setelah melewati beberapa proses untuk masuk ke dalam pesawat, akhirnya mereka berdua berhasil sampai ke dalam pesawat tepat waktu meski waktu yang tersisa hanya ada lima menit. Kedua dokter itu duduk berdampingan. Una duduk di dekat jendela, sedangkan Jeka duduk di sebelah kirinya.
* * *
Tiga puluh menit berlalu. Pesawat masih melintasi langit biru. Sejak tadi Una asyik memandangi awan yang terlihat begitu indah. Sedangkan Jeka masih fokus dengan lembaran kertas yang ada di tangannya.
"Lagi baca apa, dok?" Una ikutan melihat kertas-kertas yang Jeka baca.
"Oh, ini riwayat kesehatan beberapa pasien VIP."
Una mengangguk mengerti. "Nggak sakit matanya baca begituan di sini? Mendingan liat awan aja, dok. Bagus banget tuh!" Una menunjuk awan putih yang menghiasi langit biru.
Jeka tersenyum miring melihat aksi konyol Una, "Kamu suka awan?"
"Banget!" Una mengangguk cepat, "Dulu waktu saya masih umur tujuh tahun, saya pernah minta naik awan. Bikin mama saya naik darah, karena saya pasti nangis kalau nggak diturutin."
Perkataan Una barusan seketika membuat Jeka tertawa geli, "Ada-ada aja."
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
Doctors In Love ✔
RomanceSemua perempuan baik dokter, perawat bahkan pasien juga memuja ketampanan seorang Jeynando Kastara, ia merupakan seorang dokter sekaligus putra dari pemilik rumah sakit tempat Una bekerja. Aleyuna Delunica, seorang dokter spesialis bedah yang beker...
