seven

875 49 5
                                        

Reyhan bersandar di dinding luar toilet. Melipat kedua tangannya di depan dada dengan memegang hoodie putih.

Ceklek

Suara pintu toilet terbuka, Reyhan segera berdiri tegap merapikan bajunya.

"Nih," Reyhan menyodorkan hoodienya ke Syifa ketika ia melewati Reyhan.

Syifa mendongak menatap Reyhan,  Syifa mengernyitkan alisnya, ia terlihat bingung, "Haa?"

"Ini pake aja dulu."

Syifa hanya tersenyum, "Hm, ngga usah."

"Lo mau digigitin semut gara-gara baju lo manis? Orangnya aja udah manis ditambah teh manis. Jadi tambah manis dong?" ucap Reyhan tertawa.

Pipi Syifa memerah, astaga mengapa ia jadi salah tingkah seperti ini.

"Hm," Syifa hanya bergumam melihat kearah bajunya yang masih basah.

Reyhan mengernyitkan alisnya menatap Syifa, "Nih lo pake aja dulu."

"Tapi--"

"Udah ngga usah pake tapi-tapi an, lo mau dikerumunin semut? Ngga enak juga, baju lo tembus pandang," ucap Reyhan yang menyodorkan hoodienya lagi.

Syifa hanya menggeleng, ia langsung menyambut hoodie yang diberikan Reyhan dan berbalik ke toilet untuk menggantinya. Setelah selesai Syifa langsung keluar dan berencana balik ke kelasnya.

Reyhan tersenyum melihat Syifa yang memakai hoodie putih kebesaran itu.

"Ehh, kirain udah balik ke kelas," ucap Syifa kaget melihat Reyhan yang masih berdiri di luar toilet perempuan.

"Belum kok, yaudah bareng aja ke kelasnya."

Syifa tersenyum menaikan bahunya, "Yaudah, ayo."

Mereka berjalan dengan posisi yang sejajar. Melewati lorong-lorong kelas yang sudah terlihat ramai oleh penduduk sekolah. Ada yang melirik ke arah mereka dengan senyuman yang terpancar.

"Lo kelas X IPA 2 kan?" tanya Reyhan memastikan.

"Eh iya, kok bisa tahu?"

"Bisa dong."

Syifa menatap Reyhan tajam dengan rasa penasarannya. Reyhan menatap balik mata Syifa pula, sekarang tatapan mereka bertemu.

Reyhan segera menunduk ke bawah, "Haha, gue cuma nebak doang kok."

"Boong," jawab Syifa dengan bibir cemberutnya.

"Ngga usah cemberut gitu dong, oh iya kita belum kenalan nih," Reyhan menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Syifa. Ia mengulurkan tangannya ke arah Syifa.

"Emm, gue Syifa Annastasia. Panggil aja Syifa," jawab Syifa membalas jabatan tangan Reyhan.

"Kalo gue Reyhan," Mereka melanjutkan langkahnya. "Ehh, bentar, bentar," Reyhan menahan tangan Syifa, ia menoleh ke arah Reyhan. Menatapnya dengan wajah tanda tanya.

"Ini kelas gue," Reyhan menunjuk kelas 12 IPS 1 yang ada di sebelah kanan mereka.

Syifa menoleh ke kelas tersebut, melihat papan yang terletak di atas pintu tertera tulisan 12 IPS 1, ia memegang keningnya.

Hah?! Kelas 12 IPS 1?! Astaga jadi yang di sebelah gue ini, kakak kelas gue gitu? Astaga Syifa, Syifa -Batin Syifa.

"Em..em..kelas 12?" ucap Syifa terbata-bata.

"Iya, kenapa?"

"Emm, gapapa kok."

"Boong, kok gemetar? Ck.. Santai aja sama gue, ngga kayak senior yang lain kok," kata Reyhan tertawa, ia mendekatkan wajahnya ke arah Syifa sambil menaikkan satu alisnya. "Gue baik orangnya, yaudah yok gue anter ke kelas lo."

NAUSYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang