Crescencia, seorang perempuan berparas rupawan, memiliki sifat keras kepala, dan introvert. Dia adalah salah satu perempuan yang sama sekali tidak percaya bahwa mahkluk mitologi itu benar-benar ada di dunia.
Namun semua itu berubah ketika dia bermi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Crescencia sambil melihat ke sekitar.
Grizelle ikut menatapnya bingung. "Maksudmu apa, Cres?"
"Kejadian yang baru saja terjadi. Kenapa Louie mendadak berteriak?" Pertanyaan demi pertanyaan berada dipikiran Crescencia.
Grizelle seketika terdiam saat mendengar pertanyaan Crescencia. Apa yang harus dia katakan, kalau ada sosok pria misterius yang menginginkan nyawa sahabatnya. Dia harus segera mengalihkan pembicaraan ini, belum waktunya bagi gadis bermanik cokelat keemasan itu untuk mengetahui semuanya.
"Sebaiknya kita pulang saja. Lagipula acaranya telah selesai dan kamu juga harus bergegas untuk mencari tempat tinggal yang baru."
"Kamu benar, Griz. Aku harus membantu Daddy untuk membereskan barang-barang di rumah."
Crescencia mengambil ponselnya dan melihat ada notifikasi dari ayahnya. "Pulanglah, Nak. Dua orang itu sedang menunggu kedatanganmu." Mata gadis tersebut membelalak saat membaca pesan yang berada di seluler. Ya Tuhan, apakah ini merupakan neraka baru baginya? Dia melihat tulisan dengan sorot mata penuh kepedihan. Ternyata waktunya telah tiba.
Grizelle memegang tangan sahabatnya itu dengan lembut dan tiba-tiba perasaan Crescencia sudah jauh lebih baik. Gadis itu menatap Grizelle sambil tersenyum, walaupun hatinya begitu sedih. "Terima kasih, Griz."
"Bukannya kita sahabat. Jadi, sudah sewajarnya aku melakukan ini. Tidak perlu berterima kasih." Grizelle selalu saja tulus dengan Crescencia, walaupun terkadang gadis itu membuat Grizelle kecewa, "sudahlah, jangan terlalu banyak pikiran. Lebih baik kita langsung ke rumahmu."
Mereka segera berlari menuju tempat parkiran dan mulai mengemudikan mobil milik ayahnya. Pikiran Crescencia semakin tidak tenang saat jalanan tampak macet. "Bagaimana ini, Griz. Aku takut Daddy sudah diusir." Crescencia menjambak rambutnya sendiri, dia begitu frustasi.
Namun, di tengah kesusahan yang melanda Crescencia. Dia dikagetkan dengan ketukan kaca mobil, para bodyguard memberikan aba-aba untuk gadis itu agar mengikuti jalur lain. Bukannya terlihat senang, justru dia semakin kesal dibuatnya. Sudah jelas jalanan macet, bagaimana caranya dia memutar mobilnya?
"Apa yang kalian buta? Jalan sedang macet-macetnya lalu bagaimana aku bisa lolos dari sini? Bukan hanya bertubuh besar tapi otak kalian pun tidak ada!" maki Crescencia, dia kini seperti singa yang siap melahap siapa saja.
Para bodyguard itu sepertinya harus banyak bersabar menghadapi Crescencia. Sudah majikan mereka galaknya bukan main, ditambah kini harus menjaga gadis cantik yang mirip nenek lampir. Sepintas mereka setuju dengan ide dari Tuan Zagarus, kalau Tuan Louie cocok dengan Nona Crescencia karena sama-sama sadis.
"Begini, Nona. Sebaiknya dengarkan kami dahulu, polisi akan mengawal Nona untuk melewati kemacetan. Setelahnya baru Nona mengikuti kami," kata Ethan selaku ketua bodyguard.