Crescencia, seorang perempuan berparas rupawan, memiliki sifat keras kepala, dan introvert. Dia adalah salah satu perempuan yang sama sekali tidak percaya bahwa mahkluk mitologi itu benar-benar ada di dunia.
Namun semua itu berubah ketika dia bermi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Brylee berhasil menggoreskan luka yang cukup dalam di tubuh Spinxirus. Membuat makhluk itu mengerang kesakitan bahkan cairan kental berwarna hitam mengotori tanah. Gadis itu bertindak lebih cepat sebelum rantai yang diarahkan hewan berwajah sangar tersebut mengenai seinci pun fisik Thunder Bird.
Padahal, jelas-jelas Thunder Bird bisa melindungi dirinya sendiri. Namun, karena tidak ingin melihat hewan peliharaannya kesakitan lebih baik Brylee yang bertindak. Jarek sangat murka menyadari Spinxirus tumbang ke tanah dengan rintihan yang mampu memekankan telinga.
Semua orang di sana mengerjapkan matanya yang memandang tepat ke arah mereka berdua. Dipandangi punggung kokoh Louie dan menelitinya dengan seksama. Terlihat jelas muncul duri-duri es yang dikeluarkan dari pungkurnya.
"Ini sudah kelewatan batas! Sebaiknya, Tuan Agung segera turun tangan. Saya takut kalau Jarek justru bisa membunuh Brylee dan nasib Crescencia, saya tidak bisa membayangkannya." Mrs. Aikaterine bersedekap dada sembari berjalan ke sana-kemari. Seketika orang-orang di sekitarnya merasa terganggu.
"Kita tunggu saja. Kalau sampai Jarek berani melukai Brylee maka saya akan langsung bertindak," jawab Tuan Agung.
Mrs. Aikaterine mengembuskan napas berang, apa tidak bisa Tuan Agung bertindak sekarang? Padahal sudah terlihat jelas kalau sisi lain anaknya terkenal lebih kejam. Dirinya saja kewalahan menghadapi Jarek apalagi di situasi berbahaya seperti ini. Bisa-bisa Brylee mungkin akan tewas di tangan anaknya.
Tuan Agung mengerti kegundahan hati seorang ibu kepada anaknya. Namun, dia masih percaya kalau Jarek tidak akan bisa membunuh Brylee. Sebab masih ada Louie yang bisa memegang kendali penuh atas tubuhnya.
Para menteri tidak bisa membantu rekannya kalau Tuan Agung sudah berkata demikian. Mungkin memang solusi yang diberikan pria berjubah hijau kehitaman itu adalah yang terbaik. Bahkan dia bisa memanipulasi pikiran orang, otomatis Tuan Agung sanggup memberhentikan aksi itu dengan caranya sendiri.
Waktu terasa lambat bagi Brylee—melihat tidak ada pergerakan sama sekali dari Jarek—apa pria itu sudah menyerah? Namun, dia bisa gegabah—bisa saja di saat dirinya lengah—Jarek mampu menyerangnya dari segala arah.
Brylee terus membaca pergerakan dari Jarek, tetapi semua tampak nihil. Pria berkekuatan cryokinesis itu hanya menatapnya sedari tadi dengan tangan terkepal erat tanpa melakukan apa pun. "Apa kau sudah menyerah dengan permainan ini? Kasian sekali hewan peliharaan kau begitu lemah dan tak berdaya," ejek Brylee dengan seringai piciknya.
"Anggap saja aku kalah telak." Brylee mengangkat alisnya, bukan seperti ini yang dia mau. Salah satu di antara mereka harus ada yang terluka baru itu permainan yang sesungguhnya.
Jarek bersorak ria di dalam hati mendapati Brylee yang percaya saja dengan omongannya. Dia hanya diam dan memandang teduh untuk membuat permainan ini lebih seru.
Gadis bermahkotakan bentuk Thunder Bird itu memasang wajah masamnya. Sudah cukup kesabarannya dipermainkan seperti ini. Lebih baik dia segera membunuh Jarek dengan begitu tidak ada sosok lain yang mungkin setara dirinya.