BAB 41~Harus Melupakan!

100 8 0
                                        

"Sejak pertama kali bertemu denganmu, jujur... membuatku terasa nyaman...."

***

Rahel PO'V

Aku  masih kepikiran kejadian tadi siang. Saat aku dan Roman berada di cafe, aku bertemu dengannya...

Tidak tidak! Tidak mungkin Rahel!! Bahkan disaat aku  menunggu dia, dia tidak memperjuangkan ku!

Apa boleh memperjuangkan cinta sendiri?

Sudah lama rasanya aku menunggu dia. Dari aku masih polos, ya cinta monyetlah contohnya.

Sampai sekarang, aku sudah menjadi orang sukses. Aku  bahkan sudah menjadi dokter terkenal di kota ini.

Haha aku menunggu dia selama 10 tahun! Lalu apa yang dilakukannya? Dia bahkan tak menghubungi ku!

Sudahlah Rahel, sadar kalau kau  itu bukan siapa siapanya! Kau  udah putus hubungan dengannya.

Sebaiknya kau hapus harapan kau  untuk kembali dengannya. Itu cara terbaik...

"Rahel "

Aku pun menoleh kearah Roman, ternyata dia memanggil.

"Ada apa?"

"A-aku ingin berbicara denganmu "

Aku dapat mendengar ucapannya seperti bergetar. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya!

"Ngomong aja "

Aku dapat mendengar kalau dia menghela nafas panjang. Ayolah, kenapa jadi aku yang dag dig dug seperti ini?

Aku dibuat terkejut dengan perlakuan Roman, dia menggenggam kedua telapak tanganku.

"Aku mohon, saat aku bicara jangan dipotong"

Aku mengangguk.

"Rahel, saat aku bertemu denganmu itu ada perasaan aneh. Darahku selalu berdesir saat ada didekatmu. Jujur, aku terpesona dengan kecantikanmu. Sampai akhirnya kita berjuang bersama melewati banyak rintangan untuk mencapai keinginan yang kita mau. Lihatlah sekarang kita sudah menjadi seorang dokter spesialis. Tapi, ada satu hal yang belum aku wujudkan sampai saat ini Rahel.

Memiliki..

Aku sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta. Aku bahkan tak tau arti dari kata itu apa. Rahel, aku mencintaimu....

Jujur, sejak bertemu denganmu itu hatiku nyaman. Apa aku sedang merasakan cinta? Jawabannya iya. Aku sedang mengalami yang namanya jatuh cinta.

Dan itu aku rasakan untukmu Rahel "

Aku terdiam seribu bahasa mendengar perunturan itu. Haha, katakan saja aku ini cengeng! Ya, aku ingin menangis dibuatnya.

Aku tau dia mengucapkannya dengan tulus. Tolong, harus apa aku sekarang?

"Rahel, apa kau ingin menjadi pacarku?"

DUAR

Aku terkejut, dia secara langsung menembakku.

Aku harus jawab apa? Aku sama sekali tidak mencintainya. Bahkan untuk mau mencintainya saja aku sama sekali tidak kepikiran.

Karena aku masih berharap dengan seseorang yang ku tunggu selama 10 tahun itu.

Dia Rafen...

Pria yang telah berani mengambil semua cintaku.

Tapi...

Apa dengan caraku menerima Roman bisa membuat bayangan Rafen hilang seketika dari pikiranku.

Seharusnya aku sadar kalau lelaki itu tidak akan kembali! Seharusnya kau sadar Rahel! Tapi kenapa sampai saat ini aku masih mencintainya?

Oh ayolah, sebaiknya kau terima saja Roman sebagai kekasihmu.

Tapi apa secara langsung dan tidak langsung sama saja aku seperti menjadikannya sebagai pelampiasan kekecewaanku selama ini?

"Roman, aku tidak mencintaimu. A-"

"Ya aku tau Rahel, tapi biarlah aku merubah keadaan. Biarkan aku merangkai kisah ini. Aku akan berusaha untuk kamu melupakannya. Aku mohon, aku sangat mencintaimu.. "

Asal kalian tau, Roman ini sangatlah tampan. Iris mata berwarna biru terang itu seakan menghipnotisku.

Aku hanya mampu diam, aku tak ingin menyakiti seseorang.

"Rahel, biarkan kau jadikan aku pelampiasan. Aku sangat mencintaimu "

Aku menatap matanya dalam, menemukan ketulusan disana. Ya, aku yakin dia sangat tulus. Maafkan aku Roman.

Tapi, apa aku menolaknya membuat dia tidak merasakan sakit hati?

"Ya, aku mau Roman "

Dan pada akhirnya aku harus menerima kenyataan ini.

***

Assalamualaikum..

Gaiss asli sih ini benar benar gajeee. Gatau harus buat kata kata apa. Di bab inj aku lagi pusing sangad.

Jadi biarkan aku membuat cerita abstrak yeeyy.

Thnks

Give UpTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang