"Kalian memang pantas di perlakukan seperti ini, bukan begitu?"
~Njmn~
Semenjak kejadian hari itu, Soojoeng dan Taejang semakin waspada kepada setiap kegiatan apapun yang Jisung lakukan. Mereka berfikir, mungkin ini yang selalu di khawatirkan Shamcon dan Imo mereka. Apalagi saat mereka sedang di sekolah seperti sekarang ini, Soojoeng yang paling tidak rela kalau harus meninggalkan Jisung di depan lift.
"Kita tidak bisa membiarkan Jisung, pergi sendiri." Tukas Soojoeng masih bersikukuh berdiri di depan lift.
Taejang menepuk jidat, "Kalau kita mengantarnya, akan jadi melelahkan. Jisung akan baik-baik saja. Meskipun sebenarnya, aku juga khawatir."
"Gwenchana, kalian langsung ke kelas saja. Aku bisa pergi sendiri, Tenang saja." Cetus Jisung, berusaha menenagkan kedua sepupunya yang terlalu berlebihan.
Soojoeng hanya bergeming. Namja itu, berfikir sekali lagi. Taejang benar, jika mereka memilih untuk mengantar Jisung maka mereka harus naik dan kembali turun. Jisung mungkin, akan baik-baik saja.
"Araseo." Ujar Soojoeng kemudian. Senyum merekah terpasang di wajah manis Taejang, dia segera menarik tangan saudara kembarnya menjauh dari sana pergi ke kelas mereka.
Jisung terkekeh sebentar. Namja itu mulai meraba-raba dinding lift mencari sebuah tombol, dan akhirnya dia masuk dengan hati-hati. Menunggu hingga lift itu mengantarnya keatas, terbuka dan Jisung keluar dari sana.
"Ternyata, kita malah bertemu disini ya?" Samar-samar, sebuah suara terdengar tidak terlalu jauh dari tempat Jisung berdiri.
Jisung berhenti. Mengurungkan niat untuk berjalan menuju kelasnya, dia malah berjalan kearah dinding yang tidak jauh dari lift dengan maksud bersembunyi. Lalu Namja ini, langsung memfokuskan pendengarannya yang tajam untuk mendengar suara kasar siapa tadi.
"A-apa yang kalian mau?" Sebuah suara gugup terdengar. Jian. Itu memang benar-benar suara milik Jian, sebenarnya apa yang membuat Jian jadi terlihat seperti~ketakutan?
"Tentu saja menuntut balas." Jawab Jaemin sambil menunjukkan senyum kebenciannya.
Jian takut setengah mati, dia berjalan mundur dengan cepat. Namun Yeonjun, Haechan, Taehyun dan Chenle sudah berdiri di belakangnya dengan senyum yang sama mengerikannya. Yeojun dan Chenle dengan sigap mencengkram kedua lengan Jian dengan kuat, mereka membiarkan yeoja itu memberontak histeris namun kedua namja itu tetap tidak mau melepaskannya.
Jaemin mendekat. Dia langsung mencekal dagu Jian yang masih memberontak, "Sebaiknya kau diam. Percuma kau berontak, dasar p*c*nd*ng!"
Plak!
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Jian yang mulus, tubuhnya langsung terjatuh ke lantai tanpa perintah. Sedangkan sekumpulan namja tadi hanya menertawakannya, mengejek.
Taehyun memandang senang dengan wajah meremehkan, "Bagaimana rasanya?"
"Umh~" Jian meringis kesakitan memegangi pipinya yang pasti memerah, karena bekas tamparan itu.
"Mwo? Apa ini?" Haechan melihat sebuah benda yang terjatuh dari arah Jian, dia memungutnya dan memperhatikan.
Yang lain termaksud Jaemin ikut memperhatikan benda itu, Jaemin berfikir sebentar sebelum akhirnya mengerti apa itu. Namja itu menghampiri Jian, lalu tanpa permisi dia dekatkan jemarinya pada telinga Jian dan mencabut sebuah benda dengan paksa.
"Auw?!" Pekik Jian kesakitan, kini dia memegangi telinganya.
Jaemin tertawa, "Jadi kau seorang tunarungu? Dasar cacat!"
Jian hanya diam membisu. Tentu saja, karena tidak ada alat bantu pendengaran yang dia kenakan. Semuanya telah terlepas dari telinganya, yeoja itu hanya sesenggukan. Darah segar mengalir dari telinganya, sedangkan Jian masih saja sesenggukan kali ini bahkan lebih keras.
"Jaemin, bagaimana ini? Lihat! Darah keluar dari telinganya." Seru Chenle, dia terlihat agak panik.
"Kenapa? Kalian takut, hah?! Bukannya dia pantas mendapatkannya, bahkan dia hanya seorang yeoja cacat." Jawab Jaemin santai.
"Sebaiknya kalian berhenti!" Ucap Jisung lantang. Tangannya terkepal erat memegangi tongkat penuntunnya, tanpa ragu dia melangkah maju.
Jaemin tersenyum remeh, "Memangnya, apa yang bisa kau lakukan tunanetra? Hahaha~"
Jisung menarik nafasnya kesal dan menghembuskannya, kemudian namja itu berusaha menajamkan pendengarannya. Lalu dengan kata hatinya, dia mengarahkan tongkat penuntunnya.
Bugh!
Dengan satu pukulan, tongkat penuntunnya berhasil mengenai bahu Jaemin lumayan keras. Dengan segera, namja tampan itu jatuh terduduk menahan sakit.
"Argghh!" Erang Jaemin kesal, sembari memegangi bahunya dan menahan sakit.
"Jaemin!" Haechan, Chenle, Yeonjun dan Taehyun menghampiri Jaemin yang tiba-tiba lemas seketika.
Keempat temannya itu, membantu Jaemin bangkit. Jaemin menatap sinis saat melihat wajah tunanetra Jisung, "Aku tidak akan tinggal diam, ingat itu!"
Mereka pergi. Tidak ada niatan Jisung mengejar mereka, dia menghampiri tubuh Jian yang masih sesenggukan menahan sakit. Bahkan telinganya, tidak berhenti mengeluarkan darah segar.
"Jian, gwechanayo?" Tanya Jisung khawatir, namja itu berusaha meraba wajah yeoja di hadapannya itu.
Jian hanya mendongak, menatap nanar wajah Jisung lalu menggeleng. Yeoja itu diam dan hanya meraih lengan namja itu dan menulis pola, "Telingaku sakit. Aku tidak bisa mendengar, jadi bisa antar aku pulang?"
"Bagaimana kau bisa menjawabku?!" Jisung semakin panik.
"Panjang ceritanya, tolong aku." Jian berusaha menahan sakit dan perih pada telinganya, Jisung semakin bingung bagaimana menolong yeoja itu.
"Jian? Jisung?" Sebuah suara yang tidak asing itu, mendatangi mereka.
"Jeno?! Bisa tolong bantu Jian? Dia~"
Jeno langsung tak bisa menutupi wajah terkejutnya, "Wae?! Telinga Jian mengeluarkan banyak darah, ada apa ini?"
"Akan ku ceritakan, tapi antar dia pulang dulu." Seru Jisung. Jeno mengerti, dia segera mengangkat tubuh Jian dan berjalan cepat kearah lift. Jisung ikut dengan langkah pasti dan agak tergesa.
Mereka berlari tergesa. Jeno masih setia membopong tubuh Jian yang mulai lemas, sedangkan Jisung dengan bantuan cekalan pada seragam Jeno dia ikut menyusul juga. Tujuan mereka adalah mencari taxi, saat ini.
"Jisung, ada taxi! Cepat hentikan." Seru Jeno
Jisung melambaikan tangannya kearah jalan, "Taxi!". Mobil taxi itu berhenti persis di depan mereka, Jeno bergegas meletakkan tubuh Jian lalu di susul Jisung menjaganya di kursi belakang.
"Pak, tolong kearah jln. xxx-Seoul utara. Sekarang!" Jisung berseru, setelah Jian memberitahukan alamat tepatnya.
Taxi melaju dengan cepat, meninggalkan sekolah. Jisung masih panik, apalagi saat mendengar erangan Jian yang menahan sakit. Namja ini berfikir bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Yang pasti, saat ini Jisung masih fokus menjaga Jian dan berusaha menenangkan yeoja itu.
"Bertahanlah, sebentar saja." Gumam Jisung pelan.
Jangan lupa, klik bintang setelah membaca sebagai dukungan kalian pada Author. Terima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tomorrow - Today
Fanfiction"Tidak ada gunanya, jika kamu menyalahkan diri sendiri. Percayalah! Satu hal yang membuatku ingin pergi, adalah mengurangi beban di punggung semua orang yang mengenal siapa aku." ~ Park Jinyoung ○ "Ini bukan takdir terburuk, dari sebuah karma yang b...
