Part #25 Rahasia Perasaan

102 9 0
                                        

"Aku ikut merasa sakit, saat melihatmu sakit seperti ini"


~Hwgrjn~


"Kriiingg".

Bel tanda pelajaran selesai, dan mulai di gantikan dengan kericuhan siswa yang keluar dari kelas untuk sekedar menikmati waktu istirahat mereka. Jian juga ikut bersiap keluar dari kelasnya, sebelum itu dia membersihkan buku-bukunya diatas meja.

Namun tiba-tiba, beberapa namja masuk kedalam kelas Jian. Salah satu dari mereka melangkah paling depan menuju bangku Jian dengan tatapan tajam.

Brak!

Jian terkejut. Dia yang sedang memasukkan buku-bukunya di tas, mulai menengok kebelakang dan langsung membatu seketika saat melihat Jaemin, Haechan, Chenlee, Taehyun dan Yeojun ada di kelasnya yang sepi. Menatap dirinya dengan tatapan menusuk.

"Ada apa, Jian?" Tanya Jaemin dengan senyum smriknya, memandang Jian dengan penuh kebencian.

Jian menenggak salivanya dengan keras. Yeoja itu langsung berlari, "Ya, Jangan lari!"

Jaemin dan yang lain mengejarnya dan berusaha menghalangi jalannya. Jian berusaha menghindar dari mereka, namun Haechan malah berhasil menangkapnya dari belakang.

Jaemin langsung tergelak, "Kau berusaha lari, ya? Karena itu kau harus menerima hukumannya."

Jian menggeleng lesu. Air mulai menetes dari pelupuk matanya, tapi Jaemin semakin melangkah maju pada dirinya dan langsung menampar pipi Jian dengan keras hingga yeoja itu terjatuh ke lantai.

Jian sudah tersedu sembari memegangi pipi kirinya yang terasa panas. Kemudian dengan kasar Jaemin mencengkram pipi Jian, "Bagaimana rasanya, hm? Ini balasan karena kau menganggu kesenagan kami!"

Plak!

Kembali untuk kedua kalinya, pipi Jian terkena tamparan dari Jaemin. Jian kini sudah terisak kesakitan dengan pipi kirinya yang semakin perih, sedangkan Chenle dan yang lain tertawa puas melihat yeoja itu kesakitan. Jaemin yang kurang puas, langsung menarik rambut cream Jian dengan tarikan yang kuat.

"Aigo, Apayo! Saram sallyeo, lepaskan. Jebal." Isak Jian memohon.

"Apa? Lepaskan? Jangan harap." Kata Jaemin bersiap mengambil ancang-ancang untuk kembali mendaratkan tamparan di pipi Jian lagi.

Namun, tangan Jaemin tidak langsung mendarat. Seorang namja berwajah tirus menahan tangannya dengan genggaman erat, matanya menatap Jaemin datar. Tanpa berlama-lama, namja itu langsung melepaskan tangan Jaemin dengan kasar.

"Lepaskan dia." Ucap namja itu tanpa basa-basi, masih dengan wajah datarnya.

Mata Jaemin berkilat marah dan langsung menarik kerah namja tadi dengan kesal, "Kau ingin cari gara-gara denganku, ha?!"

Namja itu melepaskan cekalan tangan Jaemin dari kerahnya lalu tersenyum sinis, "Mwo? Cari gara-gara? Hahaha, bukan itu maksudku. Tapi lihatlah kesana."

Jaemin dan yang lain, ikut menoleh kearah yang di tunjuk. Betapa terkejutnya mereka, melihat kamera pengawasan di pojok kiri atas dinding kelas.

"J-jaemin, kamera!" Cetus Yeojun terkejut.

Jaemin menggeram kesal lalu menatap namja tadi, "Kalian tahu, bukan? Harabheojhi-ku membangun sekolah elite ini untuk menciptakan generasi terbaik dan bukan menciptakan generasi b*j*ng*n seperti kalian. Karena itu, lebih baik kalian pergi dari sini atau kulaporkan kalian, agar angkat kaki dari sekolah ini."

"Grrr, lihat saja nanti, dan kau! Aku tidak akan melepaskanmu lain kali." Geram Jaemin lalu berbisik mengancam pada Jian.

Mereka berlima, langsung berlari pergi dari kelas itu. Namja tadi langsung membantu Jian yang masih terisak untuk bangkit. Dia membantu Jian mengahapus air mata Jian dengan ibu jarinya, sedangkan Jian mulai tenang karena adanya namja itu.

"Gomawo, Ketua kelas." Cicit Jian sembari membungkuk hormat.

Namja itu jadi gugup, "Gw-gwenchana. Panggil saja, Hwang Renjun. Padahal kita tetangga, tapi kau malah begitu."

"Nee. Aku benar-benar sangat merepotkanmu, Renjun-ssi." Kata Jian merasa tidak enak, sambil memegangi pipinya yang masih perih.

Renjun yang melihat Jian meringis kesakitan, jadi merasa iba. Dia langsung menarik lengan Jian ikut bersamanya. Jian agak terkejut, tapi yeoja itu tetap mengikuti langkah Renjun dengan terheran-heran.

Mereka berdua sampai di ruang kesehatan. Renjun langsung berlari kearah lemari pendingin, mengambi es batu, membungkusnya dengan kain dan memberikannya pada Jian.

"Duduklah." Pinta Renjun.

Jian duduk di sebuah kursi kemudian Renjun mulai menempelkan kain berisi es tadi di pipi kirinya, "Bagaimana?"

Jian tersenyum simpul, "Terasa lebih baik."

"Gomawo, Renjun-ssi." Lanjutnya sembari mengambil alih kain berisi es tadi.

Renjun mengangguk, "Untung aku sedang melewati kelas. Jika tidak, bisa-bisa kau babak belur. Hahaha."

"Tidak lucu." Ketus Jian memanyunkan bibirnya.

"Hahaha, mianhe." Kekeh Renjun.

"Tapi, kenapa Renjun-ssi membantuku? Sebelumnya, kita tidak terlalu mengenal." Ujar Jian bingung.

"Bagaimana aku tidak membantumu? Tentu saja karena aku tidak ingin membuatmu merasa sakit, hingga tega membiarkan Jaemin dan teman-temannya melukaimu. Karena rasa ini pun mulai peduli, tidak mungkin bisa aku halangi." Batin Renjun dalam hati.

"Renjun-ssi?" Jian menjentikkan jarinya di depan mata Renjun yang sedang melamun.

"O-oh iya! I-itu ka-karena aku seorang ketua kelas! Ya-ya, aku tidak mungkin membiarkan ada anak yang melakukan bullying di sekolah ini." Jelas Renjun gelagapan.

Jian mengangguk menegrti. Sedangkan Renjun tertawa garing, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Mungkin inikah perasaanku padamu, yang ingin sekali memilikimu?" Pikir Renjun di sela-sela tawa dan obrolannya dengan Jian.

Tomorrow - TodayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang