Part #37 Terputusnya Pengakuan

129 11 0
                                        

 "Kenapa harus menatapku seperti itu? Itu jadi membuat lututku mati rasa"

~Ljn~

"Jisung,"

Terdengar suara seseorang menyebut namanya. Lagi-lagi ruangan serba putih, ada di sekitarnya. Sang pemilik nama, berusaha memperhatikan ke segala arah. Namun tidak kunjung, menemukan siapa-siapa. Tanpa di sangka-sangka, sebuah telapak tangan lembut menutupi matanya.

"Coba tebak,"

Mendengar suara yang tidak asing itu, membuat Jisung hanya diam membatu. Suaranya bisa sekali dia tebak, "Eomma?"

Selanjutnya terdengar tawa lembut, diiringi telapak tangan yang mulai lepas dari wajahnya. Jisung segera berbalik, dan benar saja. Sang Eomma berdiri di hadapannya dengan senyum, dan mata yang tertutup itu. Tidak perlu terlalu mendongak, Jisung sudah benar-benar bisa memperhatikan wajah Eomma-nya itu.

"Kenapa Eomma masih bisa tersenyum seperti itu, sedangkan saat ini Eomma berjuang keras untuk tetap hidup?" Lirih Jisung menunduk, tidak berani menatap wajah Eomma-nya sekarang ini.

Hyoona yang mendengar itu, terkejut untuk sesaat. Kemudian dia tersenyum kembali sembari meraba lembut wajah Jisung, "Sekarang Eomma sedang memikirkanmu. Memikirkan bagaimana kondisimu, dan kebahagianmu nantinya. Hanya sedikit waktu, yang Eomma milliki dan kali ini akan Eomma beritahu dirimu sesuatu."

"Apa yang Eomma maksud?" Cetus Jisung, kembali mengangkat lagi wajahnya dan memperhatikan raut wajah Hyoona.

Kali ini hal yang pertama kali Jisung lihat adalah, bulir air mata yang jatuh dari kelopak mata Hyoona. Namun yang paling menjengkelkan adalah, senyum yang terukir itu.

"Kau hidup untuk berjuang, Sayang. Jadi jangan salah gunakan kesempatan ini, dan teruslah banggakan kami. Mulai saat ini, hingga seterusnya jagalah mereka. Orang-orang yang menyayangimu. Jangan biarkan kesedihan, bersemyam terlalu lama di hatimu. Biarkan Eomma yang pergi. Sayonara,"

Di kecup sebentar dahi putranya itu, dengan sayang. Kemudian di peluk dengan erat untuk terakhir kalinya tubuh jangkung, sang putra. Jisung hampir kembali memeluk tubuh hangat Hyoona, namun kembali terulang. Tubuh itu hilang dan terpecah, seperti berlian yang jatuh. Hilang dan tidak bersisa.

Bangsal 304, Wednesday.

Musim semi masih berlanjut, dan bunga-bunga sakura ikut memekarkan kelopaknya satu per satu dari tangkainya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, mata baru itu kembali memandang pohon sakura yang berdiri kokoh di luar. Penglihatan inilah yang Jisung harapkan, namun bagaimana dengan Eomma-nya?

Tok-tok-tok.

Suara pintu di ketuk pelan. Jisung menoleh dan mendapati Jian berdiri disana dengan senyum cantiknya, "Anyeong, Jisung-ssi. Bagaimana keadaanmu hari ini?"

"Gwenchana. Kurasa tubuh ini, sudah mulai pulih seperti biasanya." Tutur Jisung jujur. Jian yang sedang menenteng parsel buah, berjalan mendekat dan di letakkan parsel itu di atas nakas. Lalu duduk di kursi, di sebelah ranjang Jisung.

"Kelihatannya, kau sedang asyik memandang keluar jendela? Pasti menyenangkan, ya~ bisa melihat kelopak bunga sakura mekar di musim semi seperti ini?" Celetuk Jian, sembari bangkit dari duduknya dan menghampiri jendela.

Jisung menatap datar dan bangkit dari ranjangnya. Kemudian menghampiri Jian yang berdiri menatap keluar, "Iya, sangat indah. Sampai-sampai~ aku tidak bisa melepaskan pandanganku."

"Benarkan? Eh?! J-jisung-ssi?!" Jian terkesiap. Tubuhnya membeku di tempat, wajahnya yang sangat dekat dengan wajah namja di sampingnya ini membuatnya salah tingkah.

"S-sejak kapan, kau bangun dari ranjangmu?!" Cetus Jian gugup.

Jisung hanya tersenyum, "Yang satu ini cantik juga, bagaimana menurutmu?"

"Ap-a maksudmu? Ka-kau harusnya~ ke-kembalilah berbaring!" Jian yang gugup, langsung mendorong tubuh jangkung Jisung. Namun, justru dirinya ikut terjatuh dan menimpa tubuh namja tadi.

Jian kembali terkesiap. Iris mata coklatnya, dengan sengaja bertemu dengan iris mata biru milik Jisung. Wajah yeoja itu, tiba-tiba menghangat. Selama ini dia belum pernah, melihat wajah Jisung sedekat ini dengannya. Sadar dirinya sudah melewati batas, segera dia memalingkan wajahnya dan mulai bangkit. Namun tiba-tiba, Jisung menarik lengannya dan dia kembali terjatuh hingga hidung mereka nyaris menyentuh.

Jisung lebih intens memperhatikan, "Sudah sedekat ini, wajahmu jauh lebih cantik dari bayanganku."

"Jangan menggodaku!" Kata Jian sembari memukul pelan dada bidang Jisung.

"Hahaha~ Aku tidak menggodamu. Tapi jujur, kau memang terlihat cantik." Ujar Jisung di sela tawanya, semakin membuat pipi Jian benar-benar semerah kepiting rebus saat itu juga.

Jisung mulai bangkit, dan membantu Jian berdiri. Namja itu masih terus menatap Jian, membuat yeoja di hadapannya gemetar karena terlalu gugup.

"K-kenapa dengan Jisung, ya? Harusnya dia berhenti memperhatikanku! Aku jadi gemetar, kakiku jadi mati rasa." Batin Jian sambil menunduk, memegangi lututnya yang gemetar.

Jisung yang memperhatikan Jian hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, "Mian, Jian-ssi. Aku lancang dan jadi membuatmu tidak nyaman."

Jian mengangkat wajahnya. Terlihat Jisung memalingkan wajahnya kearah jendela dengan wajah yang merah padam, "S-sebenarnya~ sulit bagiku memuji seseorang. Tapi saat melihatmu lamat-lamat, ingin sekali aku mengucapkannya."

"Gwenchana. Gomawo, untuk pujiannya Jisung-ssi." Tukas Jian. Berikutnya, yeoja itu tersenyum hangat saat namja di depannya itu berpaling menghadapnya.

Melihat Jian seperti itu, Jisung memberanikan dirinya mendekat. Namja itu meraih salah satu tangan Jian. Kemudian meletakkan tangan lembut yeoja itu, pada dadanya. Tepat di jantungnya.

"Waeyo, Jisung-ssi?" Jian sedikit terkejut. "Apa terjadi sesuatu, pada jantungmu?"

Jisung hanya menggeleng, "Rasanya aneh. Entah kenapa detaknya, terlalu cepat. Sepertinya itu karena~ dirimu."

Tersipu. Itu yang tiba-tiba di rasakan Jian. Entah kenapa, detak jantungnya juga jadi tidak karuan begini.

"Nega? Wae?" Gumam Jian pelan, namun Jisung masih bisa mendengarnya.

Jisung terdiam. Jian masih menunggu. Namun baru saja akan membuka mulutnya, pengakuan tersebut harus terputus sampai di situ.

"Jisung?" Panggil seseorang dari ambang pintu.

Maafkan Author. Sekarang, Laptop sudah di perbaiki! Karena itu, Author bakal lanjut lagi update ceritanya. Jangan lupa, votenya ya? Anyeong~

Tomorrow - TodayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang