Part #40 Awal Kelam dengan Senyuman

58 10 0
                                        

"Tersenyumlah! Nah, seperti itu~"

~Tjng~

April 2026, 08:00 pm.

Pagi ini, cuaca nampak kurang bersahabat. Langit terlihat cerah, namun terdapat angin yang nampak bertiup kuat. Selesai sudah, pemakaman Hyoona, dan hanya menyisakan keluarganya yang mengelilingi pusara yeoja itu dengan tangis.

Yuri masih terisak, sambil memeluk patokan pusara Hyoona. Begitu berat baginya, untuk menerima kepergian putrinya itu. Terlihat Jisung juga ada di sebelah Halmeoni-nya, sembari bersimpuh dan memukul-mukul tanah dengan tangan kosong. Berusaha melampiaskan rasa sedih, dan kehilangan dalam hatinya.

Sehun menghampiri Jisung, "Ya. Tenanglah, Jisung. Jangan melukai dirimu, seperti ini. Bagaimana Eomma-mu bisa tenang, melihatmu begini?"

Jisung masih terus terisak, dia sama sekali tidak bisa menghentikan tangisnya termaksud rasa sakit di hatinya. Tidak bisa dia bayangkan, bagaimana dia bisa hidup tanpa Eomma-nya? Tentu saja, dia tak bisa melakukannya. Jaebum yang meihat begitu terpuruk putranya, hanya bisa menghampiri namja itu.

"Gwenchanayo? Uljima, apa kau tidak ingat apa pesan Eomma-mu? Jika terdapat kemungkinan buruk, kau tidak boleh menangis. Kau putra 'Im', tentu saja sangat kuat bukan?" Nasihat Jaebum, begitu lembut.

"Apa aku harus memikirkan tentang itu, sekarang?! Aku benar-benar kalut, Appa! Aku benci dengan takdir, seperti ini!" Jisung mulai kesal. Dia bangkit, kemudian berjalan memecah kerumunan dan berlari secepat mungkin meninggalkan pemakaman.

Semua orang panik, melihat kepergian Jisung. Jian, Boemgyu, Taejang, Soojoeng, Jeno dan Renjun yang ikut di tempat pemakaman beberapa menit yang lalu ikut panik melihat teman mereka pergi dengan terisak seperti itu.

"Jisung-a!" Panggil Renjun dan yang lain, hampir bersamaan.

"Jisung pergi keluar pemakaman! Apalagi yang kau tunggu, Jaebum?? Kejar dia!" Seru Raemi. Jaebum mengangguk, kemudian berlari menyusul.

"Sehun. Sebaiknya kau bantu Jaebum juga, untuk mengejar Jisung." Celetuk Siwon. Sehun hanya mengangguk sesuai perintah Appa-nya, kemudian mengejar Jisung yang mulai keluar dari pemakaman.

"Jisung-a! Jamkammannyo!" Panggil Sehun. Namja itu berlari lebih cepat, dari Jaebum. Sebisa mungkin kakinya, mengejar langkah Jisung yang semakin menjauh.

Perasaan Jisung semakin kalut. Dia selalu terngiang pesan sang Eomma, untuk tetap kuat dengan keadaan terburuk sekalipun. Sudah coba dia lakukan, untuk menahan isak tangis dan luka di hatinya. Namun tetap tidak bisa, dia gagal sebelum memulai.

Sekarang, di sinilah dia berdiri. Di pinggir jalan besar, yang tepat di depan pemakaman. Seakan dia tuli, sampai-sampai sama sekali tidak mendengar teriakan Sehun yang masih jauh di belakangnya. Perhatian indera penglihatannya, teralih pada sosok yang sangat dia sayangi dan sudah pergi hari ini.

Di ujung jalan sana, dia melihat Hyoona. Sang Eomma, "Eomma?"

Sosok itu melambai pada Jisung dan terus tersenyum, "Uljima, Jisung-a. Kau anak yang kuat dan tangguh, bukan?"

Jisung mulai terisak kembali. Dia tiba-tiba mendapat dorongan untuk terus melangkah maju menghampiri sosok itu, "Jangan pergi, Eomma. Jebal aniyo~"

Hingga tiba-tiba, sebuah truk box melaju dengan kecepatan tinggi di ujung jalan. Namun Jisung tetap berjalan ke depan, meskipun truk itu memberikan klakson sebagai peringatan.

Tomorrow - TodayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang