Part #24 Tempat Cerita

102 11 0
                                        

"Entah kenapa, ada rasa lega saat dirimu mulai menginspirasiku"


~Chbmgy~


Sebuah alunan piano terdengar dari ruang musik. Alunan melodi itu mungkin bisa jadi menghipnotis beberapa orang yang tidak sengaja melewati ruangan, termaksud Jisung yang kebetulan lewat. Namja itu jadi mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas dan memilih untuk masuk ke dalam ruang musik itu.

Alunan musiknya berhenti saat seorang namja melihat Jisung datang, "Permainan yang bagus, meski masih banyak kekeliuran. Jika boleh ku beri saran, lebih banyaklah membiarkan jari-jarimu lemas dulu sebelum bermain."

Namja itu diam. Dia hanya berdiri dari kursinya, dan mengambil lengan Jisung dengan wajah datar. Di bukanya telapak tangan Jisung yang lumayan besar, lalu jarinya dia gerakkan untuk membuat sebuah pola.

"Ya, Gwenchana? Mianhe, jika aku menyinggung perasaanmu." Celetuk Jisung saat merasakan tangan namja itu meraih lengannya.

Namja itu tersenyum simpul, meski dia tahu bahwa Jisung tidak akan pernah bisa melihat senyuman itu. Dia kembali membuat pola dengan jarinya, di telapak tangan Jisung yang besar.

"Mianhe. Aku tidak bisa menjawabmu, karena aku seorang tunawicara dan yang bisa kulakukan padamu hanya menulis pola." Setidaknya, itulah kata-kata yang bisa Jisung rasakan di telapak tangannya.

"Oh, M-mianhe. Aku tidak mengetahuinya, kondisi diriku yang tunanetra malah jadi menyusahkanmu." Ucap Jisung kemudian.

"Aku tahu. Gwenchana, dan Khamsahamnida atas sarannya ya?" Kata namja itu masih dengan menulis pola.

"Tidak masalah, tapi bisakah kau jelaskan kenapa kau sendirian di tempat ini?" Tanya Jisung hati-hati.

"Mereka sangat ricuh dan terus saja menggangguku." Jelas namja itu.

"Mereka? Siapa yang kau maksud?" Tanya Jisung kembali.

Namja itu kembali membuat pola, "Siapa lagi kalau bukan Jaemin dan teman-temannya. Mereka terus saja menggangguku, dan selalu menirukan kebisuanku!"

"Jaemin? Kau juga di ganggu olehnya, ya? Gwenchana. Karena di negeri ini, orang-orang seperti kita dianggap sebuah kesialan bagi banyak orang yang menganggap bahwa diri mereka sempurna. Padahal, sebagian dari orang-orang itu tidak bisa menggunakan kesempurnaan mereka dengan baik. Jadi, bisa dianggap mereka sama seperti kita yang memiliki kekurangan." Tutur Jisung panjang lebar.

"Kenapa kau begitu optimis sekali?! Bahkan, kau saja tidak bisa melihat dunia. Jadi, bagaimana kau bisa menilainya semudah itu?" Namja itu tidak terima dengan penjelasan yang terlalu mudah itu. Padahal melakukannya sulit.

"Eomma-ku bilang, bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Apa yang kau punya harus di syukuri dan di manfaatkan dengan baik, agar tidak akan lepas atau hilang darimu. Sebaliknya, cintai kekuranganmu. Karena suatu saat, itu akan menjadi kunci besar bagi kelebihan yang baru. Kau tidak bisa bicara, namun kau bisa mendengar juga melihat dan lihatlah sisi baiknya." Jelas Jisung lagi.

Namja itu menatap lekat wajah Jisung. Air matanya tiba-tiba jatuh satu-persatu mendengar penjelasan Jisung. Tapi air mata itu membuat Jisung mengetahui sesuatu, "Kau menangis? Hahaha, aku harap kau sudah mengerti."

"Aku tidak menangis!" Katanya menulis sebuah pola, kemudian buru-buru menghapus air matanya.

Jisung terkekeh, "Hahaha. Nee, kalau begitu mau kutunjukkan sesuatu?"

Jisung berjalan kearah piano. Saat menemukan tempat, dia duduk dan mempersiapkan diri lewat menarik nafas. Dengan kata hatinya, dia mulai memainkan melodi Movement of Moonlight Sonata dari Beethoven yang menjadi lagu favoritnya. Dia yang sudah sangat hafal betul, terus menekan tuts piano dengan tepat meski tak bisa melihat.

Namja tadi sampai melotot tak percaya melihat pemandangan di depannya, "B-bagaimana bi-bisa?!"

Selesai memainkan lagu itu, Jisung tersenyum puas karena latihannya di rumah sejak kecil berbuah manis. Namja tadi langsung mengahampiri Jisung, mengambil telapak tangannya kemudian menuliskan sebuah pola.

"Bagaimana bisa kau menekan tuts dengan tepat, seperti tadi?!" Tanya Namja itu sangat penasaran.

"Aku selalu mengikuti kata hatiku. Jadi, boleh kita berkenalan? Neonan, Im Jisung-imnida." Ucap Jisung sembari mengulurkan tangannya.

Namja itu menerima uluran tangan Jisung kemudian menuliskan pola lagi, "Na, Choi Boemgyu-imnida."

"Kalau begitu, aku akan kembali ke kelas. Sebaiknya kau juga Boemgyu, karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Jisung bangkit dari duduknya, dan dengan bantuan tongkatnya dia ke luar dari ruangan musik menuju kelas.

Boemgyu memandangi punggung namja yang baru dia kenal setengah jam yang lalu itu, "Penjelasanmu sangat masuk akal bagiku. Karena itu, lain kali aku akan mencarimu untuk mengenalmu lebih jauh dan akan kujadikan kau sebagai tempat cerita terbaik lain kali."

Tomorrow - TodayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang