Fara saat ini tengah duduk diruang tamu. Bersama Ayahnya, Bundanya, keempat abangnya, juga Kepsek dari IAS.
"Jadi apa maksud kedatangan anda kesini Pak Akbar?" Tanya Ayah pada Pak Akbar, selaku kepala sekolah IAS.
"Apa Putri saya melakukan kesalahan?" Tanya Bunda sambil melirik sekilas kearah Fara yang duduk ditengah-tengah antara keempat abangnya.
"Tidak Pak, Bu. Kedatangan saya kesini hanya ingin meminta ijin mengikut sertakan ananda Fara dalam lomba basket mewakili sekolah kami." Ucap Pak Akbar sambil tersenyum kearah Meliviano. "Tadi juga kami telah melihat bagaimana kemampuannya, ternyata anak bapak dan Ibu ini sangat jago dalam main basket." Lanjutnya.
Bunda mengerutkan keningnya. "Apa saja cedera yang akan dia dapatkan dalam permainan ini. Apa dia akan dapat cedera berat?" Tanya Bunda, sifat posesifnya telah keluar.
"Bunda, ini hanya permainan. Jangan seperti itu," tegur Fara.
Naya menggeleng, "tidak. Bagaimana jika kamu nanti terluka sayang? Bunda gak mau itu terjadi. Kamu gak boleh ikut."
Fara menatap Bundanya dengan tatapan tak percaya. Apa ini? Kenapa untuk sekedar ikut saja tidak bisa?
"Yang bunda bilang itu benar sayang. Kami hanya takut kamu terluka," sambung Arvan, abang pertama Fara.
Fara menatap tajam abang nya itu. Bisa-bisanya mereka seperti itu? Melarang kebahagiaannya?
Fara bangkit dan berjalan keluar dari ruang itu. Dia berlari ke taman belakang mansion.
"Mereka jahat," gumam Fara, matanya sudah memanas. Air matanya sebentar lagi akan keluar sebelum akhirnya sebuah tangan menghalaunya.
"Nissa mau ikut lomba itu?" Tanya Melviano sambil ikut duduk disamping Fara.
"Kenapa Bunda seperti itu? Nissa hanya mau ikut lomba itu, Nissa sudah terlalu sering terkurung. Apa kalian tidak bisa melihat Nissa bahagia dengan mengikuti lomba ini?" Tanya Fara yang sudah mulai terisak pelan.
Melviano yang melihat sang putri sudah mulai menangis pun langsung merengkuh tubuh kecil itu.
"Baiklah. Kalau Nissa mau ikut lomba itu, ayah ijinkan. Tapi Ayah mohon, Nissa jangan menangis lagi ya. Ayah tidak suka lihat air mata ini keluar," ucap Melviano sambil menghapus air mata Fara.
Fara tersenyum mendengar penuturan Ayahnya, "beneran Yah?"
Melviano mengangguk kemudian menuntun Fara agar berdiri. "Ayo kita kesana, dan lapor pada pak Akbar kau akan ikut lomba ini." Seru Melviano.
"Baiklah, jadi keputusan akhirnya Anak saya akan ikut lomba itu. Tapi setiap jadwal latihannya, saya mau kedua kakaknya ini menemaninya. Bagaimana?" Sahut Melviano saat masuk kembali ke ruang tamu sambil merangkul Fara.
"Tentu saja pak Melvin. Terima kasih atas persetujuan kalian, saya pamit dulu." Ujar Pak Akbar seraya menjabat tangan Melviano serta Naya dan keluar dari mansion besar itu.
"Kamu yakin akan mengikut sertakan Nissa dalam lomba itu?" Tanya bunda dengan raut wajah khawatir.
"Iya. Aku tidak akan menghalangi sesuatu yang dapat membuat putri kecilku ini bahagia." Ucap Melviano seraya mengelus lembut kepala Fara.
Bunda dan keempat abangnya tersenyum. "Hmm kalau begitu aku juga setuju saja Yah. Tapi lihat senyum ini, apakah perempuan yang sedang tersenyum ini yang tadi menatap tajam kearahku?" Ujar Arvan menggoda Fara.
"Maafin Nissa, Bang. Tadi itu terbawa suasana." Jawabnya yang membuat semua orang tertawa.
"Ok, ok baiklah. Aku kalah. Kamu akan ikut lomba itu. Tapi bunda mau kamu membuat kesepakatan dengan bunda." Seru bunda sambil duduk disamping Fara.
KAMU SEDANG MEMBACA
RaFara | END
Fiksi RemajaRafa, lelaki dingin dan seorang ketua geng dari geng besar yang bernama Adlerauge. Lelaki yang tiba-tiba membuat seorang perempuan menjadi pacar nya hanya dengan dasar "Pengancaman dan ingin melindungi nya." Fara, perempuan dengan beribu luka di mas...
