Enam

1K 138 11
                                    

"Jangan lupa ya habis ini lo kerumah gue," kata Vania. Saat ini mereka berada di dalam kelas, merapikan buku-buku dan bersiap pulang.

"Siap."

"Jangan malam-malam, nanti gue ngantuk." Oliv mengangguk mengerti. "Sumpah, gue gak ngerti apa-apa sama materi bab ini."

"Iya nanti gue ajarin," kata Oliv. "Sebenernya matematika itu gampang loh kalau lo mau memahami."

"Gampang bagi lo yang punya otak setara otaknya Einstein. Lha gue? Otak pas-pasan gini bisa apa," gerutu Vania. "Oh ya, ada PR gak buat besok?"

Oliv diam, ia berfikir sejenak. "Kayaknya sih ada."

"Oke, kalau gitu nanti lo bawa juga ya, kita sekalian ngerjain PR."

"Siap."

Vania mengecek notif yang masuk di ponselnya. "Gue duluan ya, udah di jemput."

"Oke, hati-hati."

Setelah Vania keluar kelas, Oliv memperhatikan sekitar, ada barang yang tertinggal atau tidak. Saat merasa tak ada yang tertinggal, Oliv berlalu pergi.

**

Oliv berjalan santai di koridor yang mulai sepi karena para murid sudah berbondong-bondong pulang sedari tadi.

Saat Oliv fokus ke ponselnya, ada seseorang yang menabraknya, membuat dia sedikit terhuyung ke belakang.

"Maaf Kak, aku gak sengaja," kata seorang cewek yang kini berjongkok merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Melihat itu, Oliv langsung ikut jongkok dan membantu merapikan.

"Makasih kak," adik kelas itu mengulas senyum manis.

"Iya. Ini mau dibawa kemana?"

"Ke ruang guru."

"Yang lain mana? Kok lo sendirian?"

"Yang lain udah pada pulang kak," kata adik kelas itu. "Biasalah, anak kelas ku kalau denger bel pulang bunyi auto lari ke parkiran, gak mau disuruh ngapa-ngapain lagi."

"Hahaha, ya sama, kelas gue juga kayak gitu," kata Oliv. "Yaudah yuk, gue bantu bawain."

"Gapapa kak?" tanya adik kelas itu melirik sebagian tumpukan buku yang berada di pelukan Oliv.

"Iya. Daripada nanti lo jatuh lagi."

"Eh, iya, hehe."

Mereka berjalan beriringan ke ruang guru. Tanpa mereka sadari, ada seorang cowok yang memperhatikan mereka dan mengulas senyum miring.

**

"Makasih ya kak udah bantuin, maaf karena tadi gak sengaja nabrak kakak," kata adik kelas sesaat setelah keluar dari ruang guru.

"Iya, santai aja."

"Aku Diana, kelas 11 IPA-3." Diana mengulurkan tangan kearah Oliv.

Dengan senang hati Oliv menyambut uluran tangan Diana. "Olivia. 12 IPA-1."

"Iya aku udah tahu kok."

"Eh, udah tahu?"

"Iyalah. Siapa sih yang gak tahu Kak Oliv. Cewek yang dari kelas 10 udah jadi juara satu paralel." Oliv tersenyum canggung mendengar perkataan itu. "Aku juga pengen jadi kayak kakak, rahasianya apa sih kak."

"Yah, rajin-rajin belajar aja deh. Dan kurangin tradisi contek-mencontek."

"Eh, udah tradisi kak, susah hilangnya," jawab Diana menyengir lebar yang dibalas kekehan pelan dari Oliv. "Hm, mau bareng ke depan?"

Just MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang