Oliv tengah berjalan di koridor bersama Vania sambil berbincang seru saat seseorang memanggil namanya.
Refleks, cewek itu berhenti diikuti Vania dan menoleh ke belakang dan seketika menyesal saat tahu yang memanggil namanya adalah Alvin.
Oliv belum sempat mengajak Vania pergi saat Alvin menghampiri mereka dan bertanya, "Mau ke kantin?" Oliv mengangguk. "Gue nitip makanan."
"Enggak. Beli sendiri," tolak Oliv.
"Gitu aja gak mau. Inget ya, lo masih babu gue, jadi gak boleh nolak permintaan gue."
"Kenapa gak ikutan aja? Kantin kan udah deket," kata Vania berusaha membela temannya.
"Males," kata Alvin. "Lo Vania ya? Satu-satunya cewek yang berani ngelawan Clarin?"
"Eh, i-iya," jawab Vania sedikit kikuk karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari badboy nya sekolah.
"Gede juga nyali lo. Gak kayak cewek yang gue kenal." Alvin melirik Oliv yang berdiri di depannya agak ke kiri.
"Siapa? Gue?"
"GR. Emngnya gue nyebut nama lo?" tanya Alvin dengan tampang menyebalkannya lalu merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan satu lembar uang duapuluh ribu. "Nih, beliin gue siomay."
"Gue kan udah bilang, nggak mau. Dah ya, gue pergi, kasian Vania udah laper banget katanya."
Saat Oliv akan bernjak dari sana, lengannya di tahan oleh Alvin. "Lo duluan aja. Gue masih ada perlu sama Oliv."
Vania bingung harus pergi apa tidak. Ia ingin tinggal karena melihat tatapan Oliv yang memelas, tapi setelah Alvin dengan galaknya mengisyaratkan Vania untuk pergi, Vania pun memilih pergi dengan menggumamkan kata maaf kepada Oliv. Vania masih waras, dia tidak mau ada urusan sama Alvin. Merepotkan.
"Ada apaan?" tanya Oliv seraya menyentak tangan Alvin yang masih menggenggam lengannya.
Alvin sedikit mengernyit mendapat perlakuan seperti itu dari Oliv. Karena selama ini cewek itu terlihat biasa-biasa saja, tidak kasar seperti sekarang.
"Lo marah?"
"Enggak." Seperti ingin menegaskan, cewek itu menggeleng berulang kali.
"Kenapa? Perasaan gue gak punya salah deh."
"Gak punya salah? Terus kemarin apaan tuh? Lo jadiin gue bahan taruhan?"
"Oh lo marah gara-gara itu," kata Alvin dengan santainya padahal tahu cewek yang di depannya ini sedang marah. "Cuma gitu doang kok lo permasalahin sih."
"Gitu doang? Alvin, lo sadar gak sih, lo kemarin kayak gak ngehargain gue banget. Apaan coba, tiba-tiba aja lo jadiin gue bahan taruhan sama orang yang gak gue kenal."
"Udahlah, udah lewat juga. Lagian gue kemarin menang kan."
"Untungnya lo menang. Kalau gak menang gimana?!"
Bukannya meminta maaf, Alvin malah tertawa renyah mendengar nada bicara Oliv yang sedikit naik. Terdengar jelas jika cewek itu sedang kesal. Oliv sendiri mengernyit, dan bertanya ada apa.
"Gak, gue cuma ... apa ya, kayak ... gak nyangka aja, ternyata apa yang orang omongin tentang lo itu salah."
"Emang mereka bilang apaan?"
"Katanya lo cewek sabar yang gak pernah marah walau dijelek-jelekin. Nah ini, ternyata lo bisa marah juga."
Oliv melongo menatap Alvin, bisa-bisanya cowok itu berbicara seperti itu padahal saat ini Oliv sedang marah kepada dirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...