Tangan Oliv terjulur mengambil buku yang tersimpan di rak atas, namun ternyata ia tidak bisa menjangkaunya, padahal dia siudah berjinjit. Oliv menyerah, ia menoleh ke sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai tangga atau apalah itu sebutannya. Namun tak ada satu pun yang bisa ia gunakan. Dengan menggerutu kesal, Oliv berjinjit sekali lagi, berusaha menggapai buku yang ia inginkan. Sekeras apapun dia mencoba, ternyata dia tetap tidak bisa menjangkaunya.
Hingga sebuah tangan terjulur mengambil buku itu. Refleks, Oliv berbalik ke belakang dan terdiam kaku karena di depannya ada dada seorang cowok yang sangat dekat dengan wajahnya. Oliv menelan ludah. Dengan gerakan pelan dia mendongak hingga matanya saling pandang dengan cowok itu yang menunduk.
Mereka saling tatap beberapa detik sampai cowok itu tersenyum dan berkata, "Bukunya?"
"Eh, hm." Oliv memalingkan muka, melihat kemana saja asal tidak bertemu pandang dengan cowok itu. "I-iya." Dia mengambil buku yang berada di tangan cowok itu dan bergerak gelisah. Untung cowok itu peka dan mengambil satu langkah kebelakang, sehingga memperlebar jarak diantara mereka. Dengan tergesa Oliv pergi dari hadapan cowok itu.
Oliv mengambil duduk di salah satu meja. Seperti biasa, perpustakaan hari ini tidak banyak pengunjung. Cewek itu membuka-buka halaman buku dengan asal, dia masih sibuk menghilangkan grogi yang menderanya beberapa saat yang lalu.
Ia melirik ke depan saat merasakan seseorang duduk di depannya. Ternyata itu adalah cowok tadi.
"Boleh duduk di sini?" tanya Darel.
Oliv mengangguk berulangkali lalu tenggelam dalam bacaannya. Namun itu tak bertahan lama karena ia merasa risih oleh tatapan Darel yang tak pernah lepas dari dirinya. Dia mendongak menatap Darel. "Kenapa?"
"Gapapa," jawaban singkat.
Melihat dari dandanan Darel yang seperti itu, pikiran Oliv langsung memberikan peringatan keras jika cowok ini seorang badboy yang sepertinya lebih bad dari Alvin dan wajib untuk dihindari jika tak mau terlibat masalah. Terlibat dengan Alvin saja sudah membuat hari-harinya tak tenang, apalagi terlibat sama satu cowok lagi yang spesiesnya sama seperti Alvin.
Tapi di satu sisi, Darel telah berbaik hati mau menolongnya dua kali. Oliv tak enak hati kalau harus menghindari cowok ini. Jadilah Oliv membiarkan saja Darel duduk di depannya.
"Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?" tanya Darel.
"Eh, enggak." Terlalu asik berkutat dengan pikirannya, Oliv jadi tak sadar kalau dia masih memandangi Darel. "Hm, by the way, makasih buat bukunya."
"Oh, iya, santai aja lah," kata Darel. "Lo kalau emang gak nyampe tuh harusnya cari bantuan, jangan maksain kayak tadi."
"Tapi kan, di sini sepi, mau minta bantuan sama siapa?"
"Oiya, lupa. Untung tadi ada gue."
Oliv mengangguk. "Lo sering ke sini?"
"Nggak juga," jawab Darel. "Kalau lo?"
"Lumayan." Darel mengangguk mengerti. "Lo gak pinjem buku?"
"Enggak."
"Terus, ngapain ke sini kalau gak pinjem buku?"
"Tadinya sih gue mau tidur di sofa pojokan, eh malah ketemu lo, yaudah gak jadi."
Mendengar itu, ingatan Oliv langsung melayang ke beberapa hari sebelumnya. Tentang seorang cowok yang tidur di sofa itu, namun terbangun dan ujung-ujungnya mengganggu ketenangan Oliv membaca.
"Apaan sih, ngapain mikir itu," batin Oliv. Dia menggelengkan kepala guna mengusir pikiran itu.
"Kenapa?" tanya Darel.

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...