Empat puluh satu

184 19 0
                                    

"Lo pulang aja, gue bisa jagain dia sendiri," ucap Oliv tanpa memandang Alvin. Ia sibuk bermain dengan si kecil. Beberapa saat yang lalu, mereka berdua sampai di rumah Vania. Melihat kedatangan mereka, sang pemilik rumah langsung bergegas keluar dan pamit pergi, meninggalkan Febby yang tengah bermain di karpet ruang keluarga.

Dengan riangnya, Oliv menggoda Febby, melakukan berbagai macam gestur untuk membuat Febby tertawa, mengajak anak yang kurang lebih berusia satu tahun itu bermain. Senyum Oliv terlihat sangat tulus di mata Alvin. Tak pernah cowok itu melihat Oliv yang seceria ini.

Alvin yang semula duduk di sofa dan memperhatikan Oliv bermain dengan Febby pun beranjak mendekat. Hal itu membuat Oliv melemparkan tatapan penuh tanya.

Sembari mengambil satu mainan Febby dan memberikannya kepada anak itu, Alvin berucap, "Gue temenin."

"Yakin?"

Hanya sebuah deheman yang Alvin keluarkan untuk menjawab pertanyaan Oliv. Cowok itu membuat gestur cilukba, membuat Febby tertawa.

Melihat perilaku Alvin itu, Oliv tak dapat menahan senyuman. Untung Alvin tak protes karena itu, walau Alvin melihat senyumannya.

"Lo suka main sama anak kecil juga? Kayaknya luwes banget, nggak mati gaya," celetuk Oliv.

Sekilas Alvin melirik Oliv, sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Febby yang ini mengacung-acungkan mainan bebek kepadanya. "Lo lupa gue punya adik? Jelas gue berpengalaman."

Baru mengingat fakta itu, Oliv membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk.

"Lo sendiri? Terbiasa ngurus anak kecil karena punya adik, atau emang karena suka anak kecil?"

Beberapa detik Oliv terdiam, sampai Alvin harus meliriknya sehingga Oliv tersenyum dan berkata, "Gue emang suka anak kecil."

"Lo anak tunggal?"

Kali ini, hanya seulas senyum yang menjawab pertanyaan Alvin. Cowok itu sadar diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Hubungan mereka tidak sedekat itu, dan mungkin Oliv tak suka membicarakan hal-hal pribadi kepada seseorang yang belum ia kenal dekat, pikirnya.

Kemudian, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka, hanya sibuk mengajak si kecil bermain. Hingga dering ponsel Oliv menyita perhatian mereka, kecuali Febby, yang sibuk bermain.

Cukup lama dering ponsel terdengar, namun Oliv tak kunjung menekan tombol hijau, membuat Alvin sedikit menaruh penasaran. Menyadari tatapan penasaran Alvin, Oliv pun mengangkat sambungan.

"Halo?"

"Sibuk nggak? Jalan yuk, gue pengen ke cafe," saut cowok di sebrang sana.

"Gue lagi sibuk."

"Sibuk ngapain?"

Oliv menatap Febby, kemudian menatap Alvin, mata mereka bertemu pandang, namun sedetik kemudian Oliv kembali menatap Febby. "Ya ... sibuk pokoknya."

"Sibuk ngapain, sih? Jawab yang jelas kek." Namun, Oliv tak kunjung memberikan jawaban. "Udahlah, terserah, pokoknya lo harus ikut gue ke cafe. Mau gue jemput atau lo berangkat sendiri."

"Gue nggak bisa, Ga."

Arga? Pikir Alvin. Cowok itu menatap Oliv dan menggerakkan bibir, bertanya apakah Arga yang menelpon. Dengan berat hati Oliv mengangguk. Sontak, ponsel Oliv berpindah ke tangan Alvin, bahkan sebelum Oliv menyadari bahwa Alvin merebut ponselnya.

"Oliv sibuk, gak usah ganggu," katanya setelah menyalakan loudspeaker.

"Oh, sama lo. Lagi ngapain?"

Just MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang