Tiga puluh satu

434 50 5
                                    

Oliv kini merebahkan dirinya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Mendengarkan alunan musik klasik yang menggema di kamarnya.  Ingatannya melayang ke tadi siang, saat Vania mengkhawatirkan dirinya karena tidak lekas kembali. Padahal, Oliv sudah mengirim pesan kepada Vania jika ia memilih duduk di rooftop dulu. Tapi entah kenapa Vania tetap saja menghawatirkan Oliv dan memberondongnya dengan sejuta pertanyaan saat cewek itu kembali ke kelas.

Bertanya tentang apa saja yang mereka lakukan dan obrolkan. Sahabat Oliv itu memang bisa jadi orang paling kepo sedunia jika ia mau dan tak akan berhenti bertanya sebelum ia mendapat apa yang ia inginkannya. Jadi, Oliv menceritakan semuanya. Minus adegan pertengkarannya dengan Alvin dan fakta jika ia menangis di rooftop.

Kini, pikiran Oliv kembali melayang ke kejadian itu. Rasa kesal itu kembali timbul. Oliv kesal, bisa-bisanya Alvin sebegitu marahnya hanya karena dia menasehatinya. Apa dia sekeras kepala itu sampai-sampai tak mau mendengar nasihat seseorang atau memang dia tak suka dinasehati?

"Oke lah kalau dia gak suka. Tapi seenggaknya jangan ngebentak gitu dong, gue kan gak suka," batin Oliv.

Namun tak bisa dipungkiri, secercah rasa bersalah bersarang di diri Oliv.

"Siapa tahu diantara mereka ada sesuatu yang gak gue ketahui. Seperti ... masalah besar mungkin? Selain masalah balap motor," pikir Oliv.

Oliv berfikir untuk meminta maaf, namun secepat kilat ia menepis gagasan itu.

"Dia duluan kan yang marah-marah? Jadi gue gak salah kan? Gue kan cuma nasehatin baik-baik. Gak ada maksud apa-apa. Dia aja yang baperan," batin Oliv.

Pikiran Oliv beralih ke waktu pulang sekolah. Tadi, ia berpapasan dengan Alvin di koridor. Tidak seperti biasa, Alvin hanya menatap Oliv dengan datar dan berlalu pergi. Oliv sih tidak memikirkannya saat itu, ia malah senang karena Alvin jauh-jauh dari dirinya.

Namun kini Oliv dibuat bingung. Alvin sepertinya marah sekali kepada dirinya, sampai bertemu dengannya saja ia enggan. Lalu, bagaimana nasib Oliv yang masih harus mengajari Alvin? Mana mungkin ia lepas tanggung jawab begitu saja, itu bukan gaya Oliv.

"Argh gue pusing. Masa gue yang harus minta maaf? Ngapain? Yang salah kan dia?" kata Oliv. "Tapi kalau gue gak minta maaf, gimana gue ngajarin dia? Gak diajarin? Yang ada gue punya masalah sama Bu Ana. Argh pusing banget gue."

Saat Oliv masih berkutat dengan pikirannya, pintu kamarnya di ketuk. Oliv mengabaikan, karena ia sedang tidak mood beranjak dari kasur. Namun pintu itu terus saja diketuk tanpa henti, lama-lama Oliv kesal mendengarnya. Dengan malas ia melangkah ke pintu kamar dan membukanya.

Di balik pintu, Oliv mendapati Kenzo menyengir lebar menatap Oliv. Berbanding terbalik dengan adiknya, Oliv memasang wajah datar.

"Ngapain?"

"Bantuin gue ngerjain PR, ya." Kenzo menggoyangkan buku yang ada di tangannya.

Oliv melirik buku itu dan berdecak sebal. "Enggak."

"Ayo dong Kak, gue bener-bener gak bisa ngerjain nih."

"Terus?"

"Lo kan pinter matematika ya, jadi boleh dong bantuin gue."

"Gak."

"Dikit kok soalnya." Oliv menggelengkan kepala. "Pokoknya lo harus bantuin gue." Kenzo melangkah maju, tapi langsung dihadang oleh Oliv.

"Mau ngapain?"

"Masuk lah."

"Gak boleh."

Kenzo melirik wajah Oliv lalu tangan Oliv yang menghadang jalan. Tanpa aba-aba, cowok itu mendorong lengan Oliv dan menyerbu masuk.

Just MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang