Empat puluh lima

173 15 0
                                    

Seorang wanita memakai dress sebawah lutut berwarna biru dipadu high heels putih, tersenyum saat Oliv membukakan pintu. Senyum itu, tak sedikit pun terhapus dari benak Oliv.

"Siapa, Liv, tamunya? Suruh masuk, gih," kata Nirmala sembari menghampiri mereka. Wanita itu sedikit terkejut, saat melihat sosok yang berdiri di depan Oliv. "Mbak Dena," sapa Nirmala.

Wanita itu tersenyum ramah, membalas sapaan Nirmala. Sedetik kemudian, Oliv memiringkan badan saat Nirmala mempersilakan wanita itu masuk. Kini, mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.

"Liv, kok diem aja? Nggak kangen sama mama?" tanya wanita itu.

Oliv hanya terdiam menatap Dena, memasang ekspresi datar, walau hatinya sedang bergejolak, menahan semua rasa yang ada.

"Hmm ... silakan ngobrol sama Oliv, Mbak, saya buatkan minum dulu."

Nirmala sudah berdiri, akan pergi ke dapur, tetapi berhenti saat suara wanita itu memasuki gendang telinganya. "Nggak perlu, saya nggak lama kok."

"Ada apa?" tanya Oliv yang sedari tadi diam.

"Kamu apa kabar?"

"Seperti yang terlihat."

Dena mengernyitkan dahi, kemudian menatap Nirmala yang sudah kembali duduk dan tersenyum canggung. "Mama kangen sama kamu, pengen ngajak kamu ke rumah mama, mau? Mumpung hari ini tanggal merah, dan Sabtu, sekolah kamu libur, 'kan?"

"Tapi ... mas Zidan lagi nggak di rumah, Mbak."

"Terus kenapa? Memangnya saya perlu menunggu Zidan kalau mau ngajak Oliv pergi? Saya ibunya."

Sontak, Nirmala terdiam, tak berani berkomentar lebih. Tiba-tiba saja Oliv berdiri, membuat dua wanita di dekatnya ini bingung.

"Oliv mau ambil baju," katanya tanpa memandang Dena maupun Nirmala.

***

"Ayo, masuk," ajak Dena setelah beberapa jam berkendara dan kini sampai di depan rumah tiga lantai berwarna putih dan cream.

Dengan membawa tas di punggung, Oliv mengikuti Dena dalam diam.

"Mas, ada Oliv," kata Dena kepada seorang lelaki saat mereka sampai di ruang keluarga.

Lelaki itu mengalihkan pandangan dari koran dan menatap Oliv yang berdiri diam di sebelah Dena. Senyum ramah pun terukir di bibir lelaki itu.

"Halo, Oliv," sapa lelaki itu sembari mendekati Oliv. "Saya Evano, panggil saya papa, ya."

Oliv hanya merespon dengam anggukan singkat, tanpa seulas senyum. Membuat Evan melirik Dena sekilas, seakan bertanya.

"Adel ke mana?" tanya Dena. Sedangkan Evan memberikan isyarat ke lantai atas. "Adeellll! Ke sini, Nak!"

Tak lama kemudian, seodang gadis seusia Oliv dengan rambut panjang yang berwarna merah di bagian bawah, menuruni tangga dengan cepat.

"Ada apa, Ma?"

Dena tersenyum, kemudian berucap, "Ada Oliv. Oliv, kenalin, ini Adel, saudara kamu. Kalian seumuran loh."

Lagi-lagi, Oliv mengangguk, tak tertarik dengam pembicaraan ini. Berpikir kalau sang anak sedang lelah, Dena pun menyuruh Adel mengantar Oliv ke kamar. Dengan senang hati gadis itu mengantar Oliv yang masih saja beraut datar ke lantai dua.

"Nah, ini kamar lo," kata Adel sembari membuka salah satu pintu di lantai dua ini. "Dan itu kamar gue," lanjutnya menunjuk pintu kamar yang berada tepat di depan kamar Oliv.

Oliv hanya mengangguk, kemudian memasuki kamar dan duduk di tepi kasur.

"Gue capek, lo boleh pergi."

Just MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang