Oliv duduk di salah satu kursi taman setelah berhasil jogging dua putaran mengelilingi taman dekat rumahnya. Ia mengusap peluh yang berada di dahinya lalu mengambil botol air mineral di sebelahnya dan menenggak isinya yang tinggal setengah hingga habis. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman, menatap jauh ke depan, sibuk mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Ia memeriksa ponselnya yang bergetar. Ternyata itu pesan balasan dari Vania setelah Oliv menanyakan kepulangan gadis itu.
Vania
| Mungkin lusa. Mama masih berduka banget. Gak mau diajak pulang
Oh, oke. Titip salam ke nyokap lo, gue turut berduka cita |
Oliv baru tahu, acara keluarga yang dimaksud Vania itu bukan seperti yang Oliv pikirkan. Ternyata nenek dari pihak ibu gadis itu meninggal dunia. Sebenarnya Oliv ingin ikut takziah, tapi tempat nya jauh, jadi Oliv hanya bisa mengucapkan bela sungkawa saja.
Setelah nafasnya kembali normal, Oliv bangkit dan kembali jogging menuju rumahnya, karena hari ini ia sengaja tidak membawa motor matic-nya.
Biasanya, jarak yang ia tempuh dari taman menuju rumahnya tidak terasa jauh jika menggunakan motor. Namun karena saat ini ia berlari, rasanya jarak yang ia tempuh seperti bertambah lima kali lipat. Oliv capek, ia ingin segera sampai rumah dan mandi.
Beberapa saat kemudian Oliv sampai di depan rumahnya. Ia berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ah, gue rindu kamar mandi," batin gadis itu.
Saat ia berjalan di ruang tamu menuju arah ruang makan, Arion yang berlari-lari di dalam rumah tak melihat Oliv dan tak sengaja menabrak gadis itu. Ice cream cone yang ia bawa pun mengotori baju Oliv.
Oliv tak suka. Bajunya yang sudah lengket karena keringat kini makin lengket terkena ice cream. Gadis itu kini memandang Arion yang tengah menunduk takut di depannya.
"Dibilangin jangan lari-larian di dalam rumah, masih aja dilakuin," seru Oliv dengan penuh penekanan. "Dasar anak nakal, dibilangin gak pernah nurut."
Nirmala yang mendengar ribut-ribut, berlari terpogoh-pogoh dari dapur. Meninggalkan semua kegiatan yang tengah ia lakukan.
"Ada apa ini?" Nirmala memandang Arion yang masih setia menundukkan wajahnya. Lalu ia menatap Oliv yang juga balas menatapnya, namun dengan sorot mata marah.
"Nih, lihat!" Oliv menunjuk bajunya yang terkena noda ice cream milik Arion.
"Arion pasti tidak sengaja. Iya kan nak?" Arion yang masih menunduk menganggukkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Nirmala.
"Dia tuh, saya bilangin berapa kali pun tetap gak mau dengar," kata Oliv masih penuh emosi. "Bikin kesel aja bisanya." Oliv melayangkan tatapan kesal kepada Arion dan berlalu menaiki tangga. Sedetik setelah Oliv pergi, Arion langsung memeluk Nirmala dan meneteskan air mata.
"Sst, gapapa sayang."
Sesampainya di kamar, Oliv langsung mandi karena badannya sudah lengket sekali. Ia berendam di bathup seraya memejamkan mata. Pikirannya kosong sesaat. Sampai tak sadar kini pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun lalu.
Oliv kecil tersenyum cerah berada di punggung sang papa, tangan kanannya menggenggam sebuah ice cream cone sedangkan tangan kirinya melingkar di leher Papa.
"Hati-hati makannya, jangan sampai kena baju Papa," kata Mama yang berjalan di sebelah Papa. Oliv kecil mengangguk patuh seraya tersenyum manis.
Mereka bertiga pun duduk di salah satu bangku taman. Menikmati udara pagi yang masih segar.
Seekor kupu-kupi cantik berwarna biru terbang di hadapan mereka. Oliv kecil menatap kupu-kupu itu dengan mata berbinar. Secepat kilat ia pun turun dari pangkuan sang papa dan berlari-lari mengejar kupu-kupu itu berusaha menangkapnya. Papa dan Mama menyaksikan gadis kecil yang terlihat senang itu pun mengulas senyum.
Beberapa saat mengejar kupu-kupu, namun Oliv tak kunjung mendapatkannya, membuat semangat gadis itu mulai surut. Namun, kupu-kupu yang awalnya terbang cukup tinggi untuk di gapai Oliv, kini terbang rendah, membuat Oliv kembali bersemangat. Oliv kecil yang terfokus menatap kupu-kupu pun tak menyadari jika sang papa mendekat kearahnya, hingga ice cream cone yang sedari tadi masih ada di genggamannya mengenai celana Papa.
Oliv berhenti, terdiam menatap celana Papa yang kini terdapat noda ice cream. Matanya berkaca-kaca menatap noda itu.
Mama yang menyadari ekspresi Oliv kecil pun langsung menghampiri mereka dan jongkok di depannya. "Gapapa sayang, semuanya baik-baik saja. Gak perlu sedih."
"Tapi kata mama gak boleh kena baju Papa," kata Oliv dengan ekspresi menahan tangis.
Papa yang selesai membersihkan noda ice cream itu baru sadar jika anaknya sedih, ia pun langsung berjongkok di depan Oliv. "Gapapa, cuma terkena sedikit. Lagipula bisa hilang kok."
Oliv kecil terdiam sejenak menatap sang papa, lalu memeluk pria itu dan tangisannya pecah. Papa merengkuh tubuh kecil Oliv dengan lembut. Sedangkan Mama mengusap-usap bahu Oliv.
"Gapapa sayang, tadi cuma kecelakaan kecil."
"Ingat kata Papa? Anak pintar gak boleh nangis," kata Papa berbisik pelan di telinga Oliv, membuat tangis Oliv sedikit reda.
Ingatan tentang itu riba-tiba kabur dan Oliv kembali mengingat kenangan beberapa tahun kemudian.
Oliv yang beranjak dewasa berdiri di salah satu kamar rumah sakit. Dengan Papa yang menggendong bayi kecil, dan seorang wanita yang berbaring lemah di brankar rumah sakit, bibirnya melukis senyum menatap bayi itu.
"Lihat Oliv, kamu punya adik baru," kata Papa. Terlihat jelas jika pria itu sedang bahagia. Wanita tadi kini ikut menatap Oliv, masih dengan senyum.
Namun, bukannya ikut mengulas senyum ataupun tatapan bahagia, Oliv malah memasang wajah tanpa ekspresi. Matanya menatap dingin kepada semua orang yang berada di ruangan itu.
Oliv menggeleng, mengusir kenangan yang menerobos masuk ke dalam kepalanya itu. Ia cepat-cepat menyelesaikan mandinya.
Ia sedang duduk di depan meja rias, saat pintu kamarnya di ketuk. Cewek itu bangkit dan dengan malas membuka pintu. Ia semakin malas saat melihat Nirmala dan Arion yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Apa?" tanya Oliv judes.
"Ayo nak, katakan," kata Nirmala lembut menatap Arion yang terus menunduk takut. "Gak perlu takut."
Bocah kecil itu memberanikan diri mendongak menatap sang kakak yang memasang wajah datar. "Ma-maaf." Namun tak ada jawaban yang keluar dari bibir Oliv. "A-aku minta maaf, Kak."
"Hm. Jangan diulangi lagi," kata Oliv lalu menutup pintu dengan kasar dan menyenderkan punggungnya di pintu.
"Kerja bagus Arion." Oliv bisa mendengar perkataan Nirmala yang berujar lembut kepada Arion.
"Tapi sepertinya Kak Oliv belum memaafkan aku, Ma." Oliv juga bisa mendengar perkataan pelan Arion. Sepertinya bocah kecil itu sedang menahan tangis.
"Yang penting kamu sudah minta maaf," kata Nirmala. "Nanti Kak Oliv juga akan memaafkan kamu. Tidak perlu sedih."
"Kalau tidak?"
"Dia akan memaafkan kamu, percaya sama Mama. Sekarang ayo turun, biarin Kak Oliv istirahat."
Hening, Oliv sudah tidak bisa mendengar perkataan mereka. Sepertinya dua orang itu sudah meninggalkan depan kamar Oliv.
Oliv menghela nafas kesal. Ia kesal kepada semuanya. Ia kesal mendengar perkataan Nirmala yang selalu lembut. Ia kesal terhadap sikapnya kepada Arion. Bocah kecil itu terlalu menggemaskan untuk ia marahi, tapi Oliv juga tidak bisa bersikap manis kepada Arion, rasanya aneh. Ia juga kesal kepada Ken yang selalu ingin tahu tentang dirinya. Terlebih, ia kesal kepada Papa yang selalu memarahi dirinya. Ah, Oliv kesal pada kehidupan yang ia jalani.
**
Minggu, 09 Agustus 2020

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...