Oliv membuka pintu rumah dengan raut wajah yang kesal, ia melepas sepatu dan menaruhnya di rak samping pintu. Oliv semakin kesal saat mengetahui di rumah tidak ada siapa-siapa. Ia berlalu menuju kamarnya dan melempar tasnya keatas kasur lalu ia masuk ke kamar mandi dan melepas satu persatu seragamnya, masih dengan mulut yang tak hentinya menggerutu.
"Alvin nyebelin! Kenapa sih gue harus ketemu sama spesies cowok nyebelin kayak gitu?! Bikin hidup gue rumit aja! Dasar nyebelin." Masih dengan nafas memburu, ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu memejamkan mata.
"Tenang Oliv, lo harus tenang, gak boleh marah-marah," kata Oliv yang mengatur nafasnya. "Ya, lo gak boleh marah, harus selalu senyum, oke?" Oliv mencoba tersenyum seraya mengatur nafasnya agar kembali normal. "Nah, gitu dong," gumamnya. Lalu ia memasukkan pakaiannya ke keranjang pakaian kotor dan melanjutkan ritualnya yang sempat tertunda.
**
Setelah mandi, ia turun ke dapur dan mengambil beberapa camilan dan minuman untuk ia bawa ke kamar sebagai teman belajar.
"Memang, yang namanya makanan emang selalu bisa bikin mood gue baik," kata Oliv dengan senyum yang terukir di bibirnya.
Lalu ia lanjut membaca buku yang ada dihadapannya. Konsentrasi Oliv buyar karena ponsel yang ada di dekatnya berbunyi, menandakan ada telfon masuk dari nomor yang tak dikenal.
"Halo?"
"Besok ambil buku biologi di kelas gue."
"Maaf, ini siapa ya?"
"Alvin. Majikan lo."
Hah? Alvin?! gumam Oliv dalam hati.
"Darimana lo dapat nomor gue? Dan ngapain gue harus ke kelas lo, itu buku siapa?"
"Gue ada pr bio, hari senin di kumpulin. Karena lo babu gue, jadi lo harus ngerjain tugas gue."
"Tapi—"
"Et, gue gak terima penolakan. Lo harus sportif, karena lo kalah, lo harus terima keadaan lo sekarang. Ngerti kan? Gue harap ngerti. Oke gue tutup dulu, besok jangan lupa ke kelas gue."
Belum sempat Oliv membantah, sambungan telfon itu sudah diputus oleh Alvin. Oliv memandang ponselnya dengan terheran-heran. Mimpi apa ia sebenarnya sampai bisa ketemu cowok seperti Alvin.
Oliv menghembuskan nafas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan. "Sabar Oliv, ini baru permulaan, gausah kesel gitu." Lalu ia melanjutkan acara belajarnya.
**
Bel istirahat pertama berbunyi, guru pengajar sudah keluar kelas dan para murid berhamburan keluar.
"Ayo kantin," ajak Vania.
"Duluan aja, gue masih ada urusan," jawab Oliv seraya mengetik serangkaian pesan di ponselnya.
To : Alvin
Otw kelas lo, jangan kemana-mana"Urusan apaan?"
"Alvin," balas Oliv malas.
"Yaampun, selamat dan semangat jadi babunya ya."
"Dasar nyebelin."
Sebagai jawaban, Vania terkekeh pelan. "Lo mau nitip sesuatu nggak?"
"Gausah," jawab Oliv. "Gue duluan ya."
Tak berapa lama berjalan, ia sampai juga di depan kelas Alvin. Dari jendela, Oliv bisa tahu di dalam kelas ini hanya ada beberapa anak dan yang terpenting sesosok Alvin yang duduk sendiri di bangku pojok. Sebelum masuk kelas, Oliv mengetuk pintu, menyebabkan beberapa anak di sana menoleh kepadanya. Oliv memberikan senyum sopan kepada mereka dan berjalan kearah Alvin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...