Oliv yang tengah memejamkan mata seraya menikmati alunan musik di earphone-nya terkejut karena tiba-tiba saja salah satu earphone-nya ada yang menarik hingga terlepas. Ia menoleh ke arah pelaku dan mendapati Vania duduk di bangkunya dengan senyum jail. Seketika, Oliv tersenyum lebar dan mengurung Vania di pelukannya seraya memekikkan nama gadis itu dengan pelan.
"Eh, kenapa nih?" tanya Vania bingung.
"Gue kangen ih," jawab Oliv sesaat setelah melepas pelukannya.
"Yaelah, baru gue tinggal berapa hari sih," kata Vania.
"Sepi Van gak ada elo. Gak ada yang ngajakin gue ngobrol di jam pelajaran."
"Gitu ya, biasanya waktu gue ngajak ngobrol lo pasti gak suka."
"Iya sih, soalnya gue lagi serius lo malah ngajakin ngobrol," kata Oliv. "Tapi kemarin rasanya sepi ih gak ada elo. Gue jadi bingung mau ngapain."
"Emang gitu, kalau ada aja di sia-siain, giliran ngilang, baru deh dicariin."
"Gue merasakan bau-bau curhat nih."
"Bodo," jawab Vania. "Tapi iya sih, gue emang ngangenin." Vania mengibaskan rambut panjangnya.
"Dih." Lalu mereka berdua tertawa akan tingkah konyol mereka sendiri.
"Terus, lo ngapain aja kemarin?" tanya Vania saat tawa mereka reda.
"Ya biasa. Belajar. Habis itu ke kantin."
"Udah?"
Oliv mengangguk. "Tapi kemarin waktu gue di kantin, Clarin sama dua temennya nyamperin gue."
"Serius? Lo diapain?"
"Gak ada sih. Mereka cuma duduk di depan gue, sambil nyindir-nyindir gitu. Rasanya gue pengen pergi aja dari situ."
"Yaudah, tinggal pergi apa susahnya."
"Gak bisa. Mereka gak ngebolehin. Akhirnya gue diem aja di sana," kata Oliv. "Habis itu, tahu-tahu aja Marsya datengin gue dan ngajak gue pindah tempat. Gue bersyukur banget deh ada cewek itu."
"Marsya siapa? Setahu gue gak ada temen lo yang namanya Marsya deh."
"Dia pacarnya Farel, temennya Alvin. Lo tahu kan?" Vania ber-oh ria dan mengangguk. "Nah itu, dia ngajakin gabung di mejanya Alvin. Yah, lebih baik lah daripada semeja sama Clarin."
"Iya sih, gue setuju."
"Tapi Van."
"Apa?" Bukannya menjawab, Oliv malah bergumam pelan, seakan ragu untuk berujar. "Kenapa Liv?"
"Hmm, hubungan lo sama Clarin itu gimana sih?"
Vania mengerutkan alis menatap Oliv. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Gapapa sih. Cuma, setelah dengerin Marsya kemarin gue jadi kepikiran."
"Dia bilang apa?"
"Dia nanya, hubungan lo sama Clarin itu gimana. Soalnya menurut dia, lo sering ngerecokin Clarin tapi Clarin gak pernah sekalipun gangguin elo."
"Terus? Lo jawab apa?" tanya Vania.
"Gue jawab gak tahu."
"Bagus."
"Tapi gue jadi kepikiran Van. Hubungan kalian kayak apa sih?" Vania terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Oliv, membuat cewek itu was-was apakah sahabatnya itu marah kepadanya. "Van? Lo gak marah kan?"
Butuh waktu beberapa detik sebelum Vania menjawab. "Enggak kok, gue gak marah." Kali ini seulas senyum terukir di bibirnya. "Hubungan gue masa Clarin ya? Yah, seperti yang lo lihat selama ini."

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...