Empat belas

779 76 4
                                    

Sungguh sial Oliv hari ini, sudah bangun kepagian, sempat adu argumen dengan sang papa, datang ke sekolah terlambat, di hukum pula.

Dan yang lebih sialnya lagi, ia dihukum membersihkan taman sekolah yang jarang dikunjungi ini bersama dengan Alvin. Kurang apa coba kesialannya hari ini?

"Kalian bersihkan taman ini sampai bersih ya, waktu kalian sampai jam pelajaran kedua. Nanti bapak akan kesini lagi mengecek pekerjaan kalian," kata Bapak petugas piket hari ini yang bernama Bambang. "Jadi kalian jangan coba-coba kabur, terutama kamu Alvin. Mengerti?"

"Mengerti pak," jawab Oliv pelan. Sedangkan Alvin malah mengacuhkan bapak itu.

"Ya sudah, kalian mulai bekerja. Ingat, sapu dengan bersih." Setelah berkata begitu, Pak Bambang pergi dari hadapan mereka.

"Lo sapu bagian kiri, gue sapu bagian kanan, oke?" kata Oliv.

"Gak oke," kata Alvin. "lo sapu semua bagian, gue duduk sini, tidur," lanjut Alvin yang mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman.

"Gak bisa gitu dong," protes Oliv.

"Bisa lah. Gue kan majikan, sedangkan lo babu gue. Jadi suka-suka gue kan?" jawab Alvin santai. "Udah, kerja sana, gue mau tidur. Jangan ganggu."

Dengan menggerutu kesal, Oliv mengerjakan hukumannya ini sendirian. Tak ada pilihan lain, mendebat Alvin pun tak ada gunanya, pasti Oliv yang akan kalah. Ini juga sudah resiko dia karena mengusulkan perjanjian konyol itu. Saat itu ia tak menyangka, jika badboy satu ini akan dapat nilai seratus. Oliv tak berfikir walaupun cowok itu tidak pandai, tidak menutup kemungkinan dia tidak mencontek.

Satu jam pelajaran berlalu, Oliv hampir selesai membersihkan taman ini. Taman ini cukup luas, dan ditumbuhi banyak pohon, menyebabkan daun-daun yang berguguran lumayan banyak.

"Alviin," panggil Clarin dengan nada manja menghampiri Alvin dan duduk di samping cowok itu. "Uuh, kamu pasti capek ya dihukum kayak gini." Cewek itu menggunakan tisu untuk mengusap kening Alvin yang nyatanya tak ada keringat sedikit pun.

"Apaan sih." Alvin menepis tangan Clarin, namun tak menghilangkan semangat cewek itu.

"Nih, aku bawain minum. Aku tahu kok kamu pasti capek, haus, iya kan?" Clarin menyodorkan satu botol air mineral kepada Alvin.

"Lo gak lihat gue diem, gak kerja apa-apa? Mana mungkin gue capek?"

"Iya aku tahu, tapi terima ya, aku udah bela-belain bawain minum loh."

"Heh lo," panggil Alvin kepada Oliv yang berada tak jauh dari tempat duduknya. "Mau minum gak lo?"

"Hah? Gue?"

"Sini kalau mau."

"Ih Alvin, jangan di kasih ke dia dong, kan aku beli ini buat kamu," protes Clarin.

"Guenya gak mau."

"Ayo dong Alvin, aku bukain nih." Clarin membuka tutup botol dan mengarahkan botol minum itu ke Alvin. Namun dengan tak berperasaan Alvin menepis botol itu menyebabkan si botol terlempar dari tangan Clarin dan airnya berceceran di tanah.

"Nah, minuman lo udah habis. Jadi lo pergi dari sini deh."

"Tapi—"

"Pergi, gue risih tahu!" Dengan muka yang ditekuk, Clarin pergi dari hadapan Alvin. Sebelum itu, ia sempat memberikan tatapan tajam untuk Oliv tanpa diketahui Alvin.

"Gak baik loh buang-buang minuman kayak gitu," tegur Oliv.

"Biarin, minuman dari Clarin ini. Gak penting."

Just MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang