Hari ini Oliv merasa benar-benar sepi karena tidak ada Vania. Jadi, setelah bel istirahat kedua berbunyi, ia memutuskan pergi ke perpustakaan.
Oliv bukan tipe orang yang suka baca novel atau sejenisnya, jadi saat ini ia sedang sibuk menyapukan matanya di deretan rak buku pelajaran. Matanya berhenti di buku sbmptn tahun kemarin. Oliv mengambilnya dan membawanya ke bagian belakang.
Tak banyak anak yng membaca di perpustakaan. Hanya tiga orang. Dua orang perempuan yang sepertinya adik kelas, sedang membaca buku di satu meja. Dan satu orang perempuan yang duduk sendirian di meja lain, tenggelam dalam bacaannya.
Namun, mata Oliv menangkap pemandangan yang aneh. Ada seorang laki-laki yang berbaring menyamping di salah satu sofa pojok ruangan. Oliv penasaran siapa orang itu, tapi sayangnya Oliv tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu menghadap ke samdaran sofa.
Oliv duduk di depan perempuan yang sendirian tadi. Perempuan itu masih sibuk dengan bukunya, tak memperdulikan Oliv.
"Hm, permisi?" tanya Oliv ragu-ragu. Perempuan itu mendongak dan menatap Oliv. "Lo tahu gak dia siapa?" Oliv menunjuk ke lelaki tadi.
"Oh, dia Alvin."
"Alvin?"
"Iya. Udah dari tadi sih dia tidur di situ. Tentu setelah melarang keras kita bertiga untuk berisik."
Oliv manggut-manggut mendengar perkataan perempuan itu. Lalu ia mulai membuka buku yang ia bawa. "Semoga dia masih lama bangunnya," batinnya.
Beruntung bagi Oliv, setelah beberapa menit cewek itu membaca, Alvin masih sibuk terlelap dalam tidurnya. Jadi Oliv tak perlu merasa terganggu.
Perpustakaan ini sunyi, yang terdengar hanya suara lembaran buku yang dibalik. Suasana ini lebih nyaman bagi Oliv, daripada ia harus berada di tengah keramaian kelas. Memang, Oliv tipe orang yang lebih suka belajar daripada ngomongin orang, menurutnya itu tidak bermanfaat. Dan karena itu pula, Oliv sampai tidak tahu tentang Alvin, badboy nya SMA Garuda.
Meski begitu, teman-teman sekelas Oliv menyukai gadis itu. Karena meski dia gemar membaca daripada ngerumpi, Oliv termasuk asik jika diajak ngobrol. Dia orangnya juga selalu senyum. Menyebarkan aura positif ke sekitar.
Oliv tersentak kaget saat pundaknya ditepuk pelan. Oliv menoleh ke belakang dan mendapati Alvin tersenyum geli menatapnya. Sakinb asiknya membaca, Oliv sampai tidak sadar kalau Alvin sudah bangun dan sekarang berada di belakangnya.
"Kenapa senyum?"
"Lucu aja. Masa kayak gitu doang kaget." Alvin mengambil duduk di kursi sebelah Oliv. "Baca apaan lo?" Alvin menutup buku yang dibaca Oliv, guna melihat sampulnya. "Ck, buku kayak gini kok dibaca."
"Emangnya kenapa?"
"Bikin pusing aja."
"Eh, kita udah kelas 12 loh, jadi harus banyak-banyak baca buku yang kayak gini."
"Males."
Oliv menatap Alvin yang kini memainkan ponselnya. "Mending lo tidur lagi gih, daripada ganggu gue."
"Siapa yang ganggu? Gue diem aja."
Oliv yang merasa kesal dengan jawaban Alvin pun tak berkata apa-apa dan melanjutkan belajarnya. Namun Oliv kembali menoleh kepada Alvin karena cowok itu memutar voice note dengan suara yang cukup keras.
"Kecilin volumenya. Ganggu yang lain," tegur Oliv. Alvin memandang sekitar, dan benar saja mereka memperhatikan Alvin, tapi Alvin tak peduli, ia malah sibuk mengetik pesan balasan. "Kenala lo gak ke kelas aja sih? Di cariin Farel kan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Just Mask
Teen FictionOlivia Zhafira. Seorang gadis cantik juga pintar yang terlihat baik-baik saja dengan wajah yang selalu mengumbar senyum. Seakan ia tak pernah sekali pun mengenyam pahitnya kehidupan. Namun siapa sangka jika itu semua hanya topeng. Topeng yang ia gun...