Tetap semangat menjalankan puasanya. Bacanya pelan-pelan, biar kerasa panjangnyaaaaaaaaaaaaaaaa.
Happy Reading.
Fildan POV.
Kami pulang dari panti cukup larut, karena terlalu asik di sana, membuatku dan Lesty tidak sadar jika waktu sudah hampir larut malam.
Aku ingin sekali mengantarkan Lesty pulang ke rumahnya, namun aku teringat jika dia membawa mobil sendiri, alhasil aku memutuskan untuk mengantarkannya dengam cara mengikuti mobilnya dari belakang. Meski dia sempat menolak ideku, namun sekarang aku harus bersikap egois demi keselamatan dia dan ketenangan hatiku.
Ya. Aku akan merasa tidak tenang jika belum melihat dia sampai rumah dengan selamat. Shut! Kalian jangan bilang-bilang padanya, karena jika dia tahu, aku yakin dia akan kembali mengolok-ngolok diriku.
Saat aku sedang mengikuti mobil Lesty untuk memastikan dirinya selamat sampai rumah. Tiba-tiba handphoneku berdering, menandakan ada yang meneleponnya. Dan ternyata nomor asing yang meneleponku. Sialnya itu adalah nomor Rere, dan Rere memintaku untuk pergi ke apartemennya karena ada hal penting yang menyangkut hidup dan mati bahkan masa depannya. Ck, itu sangat lebay bukan?
Sebelum aku pergi ke apartemen Rere, aku menelepon Lesty terlebih dahulu untuk memberitahu bahwa aku tidak bisa lagi mengikuti mobilnya sampai rumah.
Aku bukan lelaki yang pemberi harapan palsu, namun ini memang penting. Aku harap Lesty bisa memahaminya. Saat aku memberitahunya, Lesty sepertinya kesal padaku. Biarkan saja, karena Lesty tidak akan larut dalam rasa kesalnya.
Lagipula siapa sih yang tahan menahan rasa kesal berlama-lama padaku? Pesonaku akan menghilangkan rasa kesalnya. Jadi tenang saja.
Alhasil, disinilah aku. Di depan gedung yang menjulang tinggi, apartemen yang Rere tempati. Aku hanya keluar dari mobil sebentar seraya menelepon pada Rere, memberitahu jika aku sudah ada di depan gedung apartemen. Saat Rere mengatakan akan segera turun, aku memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil.
Dari dalam mobil aku bisa melihat, Rere yang berjalan menghampiri mobilku, lalu dia mengetuk kaca mobilku mungkin untuk memastikan jika mobil ini adalah mobil yang aku tumpangi.
Setelah itu dia masuk kedalam mobil dan menyuruhku agar cepat menancap gas.
"Kemana?" tanyaku padanya yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Dari raut wajahnya aku bisa melihat kekhawatiran.
"Club malam"
"Hah?!" teriakku. Enteng sekali dia menyuruhku untuk mengantarkannya ke club malam. Terlebih sekarang sudah larut malam.
"Sudahlah diam! Nanti kamu juga akan tau!" sepertinya Rere tau jika aku akan berprotes.
Setelah itu, di dalam perjalanan menuju club malam yang Rere maksud di isi dengan keheningan.
Sesampainya di club malam. Rere langsung keluar dari mobil, mau tak mau akupun harus mengikutinya. Dan yang membuatku marah adalah dia dengan seenaknya bergelayut di tanganku.
"Lepas!" kataku dengan tegas namun Rere menghiraukannya, dia malah menarikku agar lebih cepat masuk kedalam.
Saat kami masuk kedalam, bau alkohol dan suara bising langsung menyambut kedatangan kami. Aku hanya menatap orang-orang yang sedang bernari-nari tanpa minat. Sedangkan Rere, dia sedang mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang.
"Ah! Itu dia" pekiknya membuatku tersentak terlebih dia langsung menyeretku menghampiri orang yang di maksudnya.
Aku bisia melihat seorang lelaki yang sepertinya sudah mabuk berat itu tengah meracau tidak jelas, tetapi samar-samar aku bisa mendengar dia menyebut namuku dan nama Rere.
KAMU SEDANG MEMBACA
cinta MENGAPA gengsi (Completed)
General FictionJudul awal "MENGAPA" "Mengapa harus dia yang aku cintai?" "Mengapa aku bertemu dengan lelaki seperti dia?" --- Pertemuan yang terjadi pada dua insan yang berbeda sifat. Perbedaan itulah, yang membuat mereka merasa saling membutuhkan. Lelaki dengan...
