|| 36 || OM TAMPAN

1.5K 122 8
                                        

Setelah bersiap dan sedikit berdebat. Akhirnya siang menjelang sore, mereka sudah sampai di panti asuhan R.Kasih yang mendapatkan sambutan hangat dari Umi dan anak-anak panti asuhan yang terlihat antusias melihat kedatangan Fildan dan Lesty. Namun sayangnya, mereka--anak anak panti asuhan--harus melanjutkan acara mengajinya.

"Assalamualaikum, Umi" sapa Fildan dan Lesty seraya mencium hormat punggung tangan kanan Umi. Umi tersenyum hangat pada mereka, membalas salamnya. Lalu Umi mempersilakan mereka untuk duduk.

"Kalian sudah lama tidak kemari. Maafkan Umi juga yang tidak bisa hadir di pernikahan kalian" ucap Umi ada rasa sesal dalam dirinya karena tidak menghadiri pernikahan Lesty, yang sudah Umi anggap sebagai anaknya sendiri.

"Tak apa, Umi. Kami memakluminya, kami minta doanya saja, semoga pernikahan kami langgeng hingga maut memisahkan kami" kalimat tersebut terlontar begitu saja dari mulut Lesty. Fildan menatapnya seraya tersenyum, serta dalam hati mengamini ucapan istrinya.

"Amin. Semoga kalian cepat dapat momongan ya"

"Amin" ucap keduanya mengamini doa Umi. Mereka juga sudah sangat menanti kehadiran malaikat kecil di keluarga kecil mereka.

Akan sangat membahagiakan bukan?

Selanjutnya mereka larut dalam obrolan, sesekali Fildan menyahut, meski Fildan banyak diamnya. Setelah hampir satu jam berbincang dengan Umi melepas rindu, Lesty pamit pada Umi untuk mengajak Fildan ke taman, karena sore hari seperti ini selalu menjadi waktu anak panti bermain di sana.

"Mereka sangat bahagia" ujar Lesty pelan, memandangi anak-anak kecil yang tengah bermain, tertawa riang bersama.

"Kita tidak tahu, seberapa besarnya mereka menyimpan rapat rasa sedihnya" sahut Fildan membuat Lesty menghela nafas. Lesty jadi sesak sendiri membayangkan jika dirinya berada pada posisi mereka, yang sudah kehilangan orangtuanya sejak kecil.

Kita yang masih bersama orangtua harus sangat bersyukur, kerena banyak di luaran sana yang tidak bisa hidup bersama orangtuanya. Jangan sampai mengecewakan-nya, apalagi membuat-nya sedih. Kita tanpa orangtua bukan siapa-siapa.

Fildan dan Lesty berjalan bersama menelusuri taman dengan tangan yang saling mengggenggam.

Sesekali mereka tersenyum saat ada anak panti yang menyapa.

"Kak Lesty" panggil gadis kecil yang terlihat menggemaskan dengan gamis pinknya, berlari kecil ke arah Fildan dan Lesty.

"Ya ampun, Caca! Kakak kangen" seru Lesty lalu berjongkok menyambut kedatangannya Caca pada pelukannya.

"Caca juga kangen sama Kak Lesty" ujar gadis kecil berumur lima tahun, Caca sejak bayi sudah berada di panti asuhan.

"Kak, Om itu siapa?" mata Caca mengerjap lucu menatap Fildan yang berdiri di samping Lesty.

Muka Fildan seketika masam karena mendengar panggil gadis kecil itu padanya. Ketika istrinya di panggil kakak, kenapa dirinya di panggil om? Setua itukah dirinya? Batin Fildan kesal dan gemas secara bersamaan ketika melihat istrinya sendiri terkekeh geli.

"Om ini, suaminya Kakak" ujar Lesty terkekeh geli seraya memeluk lengan Fildan, seketika rasa kesal Fildan menghilang hanya karena pelukan. Fildan meletakkan tangannya di seputaran pinggang Lesty.

"Om nya tampan, tapi serem" jujur Caca yang dibalas tawa oleh Lesty. Saking gemasnya Fildan ingin sekali mengarungi gadis kecil itu.

"Om gak serem kok. Om itu baik sekali"

"Prrtt" itu suara Lesty yang menahan tawa.

"Nama kamu siapa, gadis manis?" sekarang Lesty merasa terabaikan, ketika Fildan berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan tinggi Caca.

cinta MENGAPA gengsi (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang