Karena tidak ingin Lesty yang mengobati luka Pandu, akhirnya Fildan memilih dirinya sendiri yang mengobati luka pandu.
"Ahh! Pelan-pelan woy!" ringis Pandu yang saat ini sudut bibirnya sedang di obati oleh Fildan. Karena tidak menggunakannya perasaan, Fildan mengobatinya seperti orang yang nafsu menambah lukanya.
Mereka tengah duduk di ruang tamu, dengan Fildan dan Pandu saling berhadapan, duduk berdekatan karena memang Fildan yang sedang mengobati lukanya pandu, lalu Lesty yang duduk di seberang mereka dengan tawa tertahan.
Lesty tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya saat melihat kedua lelaki dewasa itu sedang saling berhadapan. Tadinya Lesty yang akan mengobati luka Pandu, tetapi Fildan melarangnya dengan alasan bukan muhrim. Katanya, tidak baik berhadapan dengan lawan jenis terlalu lama.
"Berisik!" kata Fildan dengan sengaja menekan luka lembab Pandu yang membuat sang empu meringis.
Karya yang Fildan ciptakan di wajah Pandu benar-benar membuat wajah pandu memar. Pukulan orang cemburu memang tidak ada duanya.
"Mending Lesty aja deh yang ngobatin gue! Dari pada lo gak punya perasaan" protes Pandu seraya menyentakkan tangan Fildan yang berada di bibirnya. Ia juga merasa geli melihat Fildan yang duduk berdekatan dengan saling pandang.
Tidak jauh dengan Pandu. Fildan juga merasa geli, lebih tepatnya malas mengobati Pandu. Bukan apa-apa, hanya saja.. You know lah! Tetapi lebih baik dirinya yang mengobati Pandu, daripada dirinya yang harus melihat Lesty yang mengobati Pandu dengan saling berhadapan. Bisa-bisa luka yang di wajah Pandu akan bertambah.
"Obatin sendiri! Lebay amat!" cibir Fildan seraya melempar kapas yang tadi ia gunakanya ke mulut Pandu. Sontak aja itu membuat Pandu berdecak marah.
"Heh!"
"Berisik deh! Udah sana kalian pulang" lerai Lesty merasa akan ada lagi pertengkaran antar mereka.
"Pulang lo!" usir Fildan pada Pandu yang kini mereka duduknya sudah tidak terlalu dekat. Jaga jarak.
"Lo yang pulang saja! Gue-"
"Kalian! Kalian pulang sana" potong Lesty lalu bangkit dari duduknya dan berdecak kesal dengan tangan yang berada di pinggang.
"Les, ada yang ingin saya bicarakan" ucap Fildan pada Lesty.
"Iya, Les. Aku juga ada yang ingin di bicarakan" ucap Pandu juga.
"'Aku'? apaan dah" ejak Fildan saat mendengar kata 'aku' yang terlontar dari mulut Pandu, membuat Pandu menatap Fildan berang.
"Daripada 'saya'! Apaan itu? Kayak karyawan aja, bilangnya tunangan" ejak Pandu yang sukses membuat kaki Fildan menendang tulang kering pandu.
"Aww! Sakit goblok!" pekik Pandu seraya melompat-lompat bermaksud agar rasa sakit di kakinya langsung hilang.
"Jaga mulut lo!" ancam Fildan.
"Kok kamu kasar sih?" tanya Pandu mendramatis dengan muka yang di melas-melaskan.
"Jijik!" teriak Fildan langsung memukul kepala Pandu yang kebetulan sedang menghadap ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
cinta MENGAPA gengsi (Completed)
Ficção GeralJudul awal "MENGAPA" "Mengapa harus dia yang aku cintai?" "Mengapa aku bertemu dengan lelaki seperti dia?" --- Pertemuan yang terjadi pada dua insan yang berbeda sifat. Perbedaan itulah, yang membuat mereka merasa saling membutuhkan. Lelaki dengan...
